Doa Tulus Kedamaian
Land Of Don, sebuah pemukiman yang berada dilangit ke lima. Pemukiman tersebut merupakan tempat tinggal para penduduk langit yang damai dan rukun. Tempat ini juga dikenal dengan hawa religinya yang kuat. Setiap hari para penduduknya akan berdoa sesuai kepercayaan mereka di paviliun-paviliun indah yang berdiri megah di sudut-sudutnya.
Xiao Qiao, adalah nama seorang perempuan yang dikenal rajin memanjatkan doa di Paviliun Matahari, sebuah paviliun lama yang meski terlihat rapuh, namun energi di dalamnya masih terasa kuat. Di pagi yang cerah, bahkan sebelum matahari menampakkan cahayanya, Xia Qiao dengan semangat akan mengunjungi Paviliun Matahari. Sudah menjadi kegiatan rutin baginya, ia merawat dan membersihkan are Paviliun tersebut. Hal tersebut ia lakukan dengan sukarela, ucapnya dalam hati, ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur kepada sang Dewa.
Selain Xiao Qiao, ada pula Sun Ce, seorang pemuda yang juga akhir-akhir ini nampak rajin beribadah di Paviliun Matahari. Sejak beberapa hari ini para warga sudah mulai membicarakan akan kehadiran Sun Ce yang nampak rajin pula memanjatkan doa. Berbagai pujian mulai bermunculan dari mulut warga untuk Sun Ce.
Suatu ketika, pemukiman Land Of Don dilanda bencana besar. Mata Air Felicia, yang menjadi satu-satunya sumber air disana, tiba-tiba mengalami kekeringan. Sontak, para warga mengalami kepanikan bukan main. Mereka kemudian berkumpul di Balai Desa Land Of Don untuk berdiskusi. Disaat-saat kritis inilah, Sun Ce tanpa disangka-sangka melakukan inisiatif. Ia mengajak para warga untuk melakukan sebuah ritual pemanjatan doa. Berbeda dari ritual-ritual yang sudah ada. Ritual kali ini dilakukan sesuai dengan arahan yang diberikan Sun Ce. Ia menjamin bahwasanya ritualnya kali ini adalah satu-satunya cara agar para Dewa di atas sana mau mendengar doa mereka.
Namun, tampaknya usaha Sun Ce tersebut tidak semerta-merta diterima oleh oara warga. Zhang Fei, yang juga dikenal sebagai pemuda tangguh, dengan tegas menolak usulan ritual yang akan dipimpin Sun Ce tersebut. Pikirnya, mereka lebih baik melakukan usaha yang jelas dan nyata untuk menangani masalah kekeringan tersebut. Ia memberikan usulan untuk segera bekerja sama membangun jalur air baru, agar masalah tersebut bisa segera ditangani. Daripada hanya berdoa yang tidak pasti dan tidak berwujud manfaatnya.
Mendengar perbedaan usulan dari Sun Ce dan Zhang Fei, para warga terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengikuti kepercayaan mereka akan ritual baru usulan Sun Ce, sedangkan kelompok yang lainnya lebih mendengarkan usulan nyata dari Zhang Fei, yang menurut mereka lebih masuk akal dan logika.
Disaat perpisahan ini terjadi, disinilah Xia Qiao dan Diao Chan akhirnya ikut membantu. Mereka mencoba menenangkan warga desa. Xia Qiao melakukan pidato di depan para warga untuk mengingatkan kembali kepada mereka atas kepercayaan pada para Dewa. Ia menekankan bahwa para Dewa mendengar ketulusan dan bukan pertentangan seperti yang terjadi saat itu.
Akan tetapi di sore hari yang gelap itu, ternyata secara diam-diam kelompok Sun Ce melakukan ritual di depan Paviliun Matahari, yang digadang-gadang akan berhasil tersebut. Kelompok tersebut juga memaksa para warga yang lain untuk ikut dalam ritual. Suara doa-doa mulai terdengar disertai tarian-tarian baru. Ditengah tengah ritual Zhang Fei dengan tergesa-gesa datang menyerobot ke tengah, ia marah menyuruh Sun Ce untuk menghentikan ritual tersebut. Keributan pun terjadi antara kelompok Sun Ce dan Zhang Fei. Pada saat yang sama pula Xiao Qiao juga menyerobot ketengah ritual dan dengan kondisi terdesak, ia berusaha memanjatkan doa-doa . Doa Xiao Qiao bukan untuk menurunkan hujan, melainkan untuk melembutkan hati semua orang agar kembali rukun. Angin kencang tiba-tiba menerpa. Sun Ce yang tidak fokus hampi tertimpa runtuhan Paviliun yang roboh, untuk saja Zhang Fei berhasil menyelamatkannya. Sun Ce langsung tersadar akan kesalahannya, bahwa doa nya selama ini adalah demi penghormatan manusia dan pujian, bukan karena ketulusan kepada Dewa.
Setelah angin reda dan bentrok sudah selesai, Sun Ce akhirnya meminta maaf kepada para warga, termasuk Zhang Fei. Ia mengakui bahwa ia memaksakan ibadahnya demi pujian semata, bukan yang sungguh-sungguh. Setelah itu, dengan arahan Diao Chan, para warga berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, dengan dipenuhi ketulusan hati dan saling menghormati. Suasana haru dan damai sangat terasa pada momen tersebut. Terpaan angin diiringi lantunan doa warag-warga menyelimuti langit. Setelah itu, warga berbondong-bondong memperbaiki aliran sambil tetap berdoa. Beberapa hari kemudian, hujan turun menyegarkan Land Of Don. Paviliun Matahari kembali terang, menjadi tempat damai bagi semua orang untuk berdoa, tanpa paksaan. Para warga belajar bahwa ketulusan dan rasa saling menghormati adalah bentuk iman yang paling luhur.
Pesan Moral :
1. Hubungan manusia dengan tuhan harus lahir dari kepercayaan yang tulus, bukan untuk pujian atau karena paksaan.
2. Sebagai manusia berideologi Pancasila, kita tidak boleh memaksakan keyakinan kita pada orang lain. 3. Setiap orang bebas berkeyakinan, dan berhak dihormati.
BINTANG SANDI HAKIKI - 25080694113