Fasilitas Difabel yang Belum Maksimal Di Indonesia
By: pinterest
Fasilitas untuk penyandang disabilitas di Indonesia masih jauh dari kata layak, seperti jalur untuk kursi roda, toilet difabel, guiding block untuk tunanetra, bahkan akses transportasi khusus masih jarang ditemukan di tempat umum. Seakan akan fasilitas tersebut tidak terlalu penting untuk dibangun, padahal bagi penyandang disabilitas, fasilitas tersebut penting karena dapat membantu mereka beraktivitas dengan mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas belum menjadi prioritas di Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi semakin jelas ketika banyak bangunan modern. Namun desainnya tidak mempertimbangkan kemudahan akses untuk penyandang disabilitas, misalnya masih terdapat banyak tangga tanpa jalur landai, trotoar yang rusak atau dipenuhi oleh pedagang kaki lima, halte dan stasiun yang tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang difabel serta papan petunjuk yang tidak ramah untuk tunanetra. Kondisi tersebut membuat penyandang disabilitas tidak dapat menjalankan aktivitas mandiri dan harus bergantung pada bantuan orang
lain, padahal mereka sebenarnya mampu jika lingkungan mendukung kebutuhan mereka.
Penyandang disabilitas juga masih sering kesulitan untuk mendapatkan Pendidikan, layanan kesehatan dan pekerjaan. Sebagian masyarakat memandang disabilitas sebagai kondisi yang membuat seseorang tidak bisa bersosialisasi layaknya orang lain, padahal yang menjadi kendala utama bukan kondisi fisiknya melainkan lingkungan yang tidak mendukung dan kesempatan yang tidak diberikan kepada penyandang disabilitas dan pada akhirnya penyandang disabilitas tersisihkan dari kehidupan sosial dan ekonomi karena kurangnya dukungan dari lingkungan sekitarnya, padahal penyandang disabilitas pun dapat bekerja, belajar, berpergian dan bersosialisasi seperti orang lain.
Oleh karena itu saya berpendapat bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran bahwa fasilitas untuk difabel adalah kebutuhan penting untuk menjamin hak seluruh warga negara. Penyediaan jalur kursi roda atau toilet khusus bukan bentuk perlakuan Istimewa melainkan upaya agar penyandang disabilitas dapat hidup mandiri dan beraktivitas seperti orang lain. Selain perbaikan pembangunan, perubahan pola pikir masyarakat juga diperlukan, mulai dari yang awalnya memandang disabilitas sebagai keterbatasan menjadi cara pandang yang melihat disabilitas sebagai bagian dari keberagaman manusia.
Lingkungan sosial yang inklusif akan membuat mereka merasa dihargai dan diakui keberadaannya, bukan malah terpinggirkan. Dengan begitu, penyandang disabilitas juga dapat berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, bahkan pembangunan negara. Pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan juga perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Pemerintah harus memperketat regulasi pembangunan agar setiap fasilitas umum memenuhi standar aksesibilitas. Sekolah dan kampus harus menyediakan fasilitas dan pendampingan yang memadai untuk siswa atau mahasiswa difabel agar mereka bisa mengikuti kegiatan belajar tanpa hambatan. Tempat kerja juga perlu membuka kesempatan seluas-luasnya bagi penyandang
disabilitas karena kemampuan seseorang tidak dapat diukur hanya dari kondisi fisiknya.
Sumber:
• https://www.hipwee.com/feature/11-fasilitas-difabel-yang-masih-jarang banget-ada-di-indonesia-harus-segera-diperbanyak/#google_vignette • https://kumparan.com/shani-risnaeni-latifah/fasilitas-umum-yang-tidak umum-karena-kurangnya-aksesibilitas-bagi-disabilitas
21LKu8CYNVQ/full
• https://www.liputan6.com/disabilitas/read/5957050/akses-penyandang disabilitas-di-indonesia-masih-terbatas-tantangan-dan-harapan-menuju inklusi?page=4
• Sulitnya Aksesibilitas Layanan Umum untuk Penyandang Disabilitas - SUARA USU
• https://kumparan.com/kaylatbth/penyandang-disabilitas-masih-tersisih dan-fasilitas-publik-belum-ramah-difabel-25GqqRWehR4/full
Adela Salsabila Fantikasari - 25080694117