Kelas yang Lebih Lengkap
Angin pagi terasa kencang di halaman SMA Bintang Timur ketika Tania melangkah memasuki kelas X-2 untuk pertama kalinya sebagai mahasiswa PPL. Meskipun ia baru menginjak semester satu dan seharusnya hanya observasi, dosen pembimbingnya meminta ia untuk mencoba sehari mendampingi guru inklusi di sekolah tersebut. Degup jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Tania berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tak ingin mengecewakan siapapun.
Saat memasuki kelas, ia langsung melihat sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak. Di tempat duduk dekat jendela, seorang siswa laki-laki duduk dengan headphone peredam suara di kepalanya. Ia sibuk merapikan pensil-pensilnya berulang kali, seolah itu adalah ritual penting. Namanya Dimas, siswa dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) yang mendapat layanan inklusi di sekolah itu.
Di bangku belakang kelas, seorang siswi perempuan tengah berusaha membaca buku pelajaran dengan jarak sangat dekat. Sesekali ia mengerutkan dahi, berusaha keras mengikuti tulisan kecil di halaman. Itulah Laras, siswa dengan hambatan penglihatan ringan. Sementara itu, dua siswa lain duduk berdampingan dengan LKS khusus bercetak besar.
Taina menarik nafas panjang. “Baik, ini kesempatan belajar yang nyata,” gumamnya. Bu Maya, guru kelas sekaligus pendamping inklusi, tersenyum menyambutnya. “Taina, tugasmu sederhana. Amati, lalu bantu sebisamu. Di kelas inklusi, yang terpenting bukan kesempurnaan, tapi sikap menerima.” Kalimat itu menenangkan sekaligus mengunggahnya.
Pelajaran hari itu adalah Bahasa Indonesia, tugas para siswa adalah membuat deskripsi tentang tempat favorit. Bagi Taina, tampaknya sederhana, namun begitu ia melihat dinamika kelas, ia sadar setiap siswa membutuhkan pendekatan berbeda. Bu Maya membagi kelas ke dalam beberapa kelompok kecil. Taina mendapat tugas mendampingi kelompok Dimas, Laras, dan dua siswa reguler.
“Baik, kita mulai,” kata Taina sambil merendahkan posisi tubuh agar sejajar dengan mereka. Namun, Dimas memalingkan tubuhnya sambil berkata datar, “Aku tidak suka tugas ini. Terlalu banyak aturan.”
Taina terdiam sejenak. Dalam kuliahnya tentang pendidikan inklusi, ia ingat bahwa siswa dengan ASD cenderung lebih nyaman ketika tugas memiliki struktur yang jelas. Maka ia mengeluarkan kertas kosong dan menggambar empat kotak sederhana. Diantaranya adalah tempat, suara, warna, dan perasaan.
“Kita tidak akan langsung menulis. Kita isi kotak-kotak ini dulu. Mau pilih tempat yang kamu suka?” Dimas melihatnya sebentar. “Stasiun kereta,” jawabnya pendek. “Bagus. Tulis itu di kotak pertama.” .Jawab Tania. Respons Dimas berubah. Tiba-tiba tugas itu tampak lebih dapat dikendalikan.
Sementara itu, Laras masih kesulitan membaca instruksi. Taina menyadari tulisan di buku terlalu kecil. Ia mengambil lembar LKS dengan font besar dari meja Bu Maya. “Coba yang ini. Lebih jelas?” Laras mengangguk kecil, wajahnya berbinar, “Iya, Kak. Terima kasih…”
Siswa lain membantu dengan membacakan beberapa kata yang kurang jelas bagi Laras. Taina memperhatikan interaksi itu. Inklusi bukan hanya soal guru dan program, tapi soal budaya saling mendukung.
Saat kelompok bekerja, seorang siswa reguler bernama Riko berkata, “Kak, kenapa Dimas boleh pakai headphone? Sedangkan kita kalau pelajaran nggak boleh, kan?” Taina tersenyum lembut. “Karena setiap orang punya cara terbaik untuk fokus. Headphone membantu Dimas mengatur suara yang membuatnya tidak nyaman. Sama seperti kamu pakai bantal kecil di kursi supaya nggak pegal.” Riko mengangguk perlahan. “Oh… jadi beda bukan berarti curang ya?” “Bukan,” jawab Taina, “diferensiasi itu adil, bukan menyamaratakan.”
Kalimat itu terasa akrab baginya, itu materi yang ia pelajari minggu lalu. Baru sekarang ia memahami maknanya secara nyata.
Setelah 30 menit, Taina mengumpulkan hasil kerja masing-masing. Dimas menulis deskripsi yang sederhana namun penuh detail tentang stasiun kereta: suara roda besi, warna lampu kuning, perasaan tenang menunggu perjalanan. Laras berhasil menyelesaikan tulisannya dengan bantuan LKS besar dan teman sekelompoknya.
Ketika Taina hendak berdiri, Dimas menahan lengannya. “Kak, ini pertama kali aku selesai tepat waktu,” katanya tanpa ekspresi berlebihan, tapi suaranya jujur. Taina terkesiap. Kebahagiaan kecil itu terasa besar untuknya.
Usai pelajaran, Bu Maya mengajak Taina duduk di ruang guru. “Tadi kamu mengadaptasi tugas untuk Dimas, dan itu tepat. Dalam inklusi, adaptasi bukan mengurangi kualitas pembelajaran, tapi membuat semua siswa bisa belajar sesuai kebutuhannya.” Taina tersenyum malu. “Saya hanya teringat penjelasan dosen, Bu.” Bu Maya membalas senyumannya. “Di kelas, teori itu hidup. Dan kamu membuktikannya.”
Sore itu, ketika Taina berjalan keluar sekolah, ia merasa hatinya penuh. Pengalaman sehari itu memberi pelajaran yang jauh lebih bermakna daripada bab manapun di buku kuliah. Ia menatap halaman sekolah yang pelan-pelan sepi. “Kalau begini rasanya,” batinnya, “mungkin inklusi bukan sekadar mata kuliah. Tapi cara melihat manusia.”
Dan untuk pertama kalinya, ia paham betul bahwa sebuah kelas baru bisa disebut lengkap ketika setiap anak merasa mereka memiliki tempat, apapun perbedaannya.
Karya: Najwa Nabilla Suwarna,