“Langkah Kecil Nadia, Langkah Besar untuk Persahabatan”
Di kelas 5C SD Sejati Harapan, ada dua kursi kosong yang selalu disiapkan di pojok dekat jendela. Kursi itu sebenarnya sama saja seperti kursi lain, tapi posisinya sengaja dibuat sedikit lebih longgar agar memudahkan Nadia, anak perempuan yang berjalan dengan penyangga di kaki kirinya. Hari pertama ia masuk kelas, anak-anak sempat ramai membicarakannya. Ada yang kagum, ada yang penasaran, tetapi tidak sedikit pula yang melihatnya dengan cara yang membuat Nadia ingin bersembunyi. Namun dari antara semua wajah baru, hanya satu anak yang mendekatinya tanpa ragu—seorang gadis lincah bernama Naila.
Naila sama sekali tidak melihat tongkat yang Nadia bawa sebagai sesuatu yang aneh. Ia justru tertarik dengan cara Nadia menggenggamnya begitu penuh hati-hati, seolah itu bagian dari dirinya yang harus dilindungi. “Kalau kamu mau duduk di sini, aku pindah sebelahmu,” kata Naila waktu itu. Tidak ada nada kasihan, tidak ada keraguan. Cuma ketulusan sederhana yang membuat Nadia mengangguk pelan.
Hari-hari berikutnya, persahabatan itu tumbuh tanpa komando. Naila selalu menunggu Nadia berjalan setiap kali mereka hendak ke perpustakaan atau kantin. Ia tidak menuntut Nadia lebih cepat, tidak pula mencoba membantu secara berlebihan. Ia hanya menyesuaikan langkahnya, dan kehadirannya cukup membuat Nadia merasa tidak sendirian. Dalam waktu singkat, mereka berbagi banyak hal: tawa kecil di sela jam pelajaran, gambar doodle di buku catatan, rahasia tentang guru favorit, bahkan cerita tentang mimpi mereka nanti.
Namun persahabatan yang tulus tidak selalu berjalan mulus. Beberapa anak laki-laki sering menggoda Nadia setiap jam istirahat. “Jalanmu lambat banget, Nad. Kalo lomba lari kalah sama kura-kura!” teriak salah satunya sambil tertawa. Nadia menunduk; ia terbiasa diejek sejak kecil, tapi tetap saja sakit. Justru karena itu ia semakin berusaha tidak merepotkan siapa pun. Ia enggan keluar kelas saat istirahat, menolak ajakan jalan-jalan kecil di halaman, bahkan menolak ikut kegiatan kelompok yang perlu bergerak ke ruang lain.
Sampai akhirnya, suatu siang, ketika mereka mendapat tugas membuat majalah dinding kelas, Naila tiba-tiba berdiri di depan anak-anak yang mengejek Nadia. “Kenapa kalian pikir itu lucu? Dia mungkin jalan pelan, tapi dia tetap sampai. Kalian yang ngomong besar itu bahkan belum tentu bisa sekuat dia,” kata Naila dengan suara tegas yang belum pernah Nadia dengar
sebelumnya. Ruangan langsung hening. Anak-anak itu terdiam, sebagian tersipu malu. Dan sejak hari itu, tidak ada lagi yang berani mengolok-olok Nadia.
Namun justru setelah kejadian itu, Nadia semakin merasa bersalah. Ia takut dianggap sebagai beban bagi Naila. Suatu sore, saat mereka sedang mengerjakan tugas menggambar bersama, Nadia berkata pelan, “Kamu nggak harus bela aku setiap waktu, Nail. Aku kadang ngerasa cuma bikin hidup kamu rumit.”
Naila menghentikan goresan pensilnya dan menatap Nadia lama. “Kamu bukan beban. Kamu temanku. Dan teman itu bukan cuma buat senang-senang. Teman itu ada karena kita pilih untuk ada.” Kata-kata itu sederhana, tapi membuat hati Nadia hangat seperti diselimuti sesuatu yang halus.
Hari-hari berlalu, dan suatu waktu sekolah mengumumkan acara “Jalan Ceria”, sebuah kegiatan jalan santai seluruh murid. Nadia langsung menunduk waktu mendengar pengumuman itu. Ia tidak mungkin mengikuti kegiatan yang jaraknya cukup jauh. Ia bahkan membayangkan dirinya tertinggal jauh dibelakang, membuat orang-orang memperhatikannya penuh kasihan.
Saat daftar peserta dibagikan, Nadia berdiam diri. Ia sudah siap untuk tidak ikut. Tapi Naila mengambil dua formulir dan meletakkan salah satunya di depan Nadia. “Kita ikut berdua, ya,” ucapnya ceria.
“Aku nggak bisa, Nail… Kamu tahu aku nggak bisa jalan sejauh itu,” bisik Nadia dengan suara yang hampir hilang.
Naila tersenyum, bukan senyum yang memaksa, tapi yang membuat dunia terasa lebih ringan. “Kalau kamu capek kita berhenti. Kalau kamu lambat aku ikut lambat. Kalau kamu mau nyerah, aku ikut duduk sama kamu. Intinya, aku mau ikut karena ada kamu.”
Nadia terdiam lama. Rasanya seperti ada sesuatu yang menekan dadanya—antara takut dan terharu. Dan akhirnya, ia angkat wajahnya dan mengangguk kecil.
Hari kegiatan itu tiba. Matahari pagi bersinar lembut, dan halaman sekolah penuh oleh murid serta orang tua yang mendampingi. Nadia memegang tongkatnya erat-erat, sementara Naila berjalan di sampingnya dengan semangat luar biasa. Ketika kegiatan dimulai, banyak anak berlari riang di depan. Tapi Nadia dan Naila berjalan perlahan, menyusuri rute yang sudah ditentukan.
Beberapa kali Nadia ingin berhenti. Kakinya mulai nyeri, napasnya pendek, dan kerumunan anak-anak sudah jauh di depan. Tapi setiap kali ia melambat, Naila berkata, “Sedikit lagi, Nad. Kita bareng-bareng.”
Pada satu titik, di dekat tikungan lapangan, Nadia mulai gemetar. “Aku… capek banget, Nail…”
Naila tidak panik. Ia jongkok, menatap wajah sahabatnya. “Kalau kamu mau berhenti, kita duduk sini aja. Nggak apa-apa kalau kita nggak sampai garis akhir. Tapi aku janji satu hal… kita sampai sejauh yang kamu bisa.”
Nadia menatapnya lama, lalu mengangguk. Mereka duduk sebentar di pinggir lapangan. Tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengasihani. Hanya dua sahabat yang saling menguatkan.
Ketika mereka kembali berjalan, langkah Nadia lambat tapi mantap. Sakit itu masih ada, tapi kali ini ia tidak merasa melawannya sendirian. Dan entah bagaimana, tanpa mereka sadari, mereka berdua berhasil mencapai garis akhir. Tidak disambut sorakan meriah, tidak dielu elukan orang—tetapi ketika mereka melewati garis itu, Naila menggenggam tangan Nadia kuat-kuat dan berkata, “Lihat? Kamu bisa.”
Nadia menunduk, air mata kecil jatuh tanpa ia sadari. “Terima kasih ya… udah nggak pernah ninggalin aku.”
Naila tersenyum lebar. “Mana mungkin aku ninggalin. Kamu itu rumah buat aku.”
Hari itu, dua kursi di pojok kelas kembali terisi seperti biasa. Bedanya, Nadia tidak lagi melihat tongkatnya sebagai batasan. Ia melihatnya sebagai bagian dari sebuah perjalanan—perjalanan yang tidak ia tempuh sendirian, karena di sampingnya selalu ada seorang sahabat yang memilihnya tanpa syarat.
Dan sejak hari itu, Nadia belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dari kaki yang mampu berlari cepat, tetapi dari hati yang mampu bertahan… dan dari seorang sahabat yang memutuskan untuk tetap tinggal.
Amanda Hasna Nisa - 25010024032