Kopi, Doa, dan Toleransi di Kantor Harmoni
Pagi itu, aroma kopi, dan roti memenuhi ruangan kantor dilantai tiga, tempat tim desain Harmoni Studio bekerja. Tim mereka memang tidak banyak, namun mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada Rina, perempuan berhijab yang selalu tiba lebih awal. Bima, pemuda Katolik yang selalu membawa keceriaan. Sanjaya, pria Hindu yang rajin sembahyang di pojok kantor. Lina, gadis penganut Buddha yang lembut. Dan terakhir ada Meilin, cici-cici Tionghoa penganut Konghucu yang penuh semangat dan sedikit perhitungan.
Meski berbeda keyakinan, suasana kantor mereka selalu hangat dan penuh kekeluargaan. Rina pernah bercanda bahwa Tuhan mungkin sengaja mempertemukan mereka untuk belajar hidup berdampingan dengan damai. Saat jam istirahat, mereka sering makan siang bersama di pantry sambi membahas hal-hal ringan.
Suatu hari, perusahaan mereka mendapat proyek besar dari klien luar negeri dengan tenggat waktu terbatas. Semua anggota tim harus bekerja lembur selama seminggu penuh, Namun, jadwal ibadah mereka membuat situasi jadi rumit. Rina yang harus pulang cepat untuk pengajian malam Jumat. Bima tidak bisa lembur pada hari Minggu karena kebaktian gereja. Sanjaya sedang mempersiapkan hari raya Galungan. Lina punya kegiatan di Wihara pada Sabtu pagi. Dan Meilin akan mengikuti sembahyang leluhur di kelenteng pada Kamis sore.
Manajer mereka, pak Andra (karena seumuran mereka manggil dia mas Andra, dia penganut Protestan), sempat kebingungan. “Lahh kalau semua minta izin, proyeknya gak selesai-selesai dong...” katanya dengan nada sedikit bercanda.
Sanjaya membalas, “Kan bisa gantian mas. Bisa kali kita bagi-bagi jadwal. Nanti saya hari Minggu gatiin Bima, terus Bima gantiin saya waktu Galungan.”
Meilin ikut menimpali, “Bener tuh mas, saya juga bisa bantu Rina pas malam Jumat. Ntar habis sembahyang saya bisa lanjut kerja di rumah.”
Lina menambahkan, “Yang penting kerjaan selesai mas. Kita bisa saling bantu biar semua tetap bisa ibadah dengan tenang. Biar balance dunia akhirat.”
Mas Andra tersenyum mendengar penuturan timnya. “Okelah, kita atur fleksibel yaaa. Seneng nih saya sama kekeluargaan kalian. Saling hormat, saling bantu, saling sayang, meski beda keyakinan. Pertahankan terus yaa.”
Malam lembur pertama berlangsung lancar. Saat azan Magrib berkumandang, Rina menggelar sajadah di ruang musala kecil pojok ruangan. Bima otomatis mematikan musiknya. Hari berikutnya, giliran Meilin yang meminta izin untuk menyalakan dupa kecil di meja kerjanya. Ia berdoa singkat untuk kelancaran proyek. Tidak ada yang keberatan, malah Bima spontan berkata, “Ayo berdoa semua, biar proyeknya cepat kelar, karena dibantuin 5 Tuhan!” Semua tertawa dan memanjatkan doa sesuai kepercayaan masing-masing.
Ketika hari Galungan tiba, Sanjaya izin tidak masuk. Rina dan Bima yang menggantikan posisinya. Mereka sama sekali tidak merasa terbebani. Selanjutnya, Meilin izin pulang cepat, dan digantikan Sanjaya serta Bima. Malamnya, Rina izin pulang dan menyisakan Sanjaya dan Bima yang lembur, dibantu Meilin dari rumahnya. Lina harus Izin masuk siang pada hari Sabtu karena kegiatan wiharanya. Dan terakhir Bima yang tidak bisa hadir pada hari Minggu, digantikan oleh yang lainnya.
Tepat pada hari Senin, Minggu berikutnya, proyek besar itu berhasil selesai tepat waktu. Klien memuji hasil kerja mereka, dan mas Andra mengumpulkan semua tim untuk memberikan ucapan terima kasih. “Saya bangga sama kalian,” katanya sambil menatap mereka satu per satu. “Kalian membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk terpecah, bukan hambatan bagi pekerjaan kita. Melainkan inilah alasan kita untuk saling menghormati.”
Bima mengangkat cangkir kopinya. “Kita semua emang beda cara berdoanya, tapi tujuannya sama, yaitu memohon kebaikan.”
Rina tersenyum, “Mungkin Tuhan benar-benar ingin kita belajar dari perbedaan ini, supaya kita jadi lebih manusiawi.”
Semua tertawa kecil, menikmati kehangatan sore itu. Di meja kerja yang sederhana, enam cangkir kopi dari enam keyakinan berbeda bertemu dalam satu ruang yang sama, ruang bernama toleransi.
Amanat:
1. Nilai Ketuhanan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita menghargai perbedaan keyakinan.
2. Perbedaan agama bukan alasan untuk berpecah, melainkan kesempatan untuk belajar saling menghormati.
3. Tempat kerja yang menghormati keberagaman adalah cermin kecil dari Indonesia yang beragam namun tetap satu (Bhinneka Tunggal Ika).
Maylani Kusuma Wardani, NIM: 25080694170