Kura-Kura dan Sungai Perselisihan
Di sebuah hutan yang damai, mengalir sebuah sungai jernih yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk. Burung-burung mandi di sana, rusa minum setiap pagi, dan ikan-ikan berenang bebas di dalamnya. Namun, kedamaian itu mulai terganggu ketika Harimau, sang penguasa rimba, mengumumkan bahwa ia akan menjaga sungai seorang diri.
“Aku yang paling kuat. Sungai ini harus dijaga oleh yang berkuasa,” kata Harimau dengan suara menggelegar.
Burung Elang yang terbang tinggi tak setuju. “Kekuatan bukan segalanya. Aku lebih bijak dan bisa melihat bahaya dari jauh. Aku yang pantas menjaga sungai.”
Perselisihan pun terjadi. Kelinci, Rusa, dan Monyet hanya bisa saling pandang, takut ikut bicara. Hutan yang dulu tenang kini dipenuhi suara debat dan ancaman.
Di tengah keributan itu, muncullah Kura-Kura. Ia berjalan pelan, tapi pikirannya tajam. “Mengapa kita bertengkar? Bukankah sungai ini milik bersama? Mari kita bicarakan baik baik.”
Harimau mendengus. “Apa yang bisa dilakukan makhluk lambat sepertimu?”
Kura-Kura tak tersinggung. Ia mengusulkan pertemuan seluruh hewan di bawah pohon beringin besar. “Kita semua punya hak bicara. Mari kita musyawarah.”
Esok harinya, semua hewan berkumpul. Kura-Kura memimpin diskusi dengan sabar. Ia memberi waktu pada setiap hewan untuk menyampaikan pendapat. Burung Elang bicara tentang pengawasan dari udara. Harimau bicara tentang kekuatan menjaga dari ancaman. Kelinci mengusulkan jadwal bergiliran. Rusa menyarankan penjaga dari berbagai jenis hewan agar adil.
Setelah diskusi panjang, mereka sepakat membentuk Tim Penjaga Sungai. Tugas dijalankan bergantian: Harimau menjaga malam, Elang mengawasi siang, Kelinci memantau kebersihan, dan Rusa mengatur jadwal. Semua merasa dihargai.
Sejak saat itu, sungai kembali tenang. Hewan-hewan belajar bahwa kekuatan bukan satu satunya jalan. Musyawarah dan kebijaksanaan membawa kedamaian.
Kura-Kura tersenyum. Ia tahu, meski langkahnya lambat, pikirannya telah mengubah hutan.
Cerita ini mengajarkan bahwa musyawarah adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan konflik. Ketika kekuatan dan kecerdasan tidak mampu meredakan perselisihan, justru kesediaan untuk mendengarkan dan berdiskusi bersama menjadi kunci perdamaian. Kura-kura, meski lambat dan sering diremehkan, menunjukkan bahwa setiap makhluk memiliki hak untuk didengar dan peran penting dalam kehidupan bersama. Kebijaksanaan tidak selalu datang dari yang kuat atau cepat, melainkan dari ketenangan dan pemikiran jernih.
-Nilai Pancasila yang tercermin dalam cerita ini adalah sila keempat, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Hal ini tampak dalam proses musyawarah yang dilakukan oleh semua hewan, pengambilan keputusan secara adil dan bijak, serta penghargaan terhadap pendapat semua pihak tanpa memandang kekuatan atau status. Melalui kisah ini, kita diajak untuk memahami pentingnya kebersamaan, saling menghargai, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin demi kebaikan bersama.
Fatimah Angie - 25080694198