“ LANGKAH KECIL DI LORONG SEKOLAH ”
Setiap pagi, lorong SD Harapan Bangsa selalu penuh suara: tawa, langkah kaki, teriakan kecil murid kelas rendah yang saling kejar-kejaran. Namun suatu hari, suasana itu sedikit berbeda. Di gerbang, seorang anak laki-laki berdiri memegang tas biru yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya.Namanya Dimas, kelas 5. Ia datang dengan wajah tegang.
Dimas anak yang pendiam. Ia memiliki hambatan pendengaran sebelah dan kesulitan memahami instruksi panjang. Ia tidak memakai alat bantu dengar karena keluarganya belum mampu membelinya. Selama ini ia sering diejek di sekolah lamanya, membuatnya takut menghadapi teman baru.
Di dalam kelas, Bu Rara guru kelas 5 menyambutnya dengan senyum hangat.“Selamat datang, Dimas. Di sini, kita belajar bersama tanpa membandingkan siapa pun.” Dimas hanya mengangguk pelan. Ia menatap sepatu, berusaha berani.Saat perkenalan, beberapa anak berbisik, “Dia pendiam banget ya?” atau, “Kok tadi gak jawab?”Dimas mendengarnya samar samar, seperti suara dari bawah air. Ia menelan ludah. Ini sama saja seperti dulu, pikirnya.Tapi kemudian, seorang anak perempuan berkacamata duduk di sampingnya dan tersenyum lebar.“Hai, aku Naya. Kalau kamu butuh catatan, bilang ya. Aku bisa bantu.” Senang namun kikuk, Dimas hanya mengangguk.
Minggu pertama tidak mudah. Ketika pelajaran IPA, Bu Rara menjelaskan dengan cepat, dan Dimas kehilangan beberapa bagian penjelasan. Ia terlambat mengerjakan tugas dan merasa tertekan.Pernah suatu hari, ketika semua murid harus mempresentasikan hasil diskusi kelompok, Dimas tidak mengerti kapan ia harus mulai bicara. Beberapa teman tertawa kecil saat ia salah waktu.Dimas menunduk kuat-kuat, berusaha menahan air mata.Bu Rara langsung menghampiri.“Nak, di kelas ini semua anak butuh waktu. Tidak ada yang salah dengan lambat. Kita coba bersama, ya? Dimas mengangguk, dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak disalahkan.
Sekolah memberikan pendamping khusus setiap hari Selasa. Namanya Pak Rendy guru pendamping yang sabar dan tegas.Dengan buku gambar dan kartu-kartu kecil, Pak Rendy membantu Dimas memahami konsep pelajaran lewat visual. Ternyata, Dimas memiliki kecerdasan visual-ruang yang kuat. Ia cepat paham jika diberikan gambar atau diagram.Ketika pelajaran IPS tentang “peta daerah”, Dimas menggambar peta kampungnya begitu detail hingga membuat teman-temannya kagum.“Wah, kamu bisa bikin jalan kecil depan rumahku!” seru Naya.Dimas tersenyum untuk pertama kalinya dalam sebulan.
Di semester itu, kelas 5 mendapatkan tugas besar: membuat pameran mini tentang keberagaman.Setiap kelompok bebas memilih tema.Kelompok Naya, Dimas, dan dua teman lain memilih tema “Ruang Aman untuk Semua Anak.” Awalnya, Dimas takut ikut bicara. Tapi Naya dan teman-temannya tidak memaksa. Mereka menempatkan Dimas sebagai penanggung jawab poster dan visual.Dimas bekerja keras. Setiap hari ia datang lebih pagi. Ia menggambar anak-anak dengan berbagai kondisi:Anak memakai kursi roda, anak berkebutuhan khusus yang didampingi guru, anak dengan alat bantu dengar, dan anak-anak
lain yang tersenyum bersama.Di sudut poster ia menulis pelan-pelan hurufnya rapi:” Sekolah bukan tempat untuk sama, tapi tempat untuk diterima.”Ketika pameran tiba, pengunjung memenuhi aula. Mereka terhenti lama di poster kelompok Dimas.Seorang guru berkata, “Siapa yang menggambar ini?” Naya menunjuk Dimas bangga. “Dia.” Dimas merasakan tepuk tangan yang datang dari segala arah meski tidak semua suara ia dengar dengan jelas, getarannya terasa di dadanya. Ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan: bangga.
Beberapa minggu setelah pameran, sekolah mengumumkan lomba desain logo untuk acara Hari Inklusi. Peserta: seluruh siswa kelas 4–6.Dimas tak berniat ikut. Ia takut gagal. Tapi Pak Rendy berkata,“Dimas, ingat… yang membuatmu istimewa bukan apa yang tidak bisa kamu dengar, tapi apa yang bisa kamu lihat lebih jelas dari orang lain.” Kalimat itu menancap. Dimas akhirnya ikut. Ia menghabiskan dua malam menggambar: tiga anak berdiri melingkar, tangan mereka saling terhubung membentuk lingkaran. Di tengahnya ada cahaya kecil.
Logo itu diberi judul: “Kita Terang Saat Bersama.”Ketika hari pengumuman datang, Bu Rara menyebutkan, “Juara pertama… Dimas!”Semua anak bersorak. Naya memeluknya sambil tertawa.Dimas mengangkat kepala kali ini dengan penuh percaya diri.
Hyachinta Aurella Firdauzi