Kekuatan yang Lahir dari Persatuan
Kota Paus, sebuah wilayah Indonesia yang dikenal dengan keberagaman budaya, menjadi tempat lahirnya Institut Nusantara. Institusi yang dikenal akan semangat dan intelektual mahasiswanya yang sudah diwariskan turun-temurun. Seluruh pelajar dari Sabang sampai Merauke berbondong-bondong mendaftar ke institusi ini, institusi impian anak bangsa. Saat memasuki musim panas, Institut Nusantara memiliki tradisi yang sangat dinantikan oleh mahasiswa, yakni ajang kompetisi berbagai cabang olahraga yang mempertandingkan seluruh angkatan mahasiswa yang ada di kampus tersebut.
Lapangan yang dihias semewah mungkin, koreografi, yel-yel, hingga nyanyian yang dilakukan dengan sepenuh hati merupakan representasi dari kebanggaan dan kesetiaan para pendukung dari setiap jurusan. Bagi mereka, kemenangan bukan hanya sebatas prestasi, tapi juga kehormatan dan harga diri untuk jurusan serta angkatan.
Di balik kemewahan dan semangat yang meramaikan acara tahunan ini, terdapat percikan api persaingan yang mulai membara. Jurusan Desain Mesin 25 dan Seni Mesin 25 dikenal sebagai jurusan yang sudah menjadi ‘rival’ dalam bidang akademik maupun non akademik sejak lama.
Rivalitas yang diwariskan turun-temurun akan mereka lanjutkan dengan semangat baru yang membara. Bukan hanya prestasi, tapi juga gengsi. Kekuatan dari masing-masing jurusan akan membuktikan siapa yang terbaik di lapangan, tak lupa dengan suporter yang selalu meramaikan isi dari stadion, membawa semangat yang bisa membangkitkan api perjuangan kepada tim mereka.
Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu telah tiba, pertandingan telah dimulai dan diramaikan oleh gemuruh dahsyat dari suporter masing masing jurusan. Namun, tak lama kemudian “Priiiiiiittttt,” terdengar suara peluit dari mulut wasit yang bisa menjadi pertanda baik maupun buruk bagi masing-masing tim. Bunyi melengking yang terdengar merupakan panggilan pelanggaran untuk tim Seni Mesin yang melanggar kapten dari tim Desain Mesin hingga cedera. Seketika suporter dari jurusan Desain Mesin hening dan khawatir sejenak sambil melihat keramaian yang terjadi di lapangan. Tak lama kemudian, kapten mereka dibantu oleh pemain lain untuk keluar dari lapangan. Seketika terjadi ledakan emosi yang sangat besar dari suporter Desain Mesin.
“WOI! KALAU MAU KASAR MAIN MMA AJA SANA!” cemoohan yang dilontarkan dari
pemimpin suporter Desain Mesin. Tak mau kalah, pemimpin suporter Seni Mesin membalas, “KALAU GAK MAU KASAR, MAIN BONEKA AJA SANA, AHAHAHAH!” Suasana pecah seketika, keributan dari dua sisi yang menggetarkan stadion terus berlangsung selama pertandingan berlangsung, hingga akhirnya tim Desain Mesin memenangkan pertandingan dan menyebabkan keributan yang semakin besar. Lontaran ejekan hingga ajakan perkelahian, masing-masing suporter terbawa emosi dan mulai hilang kendali.
Hingga akhirnya, kapten dari tim Desain Mesin masuk ke lapangan melalui lorong dan meminta mic kepada panitia yang bertugas. Seluruh gemuruh yang terdengar mulai mereda. Beribu pasang bola mata hanya terfokus pada satu objek, sang kapten.
Dia lalu menyampaikan orasi tentang bagaimana seharusnya seorang pendukung, mahasiswa, bahkan sebagai warga negara bertindak yang baik. Sang kapten maju dan dengan lantang berkata
“Teman-teman!” suaranya menggema sampai ke seluruh sudut lapangan. “Ingat, kita ini bukan hanya pemain atau pendukung. Kita adalah mahasiswa! Kita adalah individu yang kelak akan dibutuhkan oleh masyarakat!” Dengan nada yang lantang, suporter terdiam hening dan merenungi perkataan sang kapten.
“Mau jadi apa kita kalau gak bisa ngontrol emosi kita?” ia berhenti sejenak dan melihat ke arah suporter. Lalu ia pun melanjutkan, “Rivalitas hanya berlaku di lapangan! Di luar itu, kita adalah satu kesatuan, mahasiswa Institut Nusantara, dan kita adalah bangsa Indonesia!”
Penonton dari kedua pihak mulai menatap dan mendengarkan sang kapten dengan serius. Sang kapten melanjutkan, “Jangan sampai hal seperti ini memecah belah kita! Kita harusnya bersatu! Untuk kampus! Untuk negara kita!”
Suasana yang tadinya tegang mulai meluap dengan ramainya tepuk tangan dan sorakan kencang yang menunjukkan ekspresi kelegaan dan kebanggaan yang dirasakan pada saat itu. Sore itu, pemain dan suporter saling menjabat tangan dan berpelukan serta merayakan satu sama lain.
Di hari itu mereka sadar, dukungan itu lahir dari persatuan yang menjadi kekuatan. Itulah semangat sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.
Joseph Owen Pangaribuan - 25080694005