“Kami butuh dukungan”
Terdengar suara canda dan tawa di sebuah lorong ujung menuju ruang kelas yang sudah dapat ditebak bahwa sumber suara tersebut dari ruang kelas paling ujung yaitu ruang kelas 04.13.01. Mendengar sumber suara tersebut Bu Dinda selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Inklusif sangat bersemangat untuk segera masuk dan memulai pembelajaran dalam ruang kelas tersebut karena Bu Dinda sudah mengetahui bahwa hari ini
akan mengajar kelas 2022A selama kurang lebih 1 jam sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Bu Dinda berpendapat bahwa kelas 2022A adalah kelas yang kompak dan selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, Bu Dinda mengetahui bahwa semua mahasiswa kelas 2022A adalah mahasiswa yang ambis namun tetap memiliki adab sebagai mahasiswa kepada dosen dan orang yang lebih tua melalui kebiasaan-kebiasaan di kelas yang seringkali diperhatikan oleh Bu Dinda, tak hanya Bu Dinda namun dosen pengampu mata kuliah lain pun juga berpendapat bahwa kelas yang paling solid dan memiliki ambisi untuk mengerjakan tugas dengan baik di antara kelas yang lain adalah kelas 2022A. Hal tersebut terbukti saat adanya webinar pendidikan yang diadakan oleh Pimpinan Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Gama Taruna bahwa ada salah satu dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan menyebutkan bahwa kelas terbaik adalah kelas 2022A. Maka dari hal tersebut Bu Dinda yakin bahwa kelas 2022A akan memberikan kesan yang baik selama pembelajaran berlangsung. Tak lama Bu Dinda sampai di depan pintu ruang kelas dan tak disangka ternyata ada salah satu mahasiswa yang mengintip dari jendela ruangan sebut saja namanya Dani, Dani terkejut saat melihat Bu Dinda sudah ada didepan pintu ruang kelas, tanpa berlama-lama Dani bergegas untuk memberitahukan kepada teman sekelasnya bahwa Bu Dinda selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Inklusif sudah ada di depan dan hendak masuk ruang kelas. Suara langkah kaki berjalan dan suara bangku yang sedang dirapikan untuk proses presentasi kelompok agar tercipta pembelajaran yang nyaman terdengar oleh Bu Dinda saat membuka pintu ruang kelas, Bu Dinda tidak marah akan hal tersebut justru Bu Dinda kagum bahwa semua mahasiswa kelas 2022A peduli terhadap kenyamanan bersama dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakan selama 1 jam kedepan.
Pembelajaran pun dimulai dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Rizki selaku ketua kelas 2022A, setelah selesai berdoa, kelompok 8 selaku yang bertugas presentasi hari ini akan membawakan materi yang terkait dengan “Fasilitas Inklusif untuk ABK” mereka segera bergegas berdiri dan siap untuk memulai presentasi, seperti biasa moderator membuka presentasi dengan memaparkan latar belakang dan rumusan masalah pada topik “Fasilitas Inklusif untuk ABK” yang fokusnya pada “Apakah instansi pendidikan sudah memberikan fasilitas inklusif bagi siswa-siswi nya yang berkebutuhan khusus?” dan “apa saja tujuan dari fasilitas inklusif tersebut untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah? Apakah hanya disediakan tanpa tujuan?” semua sudah dibahas tuntas dan lugas oleh kelompok 8, mereka telah menjelaskan bahwa ternyata rata-rata instansi pendidikan negeri maupun swasta sudah menyediakan fasilitas inklusif , seperti toilet disabilitas, tangga rata untuk akses jalan kursi roda, tanda jalur jalan untuk siswa-siswa tunanetra, bahkan ada yang sudah membangun lift prioritas untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah. Apa yang sudah dijelaskan oleh kelompok 8 memiliki keterkaitan dengan tugas yang akan diberitahukan oleh Bu Dinda yaitu Tugas Observasi Fasilitas Inklusif di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di Kota Lapindo dengan kelompok yang sesuai dengan kelompok presentasi, setelah Bu Dinda menjelaskan teknis pengumpulan tersebut dan semua mahasiswa sudah paham dengan teknis yang
dijelaskan oleh Bu Dinda, Bu Dinda pun segera bergegas untuk meninggalkan kelas 2022A karena akan segera ke ruang dosen untuk rapat terkait dengan pembangunan taman di depan gedung Program Studi Teknologi Pendidikan.
Setiap mahasiswa sudah berkumpul sesuai dengan kelompoknya untuk membahas Sekolah Luar Biasa (SLB) yang akan mereka kunjungi yang ada di Kota Lapindo untuk tugas observasi, 30 menit berlalu ternyata kelompok 2 sudah menemukan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang akan mereka kunjungi yaitu di Sekolah Luar Biasa Arunaga yang jaraknya tak jauh dari Kampus, sedangkan kelompok lainnya belum menemukan dikarenakan banyaknya pertimbangan jarak yang akan ditempuh bagi sebagian mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan. Setelah mereka berdiskusi tak sadar 1 jam kelas sudah berlalu dan mereka segera bergegas pindah tempat diskusi di tempat lain karena ruang kelas 04.13.01 akan dipakai kelas lain untuk melangsungkan pembelajaran.
Pada hari Kamis pagi Andi selaku ketua kelompok 2 segera menuju ruang administrasi untuk mengambil surat dispensasi dan surat izin observasi Sekolah Luar Biasa (SLB), setelah Andi sudah mendapatkan surat surat yang dibutuhkan Andi segera menghubungi Dosen pengampu kelas pada mata kuliah Bahasa Daerah untuk memberitahukan pada hari ini tidak dapat mengikuti kelas dikarenakan adanya kegiatan observasi ke Sekolah Luar Biasa Arunaga, Andi telah mempertimbangkan bahwa kelas mata kuliah Bahasa Daerah hanya 1 jam dan tidak ada kegiatan pembelajaran dikarenakan minggu terakhir mereka telah melaksanakan ujian lisan pada mata kuliah Bahasa Daerah. Jadi kemungkinan besar dosen pengampu tidak masuk kelas, itu menjadi alasan kelompok 2 untuk melangsungkan kegiatan observasi pada hari Kamis pagi karena Sekolah Luar Biasa Arunaga memiliki peraturan bahwa hari Jumat, Sabtu, Minggu libur sekolah.
Sampailah mereka di Sekolah Luar Biasa Arunaga dan segera meminta izin kepada satpam yang berjaga untuk menyampaikan keperluan kami kepada tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut dengan keperluan ingin meminta izin untuk melakukan observasi terkait dengan fasilitas di Sekolah Luar Biasa Arunaga. 10 menit mereka menunggu di lobby sekolah akhirnya pak satpam mengizinkan untuk masuk ke ruang Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana. Tak disangka mereka disambut dengan baik dan diberikan izin untuk melakukan observasi pada kelas-kelas yang mereka ingin kunjungi untuk melaksanakan Observasi terkait dengan fasilitas yang ada di dalam kelas.
Setelah diajak keliling mereka langsung tertarik pada kelas A (Attractive) yang terlihat sangat ramai dan penuh canda tawa, setelah mereka dipersilahkan untuk masuk ke dalam kelas betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa dalam satu kelas ternyata banyak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan keterbatasan yang berbeda-beda seperti tuna daksa, tuna netra, tuna rungu, dan down syndrome dicampur menjadi 1 kelas. Sempat tak habis pikir dengan apa yang telah dilihat oleh mereka, namun untuk menjaga profesionalitas sebagai tamu mereka segera bergegas untuk mewawancarai guru yang ada di kelas tersebut dengan memperhatikan dan mendokumentasikan fasilitas yang ada di dalam kelas seperti toilet disabilitas, Flyer bahasa isyarat, Buku 3d yang dapat diraba dan dapat mengeluarkan suara jika dipencet, dan proyektor. Setelah mewawancarai guru kelas A, Andi pun selaku ketua kelompok memberikan saran untuk mewawancarai peserta didik juga apakah mereka
merasa difasilitasi kebutuhannya atau belum terfasilitasi, Irena selaku anggota kelompok yang bertugas untuk mengambil video dia tertarik pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang memiliki keterbatasan Tuna Daksa kata bu guru yang telah diwawancarai tadi, ia terlihat membaca buku dan duduk di kursi roda, tak berlama-lama Andi segera menghampiri anak tersebut untuk meminta izin apakah bersedia untuk diwawancarai atau tidak.
Setelah anak tersebut bersedia Andi melangsungkan wawancara terkait dengan apakah dia sebagai peserta didik sudah merasa terfasilitasi atau belum, sontak semua mata anggota kelompok saling berlirik saat mereka mendengar bahwa “suasana kelas dengan sistem campur seperti ini sama halnya dengan belajar tidak mendapatkan apa-apa, karena dari fasilitas yang tidak memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki keterbatasan yang berbeda-beda, guru nya pun acuh tak acuh pada siswa yang mengeluh kesulitan mendengar materi yang diajarkan saat beberapa anak lainnya ramai karena tantrum. Selain itu guru pun tidak memberikan tindak lanjut setelah memberikan materi untuk mengetahui hasil belajar pada hari ini” ujar Jelita selaku peserta didik yang memiliki keterbatasan Tuna Daksa yang bersedia untuk diwawancarai. Setelah mendengar keluhan Jelita, Andi bertanya “Apa fasilitas yang kamu butuhkan di dalam kelas ini?” Jelita hanya menjawab, “Saya hanya membutuhkan guru khusus untuk membantu saya keluar dan masuk dalam kelas ini, saya kesusahan jika saya harus mendorong kursi roda saya sendiri dan seharusnya dalam satu kelas tidak dicampur dengan anak yang memiliki keterbatasan yang berbeda-beda dikarenakan itu sangat tidak masuk akal untuk sekelas Sekolah Luar Biasa yang seharusnya lebih aware dan memberikan fasilitas yang memadai untuk peserta didiknya yang memiliki keterbatasan”.Lalu ditutup dengan motivasi dari Andi untuk Jelitas agar setelah observasi ini berlangsung Andi dan teman-temannya bisa mengusulkan kepada Wakil Sekolah bidang Sarana Prasarana tentang keluhan Jelita tadi yang sudah disebutkan terkait dengan fasilitas dan guru pendamping khusus anak disabilitas. Tak terasa 1 jam berlalu Andi dan teman-temannya pamit kepada guru kelas A (Attractive) untuk kembali ke kampus dan melanjutkan kegiatan yang lainnya.
Tiba waktunya presentasi kelompok 2 dengan penuh semangat dan antusias memaparkan hasil observasi yang sudah mereka lakukan di Sekolah Luar Biasa Arunaga, mereka memaparkan latar belakang, rumusan masalah, pembahasan, faktor pendukung dan faktor penghambat terkait dengan fasilitas yang ada di Sekolah Luar Biasa Arunaga, tak terasa tiba pada pembahasan poin faktor penghambat, Andi selaku ketua kelompok memaparkan bahwa dicampur nya peserta didik dengan segala latar belakang keterbatasan yang berbeda-beda dalam 1 ruang kelas tanpa ada pembatas nilainya kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran berlangsung karena akan merasa terganggu satu sama lain dan adanya ketidak cocokan suasana dan sistem belajar. Saat waktu berdiskusi Bu Dinda memberikan tanggapan bahwa beliau kaget dengan apa yang terjadi SLB yang dinilai dapat lebih aware dan care terhadap anak berkebutuhan khusus malah justru menciptakan suasana belajar yang tidak nyaman, namun Bu Dinda juga berpendapat bahwa apa yang kita pelajari secara teoritis itu tidak akan sama hasilnya di lapangan karena kurangnya dukungan dari orang sekitar untuk mewujudkan apa yang sebenarnya anak-anak berkebutuhan khusus butuhkan.
Karya: Fitri Dewi Amelia