Kunci Kandang Ayam
Hari ini Aryo datang terlambat ke sekolah karena membantu Pak Malik mencari kunci kandangAyam.Iakesal karena harus menunggu upacara selesai karena konsekuensi terlambat saat hari Senin adalahtidakbolehmengikuti upacara. Untungnya, Aryo tidak sendirian, ada Adam anak Pak Malik yang memanghobi telat.PakMalik adalah seorang pejabat sehingga guru-guru tidak berani menegur Adam. Pak Malik mengadopsiAryotahun lalu. Namun, terkadang Adam merasa iri karena ayahnya lebih perhatian pada Aryo bukanpadanya.
Setelah gerbang sekolah di buka, Aryo dan Adam segera masuk sebelumguru BKmenyiduki merekaterlambat. Kelas Aryo dan Adam bersebelahan, tepatnya kelas 9B dan Adam berada di kelas 9C. Ketikamerekaberpapasan di koridor, Adam menunjukkan raut muka jijik pada Aryo yang berkeringat karenaberlaridanmengayuh sepeda lima kilometer jauhnya. Aryo yang merasa tertindas segera masuk ke dalamkelas. Menunggukedatangan Gibran dan Fauzan yang mungkin sedang beristirahat di kantin. Tidak lama keduasahabatnyamasuk ke dalam kelas. Muka mereka masam dan Aryo tahu penyebabnya. Ia merasa sangat bersalahkarenamereka bertiga sudah berlatihan berhari-hari demi tampil hari ini apalagi mereka memohon kepadaketuakelasuntuk dipilih. Namun, takdir berkata lain, Aryo tertimpa sial
“Dari mana saja kamu?” ketus Gibran. Aryo berdehem. “Maaf, aku terlambat,” jawabnya. “Terlambat?Sudah seperti si Adam itu saja!” tukas Gibran. Fauzan mencoba menenangkan Gibran. “Sudahlah, Bran,mungkin Aryo punya alasan lain, iya ‘kan?”
Aryo mengangguk, memang Fauzan adalah penengah di antaranya dengan Gibran. Keduatemannyaitumenatapnya, seakan ingin tahu apa yang terjadi sehingga dia terlambat. Akhirnya Aryo punmulai bercerita.“Jadi, saat aku bangun, kunci kandang ayam Pak Malik mendadak hilang dan aku bertanggungjawabmencarikunci itu,” Aryo menunduk dan ia merasa menyesal karena sudah teledor. “Tidak apa-apa, tadi untungnyaadaWisnu yang membantu. Yang penting, kamu sudah berusaha sebisa mungkin. Lagi pula, itukanmemangtanggung jawabmu.” Jelas Fauzan.
Mata pelajaran pertama hari ini gurunya tidak hadir sehingga mereka bisa mengobrol lebihleluasa. “Kaliantahu? Kemarin aku mendengar kalau Adam sedang mencari kunci kandang ayam,” celetukGibrantiba-tiba.Aryo yang merasa dirugikan oleh kandang ayam tadi pagi langsung menoleh pada Gibran, begitupundenganFauzan yang penasaran tentang apa yang terjadi. Di antara mereka bertiga, Gibran adalah sumber informasitentang semua permasalahan dan gosip hangat sekolah.
“Iya! Aku ingat kalau ia meminta saran Wisnu untuk menemukan kunci kandang ayam.”lanjut Gibran.Sejujurnya, Aryo tahu kalau insiden hilangnya kunci ini memiliki faktor penyebab lain karenasetiapsoresetelah memberikan pakan, Aryo selalu memastikan bahwa kandang sudah terkunci dan meletakkannyaditempat penyimpanan kunci. Aryo mulai curiga bahwasanya Adam yang selalu menunjukkan ketidaksukaannyatersebut bisa saja ikut andil pada kejadian ini. Gibran tahu betul dengan watak Aryo yang terlalubaik, sehinggaia harus berpikir dan mencari rencana agar Aryo balas dendam pada Adam karena dia sudah kelewatankaliini.
Saat pulang sekolah, Gibran meminta Aryo untuk mengajaknya ke rumah Pak Malikkarenadiamempunyai rencana bagus. Ketiga sahabat tersebut akhirnya sampai di rumah Pak MalikyangjugaAryotinggali. Gibran tersenyum jahil saat melihat sepatu Adam ada di teras rumah. Ketiga sekawantersebutmasukke ruang tamu di mana Pak Malik dan Adam sedang fokus menonton televisi. Fauzan segeraberdehemberusaha mengalihkan perhatian Pak Malik kepadanya.
“Pak Malik, ayah saya pesan ayam tiga ekor” ujar Gibran. Pak Malik mengernyitkan kening, “Iyakah?Sayangnya kunci kandang ayamnya hilang sehingga tidak bisa dibuka,” Gibran memasang raut wajahterkejutbak pemain sinetron. “Ada yang mencuri?”. “Sepertinya, karena tidak mungkin Aryo menyembunyikankunciitu,” Pak Malik menghela nafas panjang. “Siapapun yang mencuri akan saya beri pelajaran!” lanjutnya.
“Apakah bapak sudah periksa seluruh ruangan di rumah ini?” tanya Gibran. Pak Malik menggeleng. “Cobakita cari sama-sama, dimulai dari kamar Adam terlebih dahulu,” saran Gibran. Pak Malikmenganggukmenyetujui, beliau dengan segera bersiap menuju kamar anak sematawayangnya.
Melihat itu, Adam langsung ketar-ketir. “Ja-jangan! Kenapa tidak ke kamar Aryo saja?! ‘kan, diayangbertugas!” serunya dengan suara bergetar. “Kamar Aryo kan di lantai atas, Dam, kita mulai dari kamarmusaja,ya,” ucap Pak Malik seraya melanjutkan langkahnya.
Adam takut, ia tidak mau orang lain tahu. Ah, sial! Selagi ayah dan ketiga teman sekolahnyaitubelumsampai di kamar, Adam masih memiliki kesempatan. Segera ia berlari mengejar mereka. Tapi nihil, PakMaliksudah terlanjur memiliki kunci tersebut di tangannya. Beliau memasang wajah galak kemudianmenunjukkankunci tersebut pada Adam yang merupakan tersangka terbesar kali ini.
“Bu-bukan! Ini bukan kunci kandang ayam!” elak Adam berusaha membela diri. PakMalikmenghelanapas panjang, ia merasa merasa tidak enak karena sudah menuduh orang lain padahal pelakuadalahanaknyasendiri. “Adam! Sudah jelas-jelas ada gantungan bertuliskan kandang ayam di kunci ini!” gertakPakMalik.“Kenapa kamu mencuri?” tanya Pak Malik, suaranya melembut.
“Ma-maaf, Yah.” Adam menunduk malu. “Kamu tahu yang kamu lakukan itu merugikanoranglain?Ayahsampai mengira kalau Aryo yang ambil!” tegur Pak Malik. “Ayah ingin kamu minta maaf ke Aryosekarang!”Sebenarnya Adam merasa tidak sudi untuk minta maaf pada Aryo, tetapi apa boleh buat dia memangsudah
kelewatan. Padahal, Adam berniat mengembalikan kunci itu ke Ayah dan berlagak sebagai pahlawankesiangan.“Maaf, Yo. Aku sudah keterlaluan kali ini,” ucap Adam. Aryo tersenyum. “Iya, tidak apa-apa, Dam.”
END
Cerpen ini menggambarkan nilai kemunusiaan yang disampaikan oleh sikap para tokoh. Adamyangawalnya merasa iri pada Aryo hingga membuatnya bersikap nekat, akhirnya ia menyadari bahwaperbuatannyamerugikan orang lain dan meminta maaf. Dan sikap Pak Malik yang tegas mendidikAdamjugamencerminakan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Serta sikap Aryo yang memaafkanAdam
Mencerminkan nilai empati dan belas kasih terhaap sesama. Semua tokoh mencerminkanbahwasejatinyamanusia adalah yang mampu bersikap jujur, menghargai sesama dan mengakui kesalahan serta memintamaaf.
Hanifah Sabina - 25080694114