Langkah Kecil di Sudut Sekolah
Pagi itu, halaman sekolah masih dipenuhi embun. Matahari belum terlalu tinggi, tapi anak-anak sudah ramai berdatangan. Di antara mereka, ada seorang anak bernama Raka. Ia duduk di kursi rodanya sambil menatap anak-anak lain yang berlarian. Raka bukan tipe anak yang suka mengeluh, tapi dalam hati ia sering merasa berbeda seperti dunia bergerak terlalu cepat dan ia tertinggal di belakang.
Sementara itu, seorang anak perempuan bernama Lila sedang memandangi Raka dari kejauhan. Lila anak yang ceria, tapi juga sensitif ia peka terhadap hal-hal kecil yang tak dilihat oleh orang lain. Ketika ia melihat Raka duduk sendirian seperti biasanya, ia merasa ada sesuatu yang harus ia lakukan.
Hari itu, kelas mereka mendapat tugas untuk membuat kelompok berisi empat orang. Suasana langsung riuh karena semua orang ingin berada satu kelompok dengan teman dekatnya. Tapi Raka tetap diam. Biasanya, ia menunggu hingga semua kelompok terbentuk dan guru menempatkannya secara acak.
Namun belum sempat guru bicara, Lila menghampiri Raka.
“Raka, mau satu kelompok sama aku?” tanyanya dengan senyum kecil. Raka terkejut, ini pertama kalinya ada yang menawarkan diri seperti itu tanpa menunggu guru menyuruh.
“B-boleh,” jawab Raka malu-malu.
Tak lama, dua teman lain ikut bergabung—Bima dan Sani. Mereka berempat pun mulai mengerjakan tugas membuat poster tentang lingkungan. Sepanjang waktu, mereka bekerja sambil tertawa, saling memberi ide, dan tidak membiarkan satu orang pun diam tanpa kontribusi. Untuk pertama kalinya, Raka merasa seperti bagian dari sesuatu. Ia merasa dihargai.
Keesokan harinya, kelas mereka mendapat jadwal olahraga. Biasanya, momen ini paling tidak disukai Raka karena ia hanya bisa menonton teman-temannya berlari dan bermain bola. Tapi hari itu berbeda. Guru olahraga berkata bahwa mereka akan membuat permainan baru—permainan yang bisa dimainkan semua orang tanpa terkecuali.
Lila langsung angkat tangan. “Bu, kita bisa bikin permainan lempar ring! Yang penting kerja sama, bukan kecepatan.”
Guru tersenyum, dan sebelum Raka sempat memproses apa yang terjadi, seluruh kelas mulai membantu menyiapkan permainan. Ada yang menata kerucut, ada yang membuat ring dari tali, dan ada pula yang menghias area bermain.
Sani menepuk bahu Raka. “Ayo, kamu jadi juru lempar pertama!”. Raka tertawa. “Serius? Kalo aku meleset gimana?”
“Ya nggak apa-apa! Kita kan main buat seru-seruan,” jawab Bima.
Permainan itu pun dimulai. Suasana penuh sorakan, tawa, dan teriakan. Ketika tiba giliran Raka melempar, semua orang bersorak memberi semangat. Raka menarik napas, mengarahkan ring, dan melempar. Walau tidak masuk tepat sasaran, semua tetap bersorak.
“Yeay! Mantap, Rak!” teriak satu kelas.
Raka merasa dadanya hangat. Ia belum pernah merasakan dukungan sebesar itu. Saat permainan selesai, ia menyadari bahwa hari itu bukan hanya tentang olahraga, tapi tentang bagaimana semua anak di kelasnya ikut memastikan bahwa tak ada yang tertinggal.
Malamnya, Raka bercerita pada ibunya tentang hari itu. Ia menceritakan bagaimana teman-temannya membuat permainan yang bisa dimainkan, bagaimana mereka tertawa bersama, dan bagaimana ia merasa tidak sendirian. Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu bangga sama kamu, nak” kata ibunya sambil mengusap rambut Raka. “Dan ibu juga senang kamu punya teman-teman yang perhatian.”
Hari-hari berikutnya, kelas mereka semakin kompak. Setiap kegiatan dibuat agar semua bisa ikut serta, tidak peduli keterbatasan atau perbedaan apa yang mereka punya. Mereka belajar bahwa inklusi bukan hanya soal menerima, tapi juga melibatkan. Bukan hanya soal memahami, tapi juga memberi ruang. Dan semua itu dimulai dari langkah kecil sebuah ajakan sederhana dari seorang anak bernama Lila.
Suatu hari, saat sekolah mengadakan acara pentas seni, Raka awalnya ragu untuk ikut. Tapi teman-temannya segera menyusun rencana.
“Kita bikin drama aja!” usul Lila. “Yang jalan ceritanya nggak perlu lari-larian. Kita bisa bikin cerita petualangan yang tokohnya naik kereta aja!”
Semua setuju. Mereka pun membuat drama tentang perjalanan misterius di kereta ajaib. Raka berperan sebagai masinis. Dengan properti sederhana dan kostum seadanya, mereka tampil di atas panggung dengan percaya diri.
Ketika drama selesai, penonton bertepuk tangan meriah. Wajah Raka bersinar. Ia tak menyangka bahwa ia bisa berdiri di panggung, menjadi pemeran utama, dan mendapat tepuk tangan sebanyak itu.
Setelah acara selesai, guru mereka berkata, “Kalian semua sudah memberi contoh bahwa setiap orang punya tempatnya masing-masing, dan setiap anak berhak merasa diterima.”
Lila menepuk bahu Raka. “Lihat? Kamu bisa bersinar juga.”
Raka tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tak ada yang mustahil.
Dan begitulah, sejak hari itu, sekolah kecil mereka berubah. Ruang kelas menjadi lebih hangat, permainan menjadi lebih adil, dan setiap anak tumbuh dengan pemahaman bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh—tapi kesempatan untuk mendekat. Karena pada akhirnya, inklusi bukan hanya tentang membuka pintu, tapi juga mengajak seseorang untuk masuk dan duduk bersama.
Karya : Shofiyatus Sholihah