Langkah Baru di SMA Negeri 1 Jerman
SMA Negeri 1 Jerman adalah sekolah yang unik. Letaknya berada di pinggir kota, namun memiliki bangunan bergaya modern dengan ruang terbuka yang luas dan taman yang dipenuhi bunga kertas warna merah muda. Sekolah itu dikenal sebagai sekolah ramah keberagaman, tempat murid dari berbagai latar belakang dapat belajar tanpa khawatir dianggap berbeda. Walau begitu, tidak semua hal berjalan mulus. Perubahan selalu membutuhkan proses, terutama ketika menyangkut inklusi.
Di antara ratusan siswa, empat sahabat dengan karakter berbeda menjadi bagian penting dari perjalanan itu: Aris, siswa teknisi sekaligus ketua klub robotik. Rani, jurnalis sekolah yang tidak pernah lepas dari kamera. Nisa, siswi penyandang disabilitas penglihatan yang dikenal sebagai penulis puisi sekolah dan Junaedi, siswa dengan disabilitas pendengaran parsial yang sangat berbakat dalam musik perkusi.
Suatu pagi, sekolah mengumumkan lomba pentas seni antar kelas dengan tema besar “Ruang untuk Semua”. Tema itu membuat empat sahabat itu langsung sepakat bergabung. “Ini kesempatan bagus buat nunjukin kalau inklusi itu bukan slogan doang,” kata Rani bersemangat sambil menepuk bahu Aris.
Aris mengangguk. “Tapi konsepnya harus matang. Kita bikin pertunjukan yang nyampurin musik, visual, dan puisi. Semuanya harus jalan bareng.” Nisa tersenyum, jarinya meraba ujung meja. “Aku bisa bacakan puisi sebagai narasi. Tapi kita perlu sistem suara yang jelas.” Junaedi menulis di papan kecilnya: “Aku bikin ritme dasar. Kamu tinggal sesuaikan beat-nya.” Aris langsung menatapnya antusias. “Fix! Kamu yang bikin backbone musiknya.”
Mereka mulai latihan di aula kecil dekat perpustakaan. Namun tak semuanya berjalan mulus. Ketika Junaedi mengetuk kendang untuk menunjukkan ritme, suara beberapa siswa lain terdengar membicarakan mereka.
“Emang bisa ya tampil bareng? Pasti susah menyesuaikan,” bisik salah satu dari mereka. “Apa nggak lebih gampang kalau diganti orang lain?” timpal yang lain.
Nisa mendengar percakapan itu meskipun lirih. Ia menggigit bibir, menahan perasaan tak nyaman. “Kadang… aku masih merasa jadi beban,” tuturnya pelan.
Rani langsung memegang tangannya. “Nis, kamu bukan beban. Kita nggak bakal jalan kalau nggak ada kamu.” Aris ikut duduk di hadapan mereka. “Kalau inklusi cuma berjalan saat semuanya mudah, itu bukan inklusi. Kita tetap bareng, apapun tantangannya.”
Kata-kata itu menguatkan mereka, dan latihan pun berlanjut. Aris merakit panel lampu kecil yang bisa menampilkan visual sederhana. Panel itu akan menunjukkan pola cahaya sebagai acuan bagi Junaedi agar ia bisa merasakan ritme lebih tepat. Rani menulis naskah, memastikan setiap bagian pertunjukan sinkron. Sementara itu, Nisa menulis puisi yang menjadi inti pertunjukan mereka. Puisi tentang keberanian, tentang menerima diri sendiri, tentang ruang yang disediakan bukan karena belas kasihan, tetapi karena hak.
Sehari sebelum pentas, masalah baru muncul. Sistem pengeras suara sekolah rusak. Para peserta lain panik, tetapi Aris langsung masuk ke ruang kontrol. “Kasih aku tiga puluh menit,” katanya. Dengan bantuan Junaedi yang mengecek getaran suara dari layar amplifier, mereka berhasil menyalakan kembali sebagian sistem yang rusak. Walaupun tidak sempurna, setidaknya cukup untuk pentas.
Hari pertunjukan tiba. Aula besar sudah dipenuhi siswa. Lampu-lampu redup, suasana tegang. Ketika giliran kelas mereka tampil, keempatnya saling menatap, mencoba menenangkan diri.
Pertunjukan dimulai dengan pukulan kendang lembut dari Junaedi. Ritmenya stabil, terasa melalui panggung kayu. Panel lampu buatan Aris berkedip mengikuti irama, membantu Junaedi tetap pada tempo yang tepat. Lalu suara Rani mulai membaca narasi pendek sebagai pembuka, suaranya jernih dan tegas.
Kemudian Nisa berdiri. Aula menjadi hening. Ia mulai membaca puisi ciptaannya: tentang dinding yang pelan-pelan dibuka, tentang orang-orang yang selama ini berjalan dalam bayang bayang, tentang tangan-tangan yang merangkul perbedaan. Setiap kata terasa hidup. Banyak penonton merinding.
Aris mengatur visual sederhana yang menampilkan pola cahaya mengikuti alur puisi. Cahaya itu tidak berlebih, tidak menyilaukan, tetapi cukup menerangi panggung untuk menegaskan makna. Rani bergerak memandu transisi, sementara Junaedi memberi ritme akhir yang lembut namun penuh energi.
Ketika pertunjukan usai, aula bergemuruh oleh tepuk tangan. Siswa-siswa yang sempat meragukan mereka hanya bisa terpana melihat betapa harmonisnya pertunjukan itu. Guru-guru pun ikut berdiri, memberikan apresiasi.
Setelah turun panggung, Junaedi menulis cepat di papan kecilnya: “Kita berhasil… bareng bareng.”
Nisa tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Aku senang. Aku ngerasa dilihat… bukan dikasihani.”
Rani menepuk bahu semua temannya. “Inklusi itu bukan tentang siapa yang paling kuat. Tapi bagaimana kita saling menguatkan.” Aris menambahkan, “Dan SMA Negeri 1 Jerman bisa jadi tempat semua itu terjadi.”
Empat sahabat itu berdiri bersama di sisi panggung, menyadari bahwa yang mereka lakukan bukan hanya pertunjukan. Itu adalah pesan. Pesan tentang ruang, tentang keberanian, tentang melihat semua orang sebagai manusia yang layak berdiri di panggung—tanpa kecuali.
Dan di sekolah kecil bernama SMA Negeri 1 Jerman, langkah baru menuju inklusi dimulai dari mereka.
Argya Arkananta Kamari - 25010024034