"LANGKAH PERTAMA VERO"
Sekolah Dasar Nusantara Raya di pagi hari itu dipenuhi oleh tawa gembira para siswa yang berlari-lari, menyapa para guru, dan bercanda sebelum bel berbunyi. Namun, tidak semua anak merasa nyaman dengan suasana yang ramai dan penuh interaksi sosial tersebut. Di dekat gerbang, seorang anak laki-laki berdiri sambil memegang kereta kecil berwarna merah yang diputarnya berkali-kali. Dia adalah Vero, murid baru di kelas dua yang baru kali ini merasakan suasana sekolah umum setelah sebelumnya belajar di rumah dan mengikuti terapi perilaku. Vero merupakan seorang anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), sebuah kondisi perkembangan yang mempengaruhi komunikasi sosial, pengaturan sensorik, dan pola perilaku tertentu.
Ibu Vero, Bu Liana, menundukkan tubuhnya agar setinggi putranya, sementara ia menyesuaikan tas kecil bergambar lokomotif yang ada di punggung Vero. “Jika kamu merasa tidak nyaman, jangan ragu untuk memberi tahu Bu Maya, ya? ” ucapnya dengan lembut. Vero tidak menjawab dengan tatapan matanya, melainkan menarik ujung bajunya—sikap khasnya saat cemas. “Boleh pulang? ” bisiknya dengan suara pelan. Ibunya tersenyum sambil mengelus rambutnya. “Coba dulu, nak. Ibu akan tetap ada di sini. ”
Saat bel berbunyi, para siswa masuk ke kelas dengan penuh semangat. Vero melangkah perlahan, langkahnya tampak ragu tetapi tetap bergerak maju. Bu Maya, yang merupakan wali kelas sekaligus guru kelas dua, menyambutnya dengan hangat. “Selamat datang, Vero. Bu Guru senang sekali melihatmu di sini,” ujarnya sambil memberikan sebuah kartu bergambar yang bertuliskan "duduk" sebagai alat bantu visual untuk membantu Vero memahami instruksi dengan lebih baik. Vero ditempatkan di dekat dinding, untuk mengurangi gangguan suara—ini adalah salah satu langkah dalam penyesuaian pembelajaran inklusif.
Di dalam kelas, tidak semua siswa langsung menerima kehadiran Vero. Ketika pelajaran dimulai, ia memainkan kereta kecilnya di pinggir meja agar dapat tetap fokus. Beberapa siswa mulai mengejeknya. “Ngapain bawa mainan? Itu untuk bayi,” sindir Dio. Vero berhenti
bermain, tubuhnya menjadi tegang. Ia ingin menjelaskan bahwa mainan tersebut membantunya fokus, tetapi kata-kata itu tidak bisa diucapkan. Bu Maya mendekatinya dan berkata dengan tegas namun lembut, “Setiap anak mempunyai cara belajar yang berbeda. Vero menggunakan keretanya untuk membantunya berkonsentrasi. ” Kelas menjadi sunyi; untuk pertama kalinya, siswa-siswa menyadari bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang keliru.
Saat waktu istirahat, anak-anak berlari ke lapangan dan bermain dengan suara yang cukup riuh. Bagi Vero, kebisingan tersebut cukup menyakitkan, membuatnya menutup telinga dan duduk di sudut koridor. Bu Maya datang membawa earplug sebagai alat bantu untuk sensorik, agar Vero tetap dapat berada di lingkungan sekolah tanpa merasa panik. Namun, Dio kembali mendekat dan bertanya, “Kalau tidak mau bermain, kenapa harus sekolah? ” Vero menunduk, tidak mempunyai jawaban. Namun, di sampingnya, Alya duduk dan memberikan roti. “Dia sedang belajar. Caranya hanya berbeda,” ujarnya dengan tegas. Vero tidak langsung menatap Alya, tapi ia bergerak sedikit lebih dekat—sebuah tanda bahwa ia mulai menerima keberadaan orang lain di sekitarnya.
Beberapa minggu kemudian, kelas diberikan tugas untuk presentasi tentang benda favorit. Vero memilih untuk membahas tema kereta. Ketika hari presentasi tiba, tubuhnya bergetar saat melihat teman-temannya memandangnya. Namun, saat ia mengeluarkan kereta mainannya dan menyusun di meja, ia kembali fokus. Dengan suara pelan namun tegas ia berkata, “Kereta… bergerak… cepat… tetapi teratur… seperti aku. ” Kelas menjadi hening dan mendengarkan. Vero melanjutkan, “Aku tidak suka suara keras… tetapi aku menyukai suara roda kereta… karena iramanya sama. ” Tepuk tangan pun bergemuruh setelah itu—sebuah penghargaan yang tidak hanya ditujukan pada presentasinya, tetapi juga untuk keberaniannya berbicara di depan umum.
Namun, proses inklusi tidak selalu berjalan dengan baik. Suatu ketika ada perubahan jadwal yang tiba-tiba dan kelas dipindahkan ke perpustakaan. Tanpa adanya alat bantu visual, Vero merasa panik, menangis, memukul meja, dan berlari keluar dari kelas. Beberapa siswa merasa kebingungan. Bu Maya kemudian menjelaskan, “Vero tidak marah kepada kita. Dia merasa tertekan karena rutinitas yang berubah. Mari kita bantu dia merasa lebih aman, ya. ” Itu bukanlah hari di mana Vero belajar mengenai dunia, tetapi hari di mana kelas belajar untuk memahami kebutuhan temannya.
Di sisi lain, tantangan juga muncul dari orang dewasa. Seorang orang tua mendatangi kepala sekolah dan bertanya, “Mengapa anak autis ditempatkan di sekolah umum? Anak saya jadi terdistraksi. ” Bu Maya menjawab dengan tenang, “Sekolah bukanlah tempat untuk mengelompokkan anak-anak yang serupa. Sekolah adalah tempat bagi anak-anak belajar untuk menghargai perbedaan. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang setara. ” Meskipun tidak sepenuhnya setuju, orang tua tersebut mulai memahami bahwa inklusi adalah usaha bersama, bukan sebuah beban.
Ketika tahun ajaran berakhir, Vero mulai bermain dengan teman-temannya. Dia tidak lagi duduk sendirian saat istirahat. Dia membantu Dio membuat maket rel kereta untuk kompetisi kreativitas kelas, dan saat pembagian raport, Bu Maya menulis sebuah pesan:
“Vero tidak perlu berubah untuk menyesuaikan dirinya dengan dunia, tapi dunia belajar untuk menyesuaikan diri demi menerima Vero. ”
Sore itu, Vero pulang dengan kereta kecil di tangannya. Bukan lagi sebagai pelindung dari dunia, tetapi sebagai lambang bahwa dia telah mengambil langkah besar dalam hidupnya. Dunia yang dulunya terasa asing kini memberikan tempat untuknya, dan ia berani melangkah ke dalamnya.
Pesan dari cerita ini adalah bahwa pendidikan inklusif memberikan peluang bagi setiap anak, termasuk yang mengalami autisme, untuk belajar dalam lingkungan yang sama tanpa perbedaan. Setiap anak memiliki metode belajar yang unik, dan tanggung jawab sekolah adalah untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya empati, penerimaan, serta penyesuaian dalam proses pembelajaran, anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat tumbuh dengan baik dan berperan dalam kelas. Inklusi tidak mengharuskan anak untuk menjadi seragam, melainkan menciptakan ruang bagi keberagaman untuk berkembang dalam dunia pendidikan.
Frisca Divana Syah Hafiz - 25010024016