Kasih yang Menuntun Langkah
Mentari perlahan muncul menampakkan hangat yang mulai menyelimuti umat manusia. Di tengah bisingnya klakson kendaraan yang bersahutan, tinggal sebuah keluarga sederhana. Pagi itu, Nares bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah seperti biasanya. Ia menatap sendu sepatunya yang sudah mulai robek pada bagian alas kaki. Warna hitam legam sudah tampak pudar, namun setiap pagi ia selalu menyemir dengan sisa semir yang Ia punya agar tampak lebih rapi.
Ibu yang sedang menyiapkan dagangan menatap Nares dengan lembut dan berkata, “Sabar ya nak, nanti kalau Ibu punya rezeki lebih kita beli sepatu baru, yang penting kamu semangat belajarnya.” Nares tersenyum menanggapi ucapan ibunya, “Sepatunya udah mau copot tapi masih bisa dipakai kok Bu.” Sang Ibu tampak tersenyum getir mendengar ucapan putri kesayangannya.
Nares berdiri dan menghampiri Ibunya, ia menunduk dan menengadahkan tangan untuk berpamitan kepada ibunya dan berkata “Ibu, Nares berangkat sekolah dulu ya.” Ibu Pun menganggukkan kepala menanggapi perkataan Nares.
Di sekolah, suasana mendadak ramai karena pada hari itu pihak sekolah Nares mengumumkan adanya lomba untuk memperingati hari ulang tahun sekolah, Nares tampak antusias ketika mendengar sekolah mengadakan lomba menulis cerpen antar kelas. Dan para pemenang akan mendapat satu set lengkap peralatan sekolah. Dalam hati kecilnya Nares menggumamkan semangat untuk dirinya agar bisa mengikuti lomba dengan sungguh-sungguh.
Setiap malam setelah membantu Ibu menyelesaikan pekerjaan, Nares menulis cerita di buku tulis yang tampak lusuh. Ia menulis tentang kehidupan sehari-hari, tentang rasa syukur, dan tentang doa seorang anak kepada Tuhan. Dan cerita itu ia beri judul “Rembulan Memeluk Malam.”
Beberapa hari kemudian, saat penilaian lomba berlangsung, Nares dipanggil oleh Pak Seno, guru Bahasa Indonesia. Di atas mejanya tergeletak selembar kertas kecil bertuliskan beberapa
kalimat yang mirip dengan isi cerita Nares. “Nares, ini catatan siapa? Ini ada di mejamu saat penilaian berlangsung,” tanya Pak Seno dengan nada lembut tapi tegas.
Nares terkejut. “Saya tidak tahu, Pak. Itu bukan milik saya.” Namun, Nicholas teman sebangku Nares tiba-tiba berkata lantang, “Pak, saya lihat Nares menulis sesuatu kemarin, mungkin itu contekan.” Semua mata tertuju pada Nares. Ia menunduk, batinnya mulai bergemuruh, hatinya perih. Ia ingin menangis, tapi hanya bisa berbisik dalam hati: “Ya Tuhan, Engkau tahu yang sebenarnya. Tolong beri aku kekuatan.”
Selama beberapa hari, Nares menjadi bahan bisik-bisik di sekolah. Ia tetap datang, tetap tersenyum. Dalam doa malamnya, Ia tidak meminta Tuhan membalas Nicholas, Ia hanya meminta agar kebenaran suatu hari terungkap. Dan benar, keajaiban kecil datang. Saat Pak Seno sedang memeriksa buku catatan Nicholas, Ia menemukan halaman dengan tulisan yang sama seperti catatan yang ditemukan di meja Nares. Pak Seno segera memanggil Nicholas dan menanyakan hal itu. Akhirnya Nicholas mengaku bahwa catatan itu miliknya, dan ia telah menuduh Nares karena malu ketahuan menulis ide yang sama.
Keesokan harinya, Nicholas menghampiri Nares di depan kelas dengan wajah menunduk. “Maaf ya, Nares karena udah nuduh kamu.” Nares tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nicholas. Aku sudah memaafkan. Semoga kita bisa belajar dari ini.”
Pak Seno yang menyaksikan kejadian itu merasa terharu. Ia menepuk pundak Nares. “Kamu anak yang jujur dan sabar. Tuhan pasti menyayangi orang seperti kamu.”
Tibalah disaat hari yang dinantikan Nares yakni pengumuman lomba HUT sekolah, dan ternyata Nares meraih juara 1 lomba menulis cerpen, Nares tak menyangka dan terus mengucap syukur kepada Tuhan atas segala hal yang telah Nares lalui, Sejak hari itu, Nares semakin yakin bahwa Tuhan selalu bersama orang yang sabar, jujur, dan berdoa dengan tulus.
Pesan moral:
Tetaplah berbuat jujur dimanapun kalian berada, selalu percaya terhadap Tuhan karena sesungguhnya Tuhan lebih lebih tau atas semesta dan seisinya
Nanda Hasna Salsabila - 25080694081