Harimau Yang Malang
Di sebuah hutan yang damai, hiduplah sekelompok hewan yang selalu bersama. Ada Kancil, Kelinci, Gajah, Singa, Kura-kura, dan Harimau. Setiap hari mereka belajar, bermain, dan saling membantu tanpa memandang bentuk tubuh, kemampuan, atau kekuatan masing-masing. Bagi mereka, perbedaan adalah sesuatu yang justru membuat persahabatan semakin indah.
Suatu sore, setelah bermain petak umpet, Kancil mengajak teman-temannya berkumpul di pinggir sungai.
“Teman-teman! Besok kita ke sekolah bareng lagi ya?” serunya ceria. “Yuk!” jawab mereka kompak.
Keesokan harinya, semua sudah berkumpul kecuali Harimau dan Kelinci. Ketika keduanya akhirnya datang, Harimau tampak gelisah. Matanya berkedip-kedip, seolah mencoba melihat sesuatu dengan jelas.
“Kamu kenapa, Harimau?” tanya Kancil.
“Tidak apa-apa… aku hanya agak pusing,” jawab Harimau singkat.
Teman-temannya saling pandang. Mereka tahu ada sesuatu yang disembunyikan Harimau, tetapi mereka tidak memaksanya. Mereka melanjutkan perjalanan sambil bercanda, memastikan Harimau tetap merasa diterima.
Saat tiba di sekolah, kegelisahan Harimau semakin menjadi. Ketika pelajaran dimulai, ia memandangi tulisan di papan tulis dengan sangat dekat. Dahinya mengernyit, matanya menyipit, namun huruf-huruf itu tetap tampak kabur.
“Harimau?” bisik Singa. “Kamu tidak bisa lihat ya?”
Harimau menunduk. “Penglihatanku semakin buram akhir-akhir ini. Tapi aku takut ke dokter… aku takut harus pakai kacamata.”
Gajah menepuk bahunya lembut. “Tidak apa-apa memakai alat bantu. Itu bukan kekurangan. Itu membantu kamu belajar.”
Harimau tidak menjawab. Ia merasa cemas dan berbeda. Ia takut menjadi bahan ejekan, padahal sebenarnya teman-temannya tidak akan pernah melakukan itu.
Sepulang sekolah, Harimau tampak lebih murung. Ia terus memikirkan matanya. “Bagaimana kalau mataku rusak selamanya? Bagaimana kalau aku tidak bisa belajar lagi?” pikirnya. Teman-temannya berusaha menghibur, tapi Harimau tetap diam.
Malamnya, mereka bermain petak umpet di pinggir sungai seperti biasa. Saat Harimau bersembunyi di balik pohon besar, ia menemukan sebuah botol kecil berisi cairan bening. Tanpa tahu apa itu, ia meminumnya karena merasa haus. Setelah bermain, mereka pulang seperti biasa.
Namun malam itu Harimau merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kepalanya pusing hebat dan pandangannya semakin buram. Ia menangis, tetapi mencoba tidur dengan harapan keesokan hari semuanya membaik.
Pagi harinya, ketika membuka mata, Harimau terkejut.
Semua gelap.
Ia tidak bisa melihat apa pun.
“P-penglihatanku… kenapa gelap?” serunya panik sambil meraba-raba sekeliling. Ia menangis, ketakutan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Pandangannya benar-benar hilang.
Sementara itu, di pinggir sungai, teman-temannya menunggu. Sudah hampir 30 menit namun Harimau belum muncul.
“Harimau tidak biasanya terlambat,” kata Kura-kura.
“Ayo kita ke sekolah dulu, nanti pulang kita langsung ke rumahnya,” usul Kelinci.
Setelah belajar, mereka langsung berjalan ke rumah Harimau. Sesampainya di sana, mereka mengetuk pintu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Tiba tiba terdengar suara barang jatuh dari dalam rumah.
Tanpa berpikir lama, Gajah membuka pintu. Mereka masuk dan melihat Harimau duduk di lantai, menangis sambil memegangi wajahnya.
“Harimau!” seru mereka serentak.
“A-aku… aku tidak bisa melihat,” kata Harimau terbata-bata. Semuanya terkejut.
“Apa yang terjadi?” tanya Singa pelan.
Harimau menceritakan tentang botol yang diminumnya kemarin. Mungkin itu racun, mungkin itu cairan berbahaya. Ia tidak tahu.
Kancil memegang tangan Harimau. “Kamu harus dibawa ke dokter. Kita semua temani kamu. Jangan takut.”
“Tapi… kalau aku tidak bisa melihat semuanya… apakah kalian masih mau bermain denganku?” tanya Harimau lirih.
Kelinci tersenyum lembut. “Tentu saja. Kamu tetap Harimau yang kami kenal. Tidak peduli apakah kamu melihat atau tidak. Kita tetap teman.”
Gajah menambahkan, “Kalau kamu kesulitan berjalan, aku bisa menuntunmu.”
Kura-kura berkata, “Kalau kamu butuh waktu lebih lama memahami pelajaran, kami akan bantu.”
Singa tersenyum. “Tidak ada yang berubah. Kamu tetap bagian dari kami.”
Harimau terisak, bukan karena sedih, tapi karena lega. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar diterima apa adanya.
Beberapa hari kemudian, setelah diperiksa dokter, Harimau diberi alat bantu khusus untuk membantunya berorientasi dan bergerak. Ia mulai belajar membaca huruf timbul dan memakai tongkat kecil saat berjalan. Teman temannya selalu mendampinginya, bukan karena kasihan, tetapi karena mereka ingin memastikan Harimau bisa tetap merasakan keceriaan yang sama seperti sebelumnya.
Di sekolah, guru juga memberikan penyesuaian. Harimau duduk di dekat guru, mendapatkan materi dalam bentuk audio, dan diberikan waktu tambahan saat mengerjakan tugas. Semua hewan di kelas belajar tentang inklusi: bahwa setiap makhluk berhak belajar dan bermain tanpa diskriminasi.
Kini, meski tidak bisa melihat, Harimau tetap menjadi bagian aktif dari kelompoknya. Ia tetap ikut bermain petak umpet, kali ini dengan aturan yang disesuaikan agar semua bisa berpartisipasi. Mereka berlari bersama, tertawa bersama, dan memastikan tidak ada satupun teman yang merasa ditinggalkan.
Pada akhirnya, Harimau belajar bahwa kehilangan penglihatan bukan berarti kehilangan masa depan. Ia hanya membutuhkan cara baru untuk menjalani hidup, dan ia beruntung memiliki teman-teman yang menerima, mendukung, dan menghargai perbedaannya.
Ajeng Hanum F.H