HARAPAN
Pada suatu pagi di tengah hutan Hakuten yang rindang, satu keluarga kelinci berkumpul di meja makan di dalam lubang bawah pohon, nampak satu kursi yang kosong, kursi Bu Ci yang tengah memasak makanan. Tak lama kemudian Bu Ci menghidangkan makanan di atas meja.
”Menu hari ini wortel goreng dan sup wortel kacang” ucap Bu Ci sembari menghidangkan makanan
”Waah jadi makin laper nih” sahut Pak Ci
”Jadi karena semua sudah duduk ayo kita berdoa bersama dulu sebelum makan, bismillahirrahmanirrahim Allahumma bariklana fima razaqtana wa qinaa 'adzaa bannaar. Aamiin..” lanjut Pak Ci
Namun ketika Pak Ci dan Bu Ci makan, Cici tak menyentuh piringnya sama sekali dan tampak murung. Bu Ci yang menyadari hal itu bertanya kepada Cici,
”Nak, kenapa kamu tidak makan? Apa kamu lagi ga enak badan?” tanya Bu Ci Tia tampak terkejut dan kemudian berkata,
”Ayah, ibu sebenarnya Cici ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya Cici mendapat undangan untuk bekerja mencabut wortel di kebun hutan Homien yang itu sangat jauh sekali dari Hakuten, padahal ayah dan ibu ingin aku tetap bekerja di dekat sini saja, Cici sebenarnya ikut program pelatihan ahli mencabut wortel agar bisa bekerja di kebun hutan Homien, tapi Cici juga ga akan bisa pergi tanpa izin serta ridho ayah dan ibu, jadi sebenernya Cici minta izin sama ayah dan ibu dan tolong dipikirkan dan dirundingkan baik baik” ucap Cici memohon penuh harap sembali telinga panjangnya menurun.
Sejenak suasana menjadi hening. Pak Ci dan Bu Ci saling menatap sepersekian detik.
”Kamu yakin dengan keputusan kamu itu? Sebenarnya kami hanya hanya khawatir sama kamu, karena kamu satu satunya yang kami punya Cici, kami ingin selalu menjaga kamu namun kami juga tidak bisa terus terusan memilih jalan untuk kamu, maaf kan ayah dan ibu karena belum bisa melepas kan kamu selama ini Cici. Sekarang keputusan ada di tangan kamu, ayah dan ibu akan selalu mendukung kamu” ucap Pak Ci pelan
Air mata Cici pun tak terbendung dikala itu, ia sangat bahagia karena telah berhasil mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini
”Terimakasih ayah, ibu” ucap Cici sembari menangis lega.
Nilai pancasila:
1. Berdoa menurut kepercayaan
2. Musyawarah mufakat
25080694012_Lovely Surya Winata