“Langit yang Tak Lagi Sama”
Angin sore berhembus pelan ketika Dwiki duduk di kursi taman sekolah, menatap lapangan yang mulai sepi. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia ingin kembali menjadi dirinya yang dulu anak yang selalu terdepan saat lomba renang, yang sering dipuji pelatih sebagai calon atlet terbaik sekolah. Namun kini, kursi roda yang menemaninya terasa seperti garis batas antara masa lalu dan masa kini.
Semuanya berubah setelah kecelakaan itu. Mobil yang melaju kencang menabrak sepeda motor yang ditumpangi bersama ayahnya. Tulang-tulang kakinya patah parah. Dokter bilang kerusakan saraf membuatnya mustahil berjalan seperti dulu. Dwiki hanya mengangguk, meski hatinya seperti dibentur kuat-kuat.
Hari pertama kembali ke sekolah menjadi hari yang tak pernah ia lupa. Teman-temannya menyambut, tapi beberapa tatapan terasa aneh antara iba, bingung, dan canggung. Aysel sempat menghampirinya, mengucapkan selamat datang dengan senyum kecil yang tulus, tetapi di mata beberapa siswa lain, Dwiki seperti sosok baru yang tidak mereka kenal.
Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah kehadiran Firman, sahabat yang menemaninya sejak lama. Firman tidak berubah. Ia tetap bercanda, tetap memarahi Dwiki jika lupa tugas, tetap mengajak makan mie ayam seperti sebelum kecelakaan.
Suatu siang, pelajaran olahraga berlangsung seperti biasa. Dwiki hanya bisa menonton dari pinggir kolam renang. Ketika melihat teman-temannya berenang dengan riang gembira, hatinya seperti ditarik ke masa lalu.
“Kalau kamu kangen berenang… nggak apa-apa lo bilang,” suara Firman muncul tiba-tiba, berdiri di samping kursinya.
Dwiki tersenyum tipis. “Banget, Man. Tapi kayaknya… semuanya sudah selesai.”
Firman jongkok, menatap Dwiki langsung. “Kamu cuma nggak bisa lagi pakai kaki buat bergerak. Tapi hidup itu masih panjang. Kamu pasti bisa nemuin cara lain buat maju.”
Ucapan itu seperti membuka celah kecil dalam gelapnya hati Dwiki. Ia mulai mencoba hal-hal baru. Ia mengikuti klub seni awalnya hanya mengisi waktu, tapi lama-lama ia menemukan ketenangan dalam menggambar. Aysel sering duduk di dekatnya, sesekali memberi komentar lembut tentang warna atau bentuk.
Namun perjalanan Dwiki tidak selalu mulus. Sihab dan Fatta, dua teman sekelasnya, sering terlihat berbisik ketika Dwiki lewat. Suatu hari, Dwiki mendengar Fatta berkata, “Kasihan ya… dia nggak bisa apa-apa lagi.”
Kalimat itu menancap di hati, meski ia berpura-pura tak mendengarnya.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan “Pekan Apresiasi Kemampuan Siswa.” Kelas mereka memilih menampilkan lukisan langit senja karya Dwiki. Warnanya lembut, seperti mewakili perasaannya tak lagi sama, tapi tetap memiliki keindahan.
Saat lukisan itu dipajang, banyak siswa berhenti untuk melihat. Sihab yang awalnya canggung bahkan terlihat menatapnya lama, seolah baru menyadari kemampuan Dwiki yang tidak ia lihat sebelumnya.
Ketika namanya dipanggil untuk maju, Dwiki merasakan dadanya menegang. Ia menggenggam roda kursi rodanya dan bergerak pelan ke panggung.
“Aku mungkin nggak bisa lagi renang seperti dulu,” ucapnya pelan, tetapi jelas. “Tapi aku belajar kalau setiap orang punya caranya sendiri untuk terus bergerak. Aku bukan butuh kasihan, aku cuma ingin dihargai seperti teman-teman lain.”
Aula hening sejenak sebelum tepuk tangan menggema. Fatta menunduk, mungkin merasa bersalah. Sihab mengangguk kecil ke arah Dwiki, seperti memberikan dukungan yang terlambat tetapi berarti.
Setelah acara selesai, Firman menepuk bahu Dwiki sambil tersenyum bangga. “Lihat, Wik. Langitmu memang berubah. Tapi bukan berarti jelek. Cuma beda warna.”
Dwiki tersenyum untuk pertama kalinya dengan sangat tulus. “Iya, Man. Mungkin aku cuma perlu belajar ngeliatnya dari sisi yang baru.”
Sore itu, ketika matahari mulai turun dan warna senja mengisi langit, Dwiki merasakan hidupnya memang tidak lagi sama. Tapi ia sadar, selama ia mau terus bergerak meski bukan dengan kaki, tapi dengan hati dan karya langit baru selalu bisa ia lukis kembali.
Dwiki Nanda Kurniawan 25010024023