Hukuman di Beranda
Namaku Maya. Di rumah papan kami, Bapak adalah undang-undang sekaligus hakimnya. Perintahnya adalah guntur di siang bolong. Mamak adalah pembela yang mencoba meringankan. Dan aku, terdakwanya hari ini. Semua gara-gara mandi di sungai. Sore tadi, aku seharusnya mengantar Dani, adik lelakiku, pergi mengaji ke surau. Tapi dipersimpangan jalan, Zaenab dan Rani, sahabatku, melambai dari kejauhan.
"Maya! Ke sungai, yuk! Airnya lagi bagus!".
Sungai adalah satu-satunya hal yang dilarang keras oleh Bapak. Katanya arusnya suka tiba-tiba deras. Tapi hari ini panasnya minta ampun.
"Dan, kau pergi sendiri, ya! Kak Maya ada urusan!" seruku.
Aku langsung berlari ke arah sungai, mengabaikan teriakan Dani. Aku baru pulang menjelang Magrib. Baju bagian dalamku masih terasa lembap, dan rambutku, walau sudah kucoba keringkan dengan handuk, masih basah di bagian pangkalnya. Aku menyelinap lewat pintu dapur. Di meja makan, Bapak sudah duduk. Tatapannya tajam.
"Dari mana, Maya?" suara Bapak berat.
"Dari masjid, Pak. Tadi bantu Ustadz Hasyim membersihkan halaman masjid" kataku, berbohong. Jantungku rasanya mau melompat.
"Kenapa rambutmu basah?"
Aku tercekat. "Tadi... tadi jatuh di selokan dekat masjid, Pak."
Dani, yang sedang mengunyah singkong, menatapku.
"Bohong, Pak! Kak Maya tadi mandi di sungai! Dani disuruh pergi sendiri!"
Kiamat. Mamak langsung mencolek paha Dani, tapi terlambat. Bapak meletakkan cangkir kopinya. Pelan.
"Maya," desis Bapak.
"Sudah berapa kali Bapak bilang, jangan pernah main di sungai? Kamu meninggalkan adikmu dan kamu berbohong sama Bapak."
"Pak, tapi..."
"Ambil bantalmu!" guntur itu meledak.
"Tidur di beranda malam ini!"
Mamak mencoba bicara.
“Pak, Maya itu perempuan. Angin malam...”
"Biar!" potong Bapak.
"Biar dia jera! Berani melanggar perintah, berani berbohong, harus berani dihukum!"
Aku menangis, tapi aku tahu melawan Bapak sama saja dengan menantang badai. Aku mengambil bantalku dan sarung Bapak yang paling tebal, lalu keluar ke beranda. Malam itu lebih dingin dari biasanya. Nyamuk berdengung seperti mengejekku. Aku meringkuk di kursi kayu yang keras. Aku kedinginan, kesal pada Dani, tapi paling takut pada Bapak. Dinginnya air sungai tadi sore sepertinya masih menempel di badanku. Entah jam berapa, aku terbangun karena badanku sendiri. Panas sekali. Menggigil hebat. Kepalaku pusing. Aku mencoba memanggil Mamak, tapi bibirku kaku. Pintu depan berderit. Aku mengira itu Mamak. Ternyata Bapak. Sosoknya yang tinggi besar itu berdiri kaku di pintu, menatapku di kegelapan.
"Maya?" suaranya terdengar cemas.
Bapak berjongkok. Tangannya yang kasar menyentuh dahiku. "Astaga! Panas sekali!"
Tanpa bicara lagi, Bapak langsung membopongku. Tubuhku terasa ringan sekali dilengannya. Ia membawaku masuk, merebahkanku di kasur.
"Mak! Mamak!" Bapak berseru panik.
"Anakmu demam tinggi!"
Mamak terbangun, langsung sibuk membuat teh jahe dan menyiapkan kompres. Tapi Bapak tidak pergi, dia tidak kembali tidur. Dia hanya berdiri canggung di sudut kamar, melihat Mamak merawatku. Wajahnya yang galak tadi sore, kini penuh dengan rasa khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan. Saat Subuh, demamku turun. Aku membuka mata. Aku melihat Mamak tertidur di kursi. Dan Bapak, hakimku yang galak itu, tertidur di lantai dekat kakiku, meringkuk sambil memeluk lututnya, seolah-olah dia yang sedang dihukum. Mamak terbangun dan tersenyum.
“Bapakmu itu,” bisik Mamak.
“Dia yang paling keras menghukum, tapi dia juga yang paling tidak bisa tidur kalau tahu kau kedinginan di luar. Diayang membopongmu tadi malam.”
Aku menatap punggung Bapak yang tertidur di lantai. Aku berjanji dalam hati, aku tidak akan pernah lagi membuat hakim itu cemas.
Pesan moral:
Cerita ini menunjukkan bahwa keadilan atau aturan yang ditegakkan Bapak (Sila ke-5) harus selalu beriringan dan dilandasi oleh adab dan rasa kemanusiaan (Sila ke-2). Hukuman ada batasnya, tetapi kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang paling tinggi.
Andi Kurniawan - 25080694164