Human Rights and the Treatment of People with Disability
Selama Perang Dunia I, realokasi sumber daya dari rumah sakit jiwa Jerman menyebabkan tingkat kematian yang lebih tinggi di antara penghuninya karena kelaparan dan penyakit (Mostert, 2002). Karl Binding dan Alfred Hoche menerbitkan karya berpengaruh mereka pada tahun 1920, yang memiliki tema tentang Permission for the Destruction of Life Unworthy of Life, pada karya tersebut menjelaskan bahwa hak untuk hidup bukanlah intrinsik; melainkan diperoleh melalui kontribusi ekonomi individu terhadap komunitas mereka (Hudson, 2011). Ide eugenika dan Darwinisme Sosial mendorong program sterilisasi wajib melalui Undang-Undang 1933, yang menargetkan kategori seperti keterbelakangan mental dan epilepsi, serta Undang-Undang Nuremberg 1935 yang melarang pernikahan. Pada awal abad ke-20 Rezim Nazi Jerman memanfaatkan sikap publik, keyakinan pseudosains, dan ketegangan ekonomi untuk mengancam kelompok minoritas seperti orang-orang dengan disabilitas fisik, intelektual, dan psikologis untuk menjadi sasaran mereka. Rezim ini juga membentuk 220 Pengadilan Kesehatan di mana seorang yuris dan dua dokter menentukan siapa yang akan disterilkan.
Pada awal 1800-an, Jerman adalah yang pertama menerbitkan undang-undang sterilisasi wajib untuk 'kebersihan sosial'. Undang-Undang untuk Pencegahan Keturunan yang Sakit Turunan, yang diberlakukan oleh rezim Nazi pada tahun 1933 sebagai salah satu tindakan resmi pertamanya, memerintahkan sterilisasi wajib terhadap kategori spesifik dari 'yang sakit turunan' (Mostert, 2002). Propaganda mempromosikan "pembunuhan belas kasihan". Pada tanggal 18 Agustus 1939, sebuah direktif dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Negara yang mewajibkan semua dokter dan bidan untuk mendaftarkan setiap bayi dengan "deformitas kongenital" atau "keterbelakangan mental" hingga usia tiga tahun (Mostert, 2002). Pada 1939, direktif memerintahkan pelaporan anak-anak dengan disabilitas hingga usia 16 tahun, yang kemudian dibunuh melalui racun, kelaparan, atau suntikan di bangsal khusus. Program pembunuhan anak-anak ini menetapkan proses birokrasi dan tenaga kerja yang bersedia yang diperlukan untuk tahap berikutnya dalam kampanye pemusnahan rezim Nazi: 'eutanasia' tidak sukarela terhadap orang dewasa dengan disabilitas.
Program Aktion T4 pada 1940 menargetkan orang dewasa dengan kondisi seperti skizofrenia, menggunakan gas karbon monoksida di kamar khusus. Operasi dimulai pada tahun 1940, dan penghuni rumah sakit jiwa diangkut dengan bus ke enam pusat pembunuhan yang tersebar di Jerman (Mostert, 2002). Setelah korban dibunuh, gigi emas dan jembatan gigi mereka diekstraksi sebelum kremasi massal (Mostert, 2002). Meski dihentikan secara resmi pada 1941 akibat protes publik, pembunuhan terus berlanjut hingga 1945, dengan total korban diperkirakan mencapai ratusan ribu, menunjukkan skala kekerasan terhadap penyandang disabilitas selama Holocaust.
Referensi :
Graham.L.J. (2024). Inklucive Education For The 21st Century Theory, Policy, And Practice. London & New York: Routledge (Taylor & Francis Group).
Nama : Yeyen Putri Sakinah - 24010044137