Kita Semua Sama
Hari senin tiba, hujan turun deras sore itu. Halaman kampus seketika penuh dengan genangan air dari hujan yang turun sore ini. Di depan gedung fakultas ekonomi dan bisnis, ada beberapa mahasiswa berdiri berdesakan di bawah atap yang sedang menunggu hujan reda.
“Duh, pasti telat rapat nih,” Kata Reyva, mahasiswi asal Makassar, sambil memeluk tasnya.
Di sampingnya ada Johan dari Jawa memegang payung yang sudah agak rusak.
“Kalau mau, nebeng aja payungku,” kata Johan.
Reyva sempat ragu tapi akhirnya ikut berjalan bersama dengan Johan. Mereka berdua tertawa kecil saat air hujan menetes lewat sobekan payung Johan.
“Payungmu udah kayak saringan teh,” ucap Reyva.
Johan ikut tertawa. Tak lama kemudian, mereka melihat dua mahasiswa lain berdiri kedinginan di depan kantin fakultas, ternyata ada Givic yang berasal dari Bali dan Sinta dari Papua. Tanpa pikir panjang, Reyva mengangkattangannya.
“Hey kalian ayo bareng saja sini!”
Mereka berempat pun berjalan berdesakan di bawah payung yang sudah agak rusak itu. Bahunya saling bersenggolan satu sama lain, dan tawa kecil mereka terdengar di tengah derasnya hujan yang sedang turun itu. Sesekali Givic menirukan logat Johan, lalu Sinta menirukan logat Reyva yang sedang berbicara itu. Mereka saling menggoda tanpa merasa berbeda.
Akhirnya mereka tiba juga di gedung rapat, baju mereka sama-sama basah, namun suasananya hangat karena tidak ada perbedaan yang timbul diantara mereka. Di ruang rapat ada meja panjang dan kursi, mereka duduk bersebelahan dan mulai membahas rencana kegiatan kampus. Tidak ada lagi perkataan yang menyebutkan “aku dari sini” atau “kamu dari sana.” Semua yang ada disitu hanya berkata, “kita.”
Setelah rapat selesai, sekitar pukul 8 malam hujan yang tadinya deras sekarang sudah mulai reda. Johan menatap payung bolongnya, lalu ia mengucap
“Ternyata payung rusak juga bisa nyatuin orang, ya, Rey”
Reyva tersenyum mendengar apa yang Johan ucapkan.
Pesan Moral:
Pesan moral yang ada dalam cerpen tersebut adalah dari manapun kita berasal entah dari sabang sampai merauke, kita berbeda suku, bahasa, adat, namun kita semua adalah makhluk hidup yang bisa diartikan kita semua sama yang memiliki satu tujuan. Persatuan tidak lahir dari kesamaan, namun dari kemauan untuk berjalan bersama di tengah perbedaan yang ada. Itulah makna sejati dari sila ke-3 “Persatuan Indonesia” yang artinya kita harus bersatu tanpa membedakan satu sama lain.
Reyva Christiana Aulyna - 25080694305