“Komunikasi Itu Banyak Caranya”
Di sebuah kampung kecil yang diberi nama Munjung, tinggallah seorang bocah laki-laki bernama Satria. Usianya baru sepuluh tahun, dengan rambut gelap yang sering kusut dan sepasang mata yang selalu dipenuhi rasa penasaran. Satria tinggal bersama sang ibu, seorang pengajar di sekolah dasar yang tak pernah lelah mendorongnya untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Setiap subuh, Satria terbangun penuh semangat, walaupun ia sering kali merasakan bahwa dunia sekitarnya sedikit berbeda. Ia tak pernah menangkap suara kicauan burung di pagi hari, atau gelak tawa kawan-kawannya yang bermain di pekarangan rumah. Namun, ia mampu merasakan getaran langkah ibunya di lantai papan, atau detak jantungnya sendiri yang berdegup cepat ketika ia bahagia. Sekolah yang menjadi tempat belajar Satria adalah Sekolah Dasar 1 Munjung, sebuah institusi yang terkenal karena pendekatannya yang khas. Di sana, semua murid baik yang lincah berlari, yang mahir melukis, atau yang punya metode komunikasi pribadi diterima dengan hangat. Para pendidik di sekolah tersebut meyakini bahwa setiap anak memiliki gaya belajar dan kontribusi yang unik. Satria sangat menyukai lingkungannya itu, karena ia merasa seperti anggota keluarga besar. Ia duduk di kelas yang ramai dengan teman-teman lainnya, dan meskipun ia tak selalu mampu mengikuti obrolan yang kilat, ia mulai mengandalkan tangannya sebagai sarana berkomunikasi.
Suatu ketika, kelas Satria diberi tugas membuat proyek berkelompok tentang alam sekitar. Guru mereka, Bu Sari, membagi siswa menjadi beberapa tim. Satria ditempatkan dalam satu kelompok dengan tiga sahabatnya yaitu Nizar, yang riang dan jago bercerita kemudian Tari, yang gemar membuat peta atau gambar dan Celly, yang pandai berhitung. Mereka harus menyusun poster tentang hutan di dekat kampung mereka. Satria sangat bersemangat, sebab ia tahu ia bisa turut serta dengan cara khususnya. Ia tak mampu menangkap arahan Bu Sari secara langsung, tapi ia memperhatikan gerakan bibir guru itu dan belajar membacanya. Di rumah, ibunya
mengajari bagaimana tangannya bisa digunakan untuk berkomunikasi nantinya, dan kini teman-temannya mulai mempelajarinya juga.
Pertemuan awal kelompok terjadi di lapangan sekolah usai jam belajar. Nizar memulai dengan antusias, “Kita bisa gambar pohon-pohon dan hewan di hutan!” Tari mengiyakan dan mulai membuat sketsa di kertas. Celly menghitung jumlah pohon yang perlu digambar. Satria, yang duduk di tengah mereka, merasa agak kesulitan. Ia tak bisa menangkap kata-kata Nizar yang cepat, tapi ia melihat tangan Nizar yang bergerak. Dengan teliti, Satria mengangkat tangannya dan mulai merakit kata dengan tangannya itu secara sederhana seperti menunjuk ke arah hutan dan menggambar pohon dengan jarinya di udara. Nizar melihat itu dan tersenyum. “Wah, Satria, kamu mau gambar pohon besar itu?” tanya Nizar, sambil menunjuk ke tempat yang sama. Satria mengangguk gembira. Ia merasa teman-temannya mulai paham maksudnya. Mereka mulai belajar berkomunikasi dengan Satria melalui gerakan tangan sederhana. Tari, yang semula bingung, belajar menulis kata-kata di kertas
supaya Satria bisa membacanya. Celly, yang suka angka, membantu Satria dengan menghitung menggunakan jari-jari tangan untuk menunjukkan jumlah.
Pada hari itu, mereka berhasil menyelesaikan sketsa awal poster mereka. Satria merasa senang, karena ia bisa ikut berkontribusi tanpa merasa aneh. Di sekolah ini, tak ada yang dipaksa seragam semua belajar menyesuaikan diri. Namun, tantangan muncul saat mereka harus mempresentasikan proyek di hadapan kelas. Bu Sari menyatakan bahwa setiap tim harus menceritakan poster mereka. Satria merasa cemas. Ia tahu ia tak bisa menangkap tepuk tangan atau komentar teman-temannya, tapi ia ingin terlibat. Malam sebelum presentasi, ibunya membantu Satria berlatih. “Pakai tanganmu, Nak,”kata ibunya sambil memperagakan gerakan. “Teman-temanmu akan belajar memperhatikanmu.” Imbuh ibu satria. Satria berlatih di depan kaca, membuat kata-kata dengan tangannya itu seperti “hutan”, “pohon”, dan “hewan”. Hari presentasi pun tiba, kelompok Satria maju ke depan kelas. Nizar memulai bicara, “Ini poster tentang hutan kita!” Tari memperlihatkan gambarnya, dan Celly menjelaskan angka-angka. Saat giliran Satria, ia berdiri dan mulai membuat gerakan sederhana dari tangannya. Ia menunjuk poster, menggerakkan tangannya seperti pohon yang bergoyang, lalu membuat gerakan seperti hewan berjalan. Kelas diam sejenak, tapi kemudian Nizar menerjemahkan, “Satria bilang hutan itu penuh dengan pohon dan hewan!” Teman-teman mulai tersenyum dan bertepuk tangan. Beberapa anak bahkan meniru gerakan Satria, untuk belajar gerakan tangan seperti Satria. Satria merasa hatinya menghangat. Ia tak lagi merasa kesepian.
Pada suatu ketika sekolah menyelenggarakan festival tahunan, dan semua anak ambil bagian dalam berbagai acara. Festival itu menjadi momen puncak bagi Satria. Karena ia ikut memeriahkan acaranya dengan berperan sebagai pohon, dan juga membantu teman-temannya mempersiapkan panggung. Ia merasakan getaran musik yang dimainkan oleh band sekolah, meski ia tak tau bunyi yang sesungguhnya itu seperti apa. Getaran itu membuatnya bergoyang, seolah-olah pohonnya hidup. Setelah pertunjukan, banyak orang tua mendekati ibu Satria, bertanya tentang gerakan tangan yang digunakan anaknya. “Itu bahasa yang indah,” kata salah satu ibu. “Anak-anak kami belajar banyak dari Satria.” Imbuh salah satu wali murid. Namun Festival tahunan ini bukan akhir bagi Satria, melainkan awal untuk dirinya bisa berkembang. Setelahnya, sekolah mengadakan workshop kecil tentang komunikasi nonverbal. Satria menjadi bintang tamu, mengajari teman-temannya isyarat dasar. Ia merasa bangga, karena kini ia bukan lagi yang “berbeda”, tapi yang “unik”. Teman-temannya mulai menyesuaikan dengan gerakan-gerakan tangan dalam permainan sehari-hari, seperti saat makan siang atau bermain di taman. Satria juga bergabung dengan klub teater sekolah, di mana ia memerankan berbagai karakter dengan gerakan tangannya itu. Penonton, termasuk orang tua dan penduduk kampung, terkesan. Mereka menyadari bahwa Satria dengan perbedaannya tetap menjadi bagian penting dari komunitas. Ibunya, yang duduk di barisan depan, tersenyum bangga. “Anakku telah menemukan tempatnya,” batinnya. Satria bahkan mulai belajar bahasa formal, bermimpi menjadi penerjemah untuk orang-orang seperti dirinya
Di rumah, Satria sering berbagi pengalamannya dengan ibunya. Ia menceritakan bagaimana teman temannya kini lebih sabar, bagaimana mereka belajar menulis pesan di kertas ketika ia kesulitan memahami gerakan bibir. Ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil memeluknya kemudian berkata “Kamu tahu, Nak, dunia ini penuh dengan cara untuk terhubung. Kamu telah membuka pintu bagi banyak orang.” Satria mulai bermimpi besar. Ia ingin belajar lebih banyak bahasa meskipun bahasa yang keluar bukan dari mulutnya.
Ia membayangkan dirinya sebagai jembatan antara dunia yang ia rasakan dan dunia yang didengar teman temannya.
Namun, perjalanan Satria tidak selalu mulus. Ada saat-saat ketika ia merasa frustasi. Karena pada suatu hari di kelas olahraga, teman-temannya bermain bola dengan antusias, berteriak dan tertawa. Satria ikut berlari, tapi ia tak bisa mendengar instruksi pelatih. Ia melihat gerakan tangan pelatih yang menunjuk arah, tapi sering kali salah paham. Suatu kali, ia berlari ke arah yang salah, membuat teman-temannya tertawa. Nizar mendekatinya, menepuk bahunya, dan menunjukkan gerakan tangan sederhana untuk “kiri” dan “kanan”. Dari hari itu, kelas olahraga menjadi lebih inklusif pelatih mulai menggunakan isyarat tambahan untuk semua anak. Satria juga belajar membantu teman lain. Ada seorang anak bernama Leddy, yang kesulitan membaca karena penglihatannya lemah. Satria, dengan imajinasinya, membantu Leddy dengan membuat gambar-gambar sederhana untuk menjelaskan pelajaran. Ia menggabungkan isyarat tangan dengan gambar, menciptakan cara komunikasi baru yang membantu Leddy. Bu Sari melihat ini dan memuji Satria. “Kamu seperti guru kecil kami,” katanya sambil tersenyum. Di sekolah ini, inklusi bukan sekadar kata-kata, namun ada praktik yang tercipta dan dirasakan. Guru-guru seperti Bu Sari selalu mengingatkan bahwa setiap anak punya kekuatan khusus. Satria, dengan caranya sendiri, telah mengajari teman-temannya tentang kesabaran dan imajinasi.
Satria merasakan getaran angin, dan tersenyum karena ia tahu, dunia ini penuh dengan jembatan yang menunggu untuk dibangun. Dalam kisah hidup Satria, inklusi bukan tentang menyamakan semua orang, tapi tentang menghargai keberagaman. Satria tumbuh menjadi bocah yang percaya diri, yang tahu bahwa dunianya berbeda tapi, sama berharganya. Ia mengajari semua orang bahwa berkomunikasi melampaui kata-kata yang didengar, dan terletak pada usaha untuk memahami satu sama lain. Inklusi bukan tentang menyamakan semua orang, tapi tentang menghargai keberagaman. Ia belajar bahwa batasan bukanlah akhir, melainkan cara baru untuk terhubung.
Oleh: Prika Aprilia Abu Tari