Langkah di Atas Panggung
Sejak kecil, Rani selalu terpukau setiap kali melihat penari tradisional tampil di acara desa. Gerakan tangan yang lemah gemulai, iringan gamelan yang mengalun pelan, dan kain batik yang berputar mengikuti irama membuat hatinya bergetar. Saat anak-anak lain bermain petak umpet, Rani lebih suka menirukan gerakan para penari di depan cermin kecil di rumahnya. Ibunya sering tersenyum melihatnya. “Rani, kamu suka sekali menari, ya?” tanya Ibu suatu sore. Rani mengangguk riang. “Rani mau jadi penari, Bu! Penari yang bisa tampil di panggung besar!” Ibu hanya mengelus kepalanya. Di desa kecil mereka, menari tradisional dianggap kegiatan sampingan. Banyak orang tua yang lebih ingin anaknya fokus belajar agar bisa kerja di kota. Tapi semangat Rani tak pernah surut. Ia belajar dari siapa pun yang mau mengajarinya—dari guru seni di sekolah, dari acara televisi, bahkan dari para penari senior yang sering latihan di balai desa.
Suatu hari, sekolahnya akan mengirimkan perwakilan untuk mengikuti lomba seni budaya tingkat kabupaten. Rani mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Bu, saya ingin ikut lomba menari tradisional!” katanya dengan yakin. Teman-temannya menatap, sebagian tertawa kecil. “Ngapain sih Rani, menari tradisional kan jadul!” celetuk salah satu teman laki-lakinya. Rani menunduk sebentar, tapi hatinya tetap teguh. Ia tahu, menari tradisional bukan hal kuno—itu warisan bangsa yang indah.
Hari demi hari ia berlatih. Tangannya sering pegal, kakinya lecet, tapi Rani tak pernah menyerah. Ia bahkan menjahit sendiri hiasan kecil untuk selendangnya dari kain bekas yang diberikan Ibu. “Yang penting hati Rani menari, bukan bajunya,” kata Ibu sambil tersenyum. Saat hari lomba tiba, Rani berdiri di belakang panggung. Jantungnya berdebar cepat. Ia bisa mendengar suara musik mulai dimainkan. “Bismillah,” bisiknya pelan. Ketika kakinya melangkah ke atas panggung, semua rasa gugup menghilang. Gerakannya lembut, matanya hidup, dan setiap langkahnya seperti bercerita tentang keindahan budaya bangsanya sendiri.
Ketika musik berhenti, ruangan hening sejenak lalu bergemuruh tepuk tangan. Guru seni Rani meneteskan air mata haru. Dan ketika hasil diumumkan, Rani tak percaya mendengar namanya disebut sebagai juara pertama. Ia memeluk ibunya sambil menangis. “Bu, Rani menang!” Ibu
tersenyum bangga. “Bukan hanya menang, Nak. Kamu sudah membuat semua orang ingat bahwa budaya kita itu indah dan layak dibanggakan.”
Sejak hari itu, Rani tidak hanya dikenal sebagai juara menari, tapi juga sebagai anak yang mencintai budayanya. Ia sering diundang menari di acara-acara desa dan bahkan mengajar anak-anak kecil yang ingin belajar menari. Bagi Rani, setiap gerakan adalah doa, setiap langkah adalah cinta untuk tanah airnya.
PESAN MORAL:
Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Menunjukkan cinta terhadap budaya bangsa dan semangat melestarikan tradisi.
Mengajarkan agar bangga terhadap budaya sendiri dan tidak malu menjadi bagian dari warisan Indonesia.
Pesan moral: Dengan melestarikan kesenian daerah seperti tari tradisional, kita turut memperkuat rasa persatuan dan menjaga identitas bangsa agar tidak hilang oleh pengaruh budaya asing.
TRISHA BELLA PUTRI WIDYA - 25080694031