Jembatan Tiga Rumpun
Desa Suka Makmur adalah desa unik yang dihuni keluarga petani dipimpin oleh Pak Budi, keluarga perajin dipimpin oleh Pak Wayan, dan keluarga pedagang dipimpin oleh Pak Daud. Mereka hidup berdampingan, namun jarang berbaur dan sibuk dengan kelompoknya sendiri. Satu-satunya penghubung mereka ke pasar di seberang adalah jembatan kayu tua. Suatu malam, badai besar menerjang dan menghanyutkan jembatan itu. Keesokan paginya, kepanikan melanda desa. Mereka terisolasi. Kepala Desa segera mengumpulkan ketiga tetua.
"Kita harus membangun jembatan baru," ujarnya tegas.
Pak Budi angkat bicara, "Kita bangun lagi dengan kayu jati. Kuat dan sudah teruji."
Pak Daud menggeleng cepat. "Terlalu lama, Pak! Dagangan saya bisa busuk. Kita buat dari bambu saja. Cepat dan murah."
Pak Wayan tidak setuju. "Jembatan harus punya nilai seni. Kita bangun dengan pondasi batu dan ukiran khas."
Pak Budi tidak mau jembatan lemah, Pak Daud tidak mau menunggu lama, dan Pak Wayan tidak mau jembatan asal jadi. Selama seminggu, mereka berdebat tanpa hasil karena ego masing - masing. Akibatnya, anak-anak tidak bisa sekolah, hasil panen menumpuk, dan para pedagang merugi. Melihat kebuntuan itu, Kepala Desa mengumpulkan mereka. Kali ini, ia hanya meletakkan tiga batang lidi di atas meja.
"Satu lidi, mudah dipatahkan," katanya sambil mematahkan satu lidi.
Lalu, ia mengambil tiga lidi, mengikatnya jadi satu, dan mencoba mematahkannya, namun gagal.
"Badai itu tidak pandang bulu, entah kita petani, perajin, atau pedagang. Faktanya, kita semua terisolasi," kata Kepala Desa bijak.
"Kekuatan kita itu bukan karena kita seragam, tapi karena kita mau bersatu."
Pak Budi, Pak Wayan, dan Pak Daud langsung terdiam. Mereka sadar telah mementingkan ego kelompoknya sendiri.
"Oke," Pak Daud akhirnya buka suara.
"Kita butuh gerak cepat. Lantainya kita pakai bambu saja."
"Setuju," Pak Wayan menimpali.
"Tapi fondasi wajib kuat. Biar keluarga saya yang urus bagian batu dan ukirannya, biar kokoh sekaligus cakep."Pak Budi tersenyum.
"Dan keluarga saya siap suplai kayu jati terbaik untuk tiang utamanya. Kita kerjakan bersama."
Minggu itu juga, semua warga langsung turun ke sungai. Semua bergotong royong tanpa memandang asal rumpun. Dalam dua minggu, sebuah jembatan baru berdiri kokoh. Jembatan ini jelas lebih kuat dari jembatan yang lama, selesainya lebih cepat daripada jembatan batu, dan kelihatan lebih indah dari jembatan bambu. Jembatan itu mereka namai "Jembatan Tiga Rumpun", sebagai pengingat bahwa persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan terbesar mereka.
Muhammad Khresna Bijak - 25080694218