Ketika Laporan Tak Kunjung Balance
Jam menunjukkan pukul 22.58. Di ruang kos yang sempit, tiga mahasiswa akuntansi yaitu Seira, Oliv, dan Dita masih bergulat dengan laporan keuangan perusahaan fiktif “PT Banyak Salah Hitung”. Besok pagi dikumpulkan, tapi angka di neraca belum juga balance.
“Loh, kok selisihnya dua juta lagi?!” seru Oliv, rambutnya sudah acak-acakan seperti laporan laba rugi mereka.
“Tenang, jangan panik. Mungkin angka depresiasinya belum masuk,” jawab Seira dengan mata setengah terpejam.
Ia sudah minum kopi dua gelas dan entah kenapa masih ngantuk. Sementara itu, Dita malah sibuk menghitung dengan kalkulator sambil bersenandung, “Debet kiri, kredit kanan, semoga dosen kita berkenan…”
“Dita, kamu ini mau bantu atau malah bikin lagu himne neraca?” protes Seira.
Dita nyengir. “Lagu ini buat semangat gotong royong kita. Kalau kerja bareng, pasti bisa balance!”
Akhirnya mereka bertiga bahu-membahu. Seira menginput data, Oliv mengecek saldo kas, dan Dita bertugas cari selisih. Di sela-sela kebingungan, mereka saling lempar candaan soal dosen yang katanya bisa tahu siapa yang ngerjain laporan lima menit sebelum dikumpulkan.
“Bayangin kalau beliau tiba-tiba nanya jurnal penyesuaian,” kata Seira sambil menahan tawa.
“Udah pasti aku jawab: disesuaikan dengan keadaan hati saya,” balas Dita cepat.
Mereka tertawa sampai lupa waktu. Tiba-tiba Oliv berteriak, “YES! Balance!” setelah menambahkan angka kecil yang terlewat di kolom beban listrik. Mereka saling tos dengan semangat nasionalis yang luar biasa.
Seira bahkan berdiri dan berkata dengan gaya orasi, “Inilah makna persatuan sejati bukan Cuma di neraca, tapi juga di hati mahasiswa akuntansi!”.
Mereka bertiga menatap layar laptop dengan bangga. Tapi lima menit kemudian, Dita mendadak terdiam.
“Eh... tapi ini kan perusahaan jasa, kok ada persediaan barang dagangan ya?”
Hening. Lalu mereka bertiga tertawa keras. Malam itu, di tengah tumpukan kertas, gelas kopi, dan angka yang tak selalu logis, mereka belajar bahwa persatuan dan kerja sama bukan Cuma teori Pancasila, tapi juga penyelamat bagi mahasiswa akuntansi yang hampir putus asa. Angka boleh salah, tapi kebersamaan mereka tetap balance selamanya.
Pesan Moral:
Melalui malam panjang yang penuh tawa dan kebingungan, Seira, Oliv, dan Dita belajar bahwa kekompakan adalah kunci keberhasilan. Seberat apa pun tugasnya, ketika dikerjakan bersama dengan saling menghargai dan saling membantu, semuanya terasa lebih ringan. Nilai persatuan bukan hanya tentang menjaga keutuhan bangsa, tapi juga tentang menjaga semangat kebersamaan di lingkup kecil seperti di ruang kos mahasiswa yang penuh tumpukan kertas dan gelas kopi.
Di sanalah makna sila ketiga Pancasila hidup sederhana: bersatu, saling mendukung, dan tidak menyerah sampai semuanya benar-benar balance baik angka, usaha, maupun persahabatan mereka.
Keisya Safinka Jasmine - 25080694277