HARAPAN AKAN SEBUAH KEADILAN
Di kaki Gunung Cemerlang, terdapat sebuah desa yang subur dan tenang bernama Desa Harmoni. Desa ini terkenal dengan hasil pertanian yang melimpah dan pemandangan yang indah, dengan sungai yang jernih mengalir tenang di tengah sawah hijau dan hutan yang rindang. Namun, di balik keindahan itu, ada hal menyedihkan yang tersembunyi: tidak semua orang di desa ini bisa merasakan manfaat yang sama.
Ardi, seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang sederhana, tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah kecil di tepi desa. Setiap pagi, ia melihat sawah yang mulai menguning dan kebun buah yang penuh. Namun, ia selalu merasa heran melihat ketimpangan di sekitarnya. "Mengapa ada keluarga yang punya banyak tanah dan hidup nyaman, sementara yang lain harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?" pikir Ardi.
Suatu sore, Ardi duduk di bawah pohon jati besar bersama temannya, Budi, yang baru pulang dari ladang. Angin lembut menggerakkan daun, sementara matahari perlahan tenggelam di balik bukit.
"Aku merasa sedih, Bud. Melihat Pak Raji dan Pak Hasan punya hasil panen yang banyak, tapi tetangga di sebelah rumah kita, Pak Saman, masih sulit untuk makan setiap hari," ujar Ardi dengan serius.
Budi mengangguk sambil mengusap dagunya, "Iya, Di. Mereka yang punya tanah kecil atau bahkan tidak punya tanah harus bekerja keras sebagai buruh tani, hasilnya selalu pas pasan."
Ardi menghempaskan tangan ke tanah. "Kita harus mengubah ini, Bud. Kalau terus begini, desa ini akan semakin terpecah. Aku ingin semua orang bisa hidup dengan nyaman dan adil."
Pada hari berikutnya, Ardi mengajak sekelompok pemuda desa untuk berdiskusi di balai desa yang sederhana. Mereka membicarakan masalah ketimpangan yang terjadi dan
berencana untuk membentuk koperasi desa yang akan mengelola hasil panen secara bersama dan adil.
Ketika warga desa berkumpul untuk mendengarkan ide Ardi, suasana menjadi tegang. Pak Raji, yang punya tanah paling luas, berdiri dan bertanya dengan nada skeptis, "Anak muda, bagaimana kalau kami yang bekerja keras justru harus berbagi hasil kepada orang yang tidak bekerja? Apakah itu adil?"
Ardi tersenyum dengan percaya diri. "Pak Raji, keadilan itu bukan tentang siapa punya banyak atau sedikit, tetapi bagaimana kita memastikan semua warga desa mendapat kesempatan yang sama. Dengan berbagi, kita bukan kehilangan, tetapi bersama-sama mewujudkan kesejahteraan yang merata."
Pak Hasan, yang biasanya pendiam, pun angkat bicara, "Ardi benar. Selama ini kita hanya memikirkan diri sendiri. Jika kita bersatu dan saling membantu, desa kita akan semakin kuat dan sejahtera."
Satu persatu warga mulai mengangguk setuju. Dengan semangat baru, mereka membentuk koperasi desa. Setiap kali panen tiba, sebagian hasil dari tanah-tanah luas mereka disumbangkan ke koperasi. Dana itu digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan, membangun fasilitas umum, memperbaiki jalan, dan mendirikan sekolah agar anak-anak desa bisa mendapatkan pendidikan yang layak.
Suatu hari, Rosmawati, seorang ibu muda, mendatangi Ardi di pasar desa. "Terima kasih, Nak. Sekarang anakku bisa sekolah tanpa takut kekurangan biaya. Hidup di desa jadi berbeda," ujarnya dengan wajah cerah.
Ardi menjawab dengan ramah, "Ini bukan karena aku sendiri, Bu. Ini hasil kerja kita semua yang percaya bahwa keadilan sosial adalah kunci keberhasilan desa."
Berkat perjuangan dan kerja sama, beberapa tahun kemudian, Desa Harmoni berubah menjadi desa yang makmur. Desa ini tidak hanya kaya akan alam, tapi juga kaya akan persaudaraan dan keadilan. Anak-anak bermain riang di sekolah baru, jalan desa mulus bisa dilalui oleh kendaraan, dan masyarakat hidup rukun meskipun memiliki latar belakang sosial yang berbeda.
Ardi menatap desa dari bukit kecil di tepi desa, perasaan bangga terus mengalir dalam hatinya. Ia tahu, keadilan sosial bukan hanya kata-kata, tapi nyawa yang mengikat desa ini dalam harmoni yang abadi.
Cerita tersebut mencerminkan sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Pelajaran yang dapat dipetik ialah keadilan sosial berarti mendistribusikan kesejahteraan secara merata dengan sikap saling menghormati dan gotong royong, agar tidak ada warga yang tertinggal dalam kemajuan.
Salsabila Tanzali - 25080694122