Kebaikan yang Berbuah Manis
Di sebuah hutan yang lebat dan sejuk, hiduplah sekelompok peri kecil. Mereka tinggal di dalam rumah-rumah jamur berwarna-warni. Biasanya, mereka hidup damai dan saling membantu. Ketika ada acara, seperti ulang tahun atau panen madu, semua pasti diundang. Tapi suatu musim, datanglah kekeringan yang lebih panas dan panjang daripada biasanya. Tanaman-tanaman di hutan jadi layu, buah-buahan berjatuhan sebelum matang, dan persediaan makanan mereka menipis. Awalnya mereka masih saling berbagi, tapi lama-lama, rasa khawatir mulai muncul. Masing-masing keluarga peri mulai menyimpan makanannya sendiri-sendiri. “Jangan-jangan nanti buat kita sendiri saja nggak cukup,” pikir mereka.
Di antara mereka ada peri muda bernama Kinar. Suatu sore, dia melihat tetangganya, Mbah Gondo, peri tua yang hidup sendirian, terlihat lemah dan kurus. "Kasihan sekali," pikir Kinar. Akhirnya, Kinar memutuskan untuk mengunjungi Mbah Gondo. Dia membawa sebagian dari stok madu dan buah yang dimilikinya. “Mbah, ini saya bawakan sedikit makanan. Semoga Mbah bisa makan.” Mbah Gondo kaget. “Wah, tidak usah, Nak. Ini kan makananmu, kamu sendiri juga perlu.” “Nggak apa-apa kok, Mbah. Saya masih ada sedikit lagi,” jawab Kinar sambil tersenyum.
Tapi ternyata, ada beberapa peri lain yang melihatnya. Mereka malah berbisik-bisik. “Dia pasti cari perhatian,” kata salah satunya. “Iya, biar dikira baik. Atau mungkin mau dapat harta karun dari Mbah Gondo,” timpal yang lain. Kinar mendengarnya dan sedih. “Aku cuma mau bantu, kok malah dianggap seperti ini,” pikirnya dalam hati. Begitu sampai di rumah, dia cerita pada ibunya. Ibunya mendengarkan dengan sabar, lalu berkata, “Nak, membantu orang lain adalah perbuatan terpuji. Jangan sampai niat baikmu hilang karena perkataan orang.” Kinar mengangguk pelan. Dia merasa sedikit lega.
Keesokan harinya, dia kembali menemui Mbah Gondo, kali ini dengan membawa lebih banyak makanan. Dia juga mulai berpikir, “Bagaimana kalau kita bikin kebun bersama? Jadi semua bisa menikmati.” Dia pun mengajak peri-peri lain untuk kerja bakti. “Ayo, kita tanam bersama! Nanti hasilnya bisa kita bagi sama-sama.” Awalnya, hanya sedikit yang berpartisipasi. Tapi lama-lama, melihat Kinar tetap semangat dan rajin, peri-peri lain mulai
tertarik. Mereka membagi tugas: ada yang mencari bibit, ada yang menyiram tanaman dan ada juga yang menjaga dari hama. Mbah Gondo yang sudah mulai kuat juga ikut bantu. “Mbah bisa kasih saran-saran, soal tanaman Mbah sedikit tahu,” katanya.
Akhirnya, setelah beberapa minggu, kebun mereka tumbuh subur. Sayuran dan buah-buahan segar siap dipanen. Hasilnya cukup untuk semua. Peri-peri yang dulu mengejek Kinar sekarang malu. Mereka datang pada Kinar dan meminta maaf. “Kinar, maaf ya waktu itu kami salah sangka. Kamu ternyata tulus mau bantu.” Kinar tersenyum lega. “Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kita bisa bersama-sama lagi.” Sejak saat itu, mereka kembali hidup rukun. Kinar belajar, bahwa niat baik kadang memang diuji, tapi selama kita tulus dan sabar, kebaikan itu akan berbuah manis. Hutan mereka pun kembali damai, penuh tawa dan kebersamaan.
Nilai yang terkandung:
- Peduli kepada Sesama (Sila ke-2): Kinar memperhatikan keadaan Mbah Gondo yang kesulitan dan membantunya meskipun dirinya juga dalam kondisi sulit. - Gotong Royong (Sila ke-3): Para peri menanam kebun bersama dan berhasil menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak.
- Saling Memaafkan (Sila ke-5): Peri-peri yang awalnya bersikap negatif akhirnya mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Kinar juga menerima permintaan maaf mereka dengan lapang dada.
Shabrina Diah Lestari - 25080694075