Ketulusan Seekor Cira
Di gang sempit belakang pasar, hidup seekor kucing kecil bernama Cira. Dulunya Cira adalah kucing kesayangan pemiliknya namun sekarang ia dibuang begitu saja karena kondisinya yang sudah buruk. Bulu Cira itu abu kusam, matanya sayu, telinganya sobek dan kakinya pincang yang membuatnya tak bisa memanjat tinggi di pohon. Pokoknya Cira tuh kayak kucing jalanan yang ga terurus gitu lah. kalau kelaparan ia akan mencari makan menyusuri jalanan di pasar berharap dapat sisa maknan dari pedagang di pasar dan tidur di sembarang tempat.
Kucing-kucing pasar lain sering mengejek bahkan terkadang ada yang menendangnya karena ia tidak bisa berlari cepat dan memanjat. "Dasar yaa udah penyakitan lemah pula, kamu itu hidup buat apa sih Cira?!" ucap Nara salah satu kucing belang dengan rupa menawan dan bulu yang indah. Omongan Nara menusuk hati Cira. Sebenarnya Cira ingin marah. Namun ia sadar bahwa kondisi tubuhnya memang seburuk itu. Cira hanya bisa tersenyum tipis lalu pergimeninggalkan Nara.
Pada suatu malam terjadi hujan badai. Pasar yang biasanya ramai kala itu menjadi sunyi. Terpal para pedagang tertiup angin kencang. hujan deras membuat salah satu atap toko jatuh. Cira kedinginan dan berteduh di bawah gerobak sayur. Tak lama kemudian terdengar suara samar, suara itu putus-putus hampir tidak terdengar karena suara petir yang menggelegar. Cira menajamkan pendengarannya.
"Miaww.. Tolong akuu siapapun yang ada disana tolong aku"
Suara itu berasal dari dalam toko. Dengan tubuh yang basah kuyup, Cira berjalan tertatih menghampiri suara itu. Dia melihat Nara terjebak di dalam reruntuhan. Nara menangis ketakutan sambil minta tolong
"Cira tolong aku.."
Meskipun Nara sering mengolok olok dan menindasnya Cira tidak berpikir dua kali untuk menyelamatkan Nara. Tubuh Cira mungkin lemah namun hati nuraninya tidak. Ia menggigit tengkuk Nara mencoba menyeretnya keluar dari reruntuhan. Setelah beberapa menit Cira berhasil mengeluarkan Nara dari reruntuhan. Sayangnya kaki Nara cidera akibat reruntuhan itu. Ia bahkan jadi tidak bisa berjalan.
"Aduhh kakiku sakit banget" Nara merintih kesakitan.
Nara meminta Cira untuk meninggalkannya saja. Cira menolak ia menggigit tengkuk Nara dan membawanya ke tempat berteduh dengan kakinya yang pincang. Beberapa saat kemudian mereka tiba di bawah meja pedagang. Naramengucapkan banyak terima kasih pada Cira karena telah menyelamatkannya. Ia menyesal atas perlakuan buruk yang telah ia lakukan pada Cira. Kucing yang dulu ia hina malah menyelamatkan hidupnya. Ia pun meminta maaf kepada Cira karena perbuatan buruknya. Waktu telah berlalu perlahan kondisi Cira mulai membaik. Bulu kusamnya kini tumbuhkembali meskipun tak seindah kucing lain, matanya kini berkilau hangat. Nara akhirnya sadar bahwa kekurangan seseorang tidak untuk dijadikan bahan ejekan atau olokkan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ketulusan dan Keberanian tidak datang dari tubuh yang kuat tetapi dari hati yang bersih. Sejak kejadian itu hubungan Cira dan Nara menjadi lebih dekat mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama dan saling menjaga satu sama lain. Mereka berdua sekarang jadi sahabat yang tak terpisahkan.
Pesan Moral :
Dari cerita ini, kita belajar bahwa kebaikan tidak perlu memandang dari kekurangan atau penampilan luar seseorang. “yang lemah bukan berarti tak berharga. Terkadang mereka mempunyai keberanian yang tidak semua orang mampu miliki”.
Nilai Pancasila yang terkandung :
Cerita ini mencerminkan sila kedua Pancasila, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab” karena pada cerpen ini tokoh Cira tetap mau menolong Nara meskipun dulu sering dihina. Hal tersebut menunjukkan sikap empati, kemanusiaan dan saling menghargai makhluk hidup. Tokoh Nara juga menunjukkan kesadaran moral dan penyesalan atas perilaku dan perbuatannya yang termasuk dalam bagian perilaku yang beradab.
Yumna Septi Budiarso - 25080694296