“Langkah Kecil Aruna”
Pagi itu, halaman sekolah tampak lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian, saling memanggil, dan beberapa duduk di bawah pohon mangga sambil mengobrol tentang lomba karya sains yang akan digelar satu bulan lagi. Di tengah keramaian itu, seorang anak perempuan berambut sebahu tampak berdiri sedikit menjauh. Matanya sibuk memperhatikan helai-helai rumput, seolah setiap helai punya cerita.
Itulah Aruna.
Anak yang selalu tampak hidup dalam dunianya sendiri. Kadang bicaranya cepat sekali, kadang malah tak bersuara sama sekali. Kadang ia bisa mengerjakan tugas lebih cepat daripada teman temannya, tetapi di lain waktu ia tak mampu duduk diam bahkan tiga menit pun sulit. Sebagian anak sudah terbiasa dengan tingkahnya, sebagian lagi masih suka bertanya-tanya. Pagi itu, seperti biasa, Bu Ratih mendekati Aruna sebelum bel masuk. “Aruna, kamu lihat apa?” tanya Bu Ratih dengan senyum lembut. Aruna mengangkat kepalanya cepat, seolah baru tersadar. “Ada kupu kecil di rumput, Bu. Sayapnya biru, tapi Cuma separuh. Kasihan… mungkin dia jatuh,” katanya cepat, suaranya seperti melompat-lompat mengikuti pikirannya. Bu Ratih mengangguk. “Wah, kamu memperhatikan hal yang tidak dilihat orang lain. Hebat sekali.” Aruna tersenyum kecil, lalu menggenggam tasnya lebih erat.
Di kelas, Bu Ratih mulai menjelaskan proyek lomba sains. Setiap kelompok diminta membuat karya bertema “Gerak dan Angin”. Sebagian siswa langsung bersemangat; ada yang sudah membayangkan mobil bertenaga balon, ada pula yang ingin membuat layang-layang warna warni. “Untuk proyek ini, kelompok akan berisi tiga orang,” kata Bu Ratih. “Bu Ratih yang tentukan agar semua seimbang, ya.” Nama-nama dipanggil satu per satu. Ketika nama Aruna dipasangkan dengan Raka dan Yara, kelas mulai berbisik kecil. Raka terkenal sabar, tapi Yara… semua tahu ia tak begitu suka jika sesuatu tidak berjalan teratur. Aruna mengusap jarinya gelisah di balik meja. Ia tidak berani menatap siapa pun. Setelah kelas bubar untuk istirahat, Raka dan Yara mendekatinya. “Aruna, kamu mau bikin apa untuk proyek ini?” tanya Raka.
Aruna membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya memandangi sepatu, jari jarinya mengetuk meja seperti mengetuk pintu yang tak berani dibuka. “Aruna…?” Yara
menggeser kursinya, terdengar sedikit canggung. Lama sekali Aruna hanya diam, hingga tiba tiba ia berdiri. “Aku… aku kepikiran sesuatu,” katanya cepat. “Kincir angin kecil, tapi bisa menyala. Lampunya bisa berubah warna kalau anginnya kenceng.” Raka mengangguk antusias. “Bagus! Kita bisa coba.” Tapi Yara ragu. “Itu rumit. Kita harus bikin rangkaian listrik juga. Jangan-jangan nanti malah nggak selesai.” Aruna menunduk lagi. Kata-kata Yara menancap cepat di dadanya, seperti duri kecil. Raka menatap Yara pelan. “Coba dulu saja. Wong idenya Aruna bagus kok.” Yara terdiam sebentar, kemudian menghela napas. “Baiklah. Tapi kita harus bagi tugas jelas, ya.” Aruna mengangguk cepat, terlalu cepat sampai rambutnya ikut bergoyang.
Hari-hari berikutnya, setiap pulang sekolah, mereka bertiga berkumpul di ruang seni yang jarang dipakai. Awalnya tidak mudah. Aruna sering sibuk dengan hal yang tidak penting menyusun tutup botol seperti menara, mengamati bayangan kipas, bahkan kadang hilang fokus saat Yara menjelaskan. Yara beberapa kali hampir marah, tapi Raka selalu menahan. Suatu hari, ketika Yara benar-benar hampir kehilangan kesabaran, Aruna tiba-tiba bersuara dengan nada cemas. “Maaf… aku bukan sengaja. Kadang… kepalaku berisik sekali. Kayak banyak suara kecil yang ngomong semua hal di waktu yang sama. Tapi… aku tetap pengen bantu. Yara terhenti. Ia baru pertama kali mendengar Aruna bicara sepanjang itu. Biasanya anak itu memilih diam, atau kabur dengan pikirannya sendiri. Raka menepuk bahu Aruna lembut. “Nggak apa apa. Kamu bilang kalau butuh istirahat, ya?” Aruna mengangguk pelan. Sejak itu, mereka membuat sistem kecil. Bila Aruna mulai gelisah, Raka mengetuk meja dua kali itu tanda agar Aruna kembali fokus. Bila Aruna mulai kehilangan arah, Yara menulis instruksi singkat dalam poin-poin di buku kecilnya. Perlahan, semuanya mulai berjalan lebih lancar. Kincir angin mereka terbentuk sedikit demi sedikit. Aruna yang paling ahli menggambar rancangan. Garis
garisnya rapi dan detail, seperti seseorang yang benar-benar melihat mesin itu utuh di dalam pikirannya. Raka berkutat dengan rangka kayu. Yara mengatur rangkaian listrik kecil untuk lampu LED yang bisa berubah warna.
Suatu sore, ketika mereka mencoba prototipe pertama, kincir itu berputar pelan saat ditiup kipas angin. Lampu di bawahnya menyala merah, lalu berubah kuning, kemudian biru. “Kita berhasil!” seru Raka. Aruna menutup mulutnya, matanya membesar kagum. “Beneran jadi…?”
“Benar,” jawab Yara. Untuk pertama kalinya, Yara tersenyum tulus pada Aruna. “Idemu keren.” Aruna tidak berkata apa-apa. Tapi dadanya hangat, seperti lampu kecil yang baru dinyalakan.
Hari lomba tiba. Aula sekolah penuh dengan meja-meja panjang berisi karya berbagai kelompok. Ada mobil balon, perahu kertas bertenaga kipas, roket mini, bahkan robot sederhana. Di tengah-tengah, kincir angin milik kelompok Aruna berdiri anggun dengan baling-baling warna putih bersih. Tiba giliran juri menghampiri meja mereka. “Menarik sekali,” ujar salah satu juri. “Siapa yang membuat desainnya?” Aruna menelan ludah. Perutnya terasa seperti diisi kupu-kupu berputar yang terlalu banyak. Raka memberi isyarat halus, mendorong Aruna sedikit ke depan. Aruna membuka mulut, sebelumnya sempat ragu. Tapi kemudian ia berkata, perlahan namun jelas, “Saya, Bu. Saya yang merancang… semuanya ada di kepala saya dulu, baru saya gambar.” Juri tersenyum. “Hebat. Banyak anak seusiamu belum tentu bisa membuat visual yang jelas seperti ini.” Aruna menunduk malu-malu, tapi kali ini ia tidak ingin bersembunyi.
Saat pengumuman pemenang, suara di aula riuh. Semua anak menahan napas, berharap nama kelompoknya disebut.Juara harapan, juara tiga, juara dua sudah lewat. Tidak ada nama mereka. Aruna menatap meja karyanya. Ia mengusap ujung kertas rancangan yang ia buat. Mungkin… mungkin memang tidak cukup bagus. Kemudian, pengeras suara kembali menyala. “Juara pertama lomba karya sains tahun ini adalah… Kelompok Kincir Warna Aruna, Raka, dan Yara!” Aula meledak dengan tepuk tangan. Aruna terpaku. Raka langsung memeluknya singkat, Yara menepuk bahunya sambil tersenyum lebar. “Lihat? Kita bisa.” Aruna naik ke panggung dengan langkah kecil. Kakinya masih gemetar, tapi hatinya penuh cahaya. Ia menerima piala dengan kedua tangan yang bergetar, namun matanya berbinar. Untuk pertama kalinya, dunia di sekitarnya tidak terasa terlalu bising. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu mengintimidasi. Hari itu, Aruna merasa didengar. Hari itu, Aruna merasa diterima. Sore hari, ketika semua sudah pulang, Aruna kembali sebentar ke halaman sekolah. Ia melihat rumput tempat ia dulu menemukan kupu-kupu bersayap rusak. “Hari ini aku juga terbang, ya,” bisiknya kecil, seolah kupu itu masih di sana. Dan ia tersenyum. Karena ia tahu, langkah kecilnya hari itu baru permulaan. Sebab dunia, ternyata, punya ruang untuk anak seperti dirinya—asal ada yang mau memahaminya.
Karya : Muhammad Ardhi Zaidan Fahmi