Kebaikan Tak Pernah Salah Jalan
Suatu hari di Aula salah satu Universitas di Indonesia dipenuhi orang yang sedang menyiapkan acara buka puasa bersama, serta shalat Magrib dan tarawih berjamaah. Karpet sudah ditata rapi, sound sistem telah dipasang, dan mahasiswa mulai datang, meskipun masih jauh dari waktu azan. Tiba-tiba, lampu aula padam, ruangan gelap dan menjadi ricuh sehingga membuat panitia panik.
Di tengah keramaian tersebut ada seorang bernama Deva, ia merupakan mahasiswa perantauan dari agama lain dari jurusan elektro sedang melewati aula menuju halte bus untuk pergi kerja sore. Deva sedang terburu-buru karena jika terlambat sedikit saja, gajinya akan dipotong, dan bulan itu ia sedang membutuhkan uang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rania, yang merupakan salah satu panitia yang juga merupakan teman deva langsung lari mendekatinya sambil berkata dengan cemas, "Dev, aku boleh minta tolong bantu cek listrik di aula ngga? Karena listrik tiba-tiba mati, sedangkan acara akan segera dimulai dan para panitia tidak ada yang bisa memperbaikinya." Deva terdiam sejenak, ia berpikir dan menimbang antara kebutuhannya sendiri atau membantu orang-orang yang hendak beribadah dan berkumpul dalam kebaikan. Setelah itu berpikir bahwa jika ia sedang beribadah atau menghadiri acara keagamaannya, ia pasti ingin melaksanakannya dengan nyaman, sehingga ia berkata, "Baik, aku coba bantu sebisaku ya.". Kalimat sederhana itu langsung membuat Rania sebagai panitia seperti mendapat harapan kembali.
Setelah mengecek, ternyata Deva menemukan ada kabel yang terputus. Ia menduga bahwa kabel tersebut putus karena terkena geseran meja saat panitia menyiapkan acara tersebut. Kemudian karena ia tak punya waktu lama, ia harus segera memperbaikinya dengan cepat. Setelah bekerja selama 30 menit, akhirnya lampu kembali menyala dan ruangan terasa hidup kembali. Ia mendengar suara orang-orang yang lega, kipas kembali berputar, suasana tenang kembali muncul. Rania menatap Deva dengan tulus, "Makasih, Dev.
Kamu sangat berjasa untuk keberhasilan acara ini, kami sangat berhutang budi.". Sembari berkata Rania juga menyerahkan satu kotak makanan sebagai bentuk terima kasihnya kepada Deva. Setelah menerima itu, Deva langsung bergegas pamit dan pergi.
Sesampainya di halte, Deva mendengar kabar yang mengejutkan, yaitu bus yang seharusnya ia tumpangi tadi telah mengalami kecelakaan di tikungan lampu merah. Kemudian Deva terdiam dan berkata dalam hatinya, "Kalau saja tadi aku tidak bantu Rania dan teman-temannya, pasti aku ada di bus itu." Dadanya terasa hangat, campuran rasa syukur dan lega yang sulit dijelaskan. Dari kejadian ini ia memahami suatu hal yaitu Tuhan membalas kebaikan kita dengan cara yang tidak pernah kita duga contohnya dengan menjaga kita tetap selamat. Mungkin awalnya hatinya sedikit menyayangkan upahnya yang terpotong, namun dari hasil bantuan ia berikan dan pelindungan yang Tuhan berikan padanya, ia sangat bersyukur. Dan sejak hari itu, Deva percaya bahwa menolong orang lain, meskipun yang ia tolong adalah orang yang berbeda keyakinan, itu bukan hanya sekedar bentuk empati dan toleransi tapi juga merupakan ibadah yang nilainya tidak kecil.
Felisha Rizqi Nugraha - 25080694115