Langkah yang Sempat Terhenti
Di sebuah sekolah terdengar alunan irama yang mengalun di ruangan kesenian dengan suara melodi yang indah mengisi udara dengan lembut. Seorang gadis kecil berdiri di tengah-tengah ruangan dengan antusias, dia mulai menggerakkan tubuhnya seirama dengan setiap alunan yang terdengar. Tangan kanannya terangkat dengan anggun, sementara kakinya melangkah pelan mengikuti irama. Meskipun wajahnya terlihat serius, ada kebahagiaan yang terpancar, seolah tarian tersebut merupakan bagian dari jiwanya. Setiap langkah yang diambil mencerminkan betapa dalam cintanya pada seni tari. Ruangan yang sederhana itu terasa bersemangat berkat keindahan dan pesona gerakan yang ia tunjukkan.
“Sudah cukup latihan hari ini kalian bisa bersiap untuk pulang, jangan lupa jaga kesehatan dan tetap berlatih mandiri karena waktu kalian sudah dekat.” Ucap seorang guru yang telah mengajar.
“Baik ibu, terima kasih bu.” Ucap anak anak dengan serentak.
Semua siswa telah berhamburan keluar ruangan untuk kembali ke rumah masing masing, berbeda dengan dua siswi yang masih didalam sambil membereskan tasnya. “Yuk pulang!.” Serunya
“Sebentar, aku masih ingin menyempurnakan langkah tarianku.” Katanya “Aira, ini sudah larut kita bisa berlatih esok hari.” Kata Salsa
“Sebentar, hanya sebentar saja jika kamu ingin pulang duluan saja aku tidak apa apa.” Kata Aira dengan senyumannya
“Huh, baiklah hanya sebentar akan aku tunggu disini.” Kata Salsa sembari kembali duduk ke tepat didepan Aira yang sedang menari.
Aira kembali menari dengan lebih pelan, lebih dalam, seolah ia ingin memastikan setiap langkahnya benar-benar sempurna dengan suasana sore yang semakin tenang. Cahaya senja yang menyelinap dari jendela memancar di wajahnya, menerangi ruangan, dan melukiskan bayangan lembut di sekitarnya. Setelah beberapa menit Aira menyudahinya, sambil berjalan ke arah cermin yang ada di ruangan sambil menyeka peluh yang ada di pelipisnya.
“Keren Ra kamu pasti bisa, semangat ya. Sekarang ayo kita pulang sudah terlalu larut nanti ibu khawatir.” Ucap Salsa sambil mengusap bahu Aira dengan gerakan lembut seakan menyalurkan semangat melalui sentuhannya.
“Iya, terima kasih ya. Ayo pulang, terima kasih sudah menunggu.” Kata Aira dengan senyumnya.
“Iya sama sama.” Ucap Salsa
Mereka melangkah pulang dengan hati yang hangat dan tubuh berbalut peluh, diiringi matahari yang kian tenggelam.
“Assalamualaikum, Aira pulang!.” Seru Aira kedalam rumah sembari menyalami ibu “Waalaikumsalam nak, tumben kok pulang sangat larut?.” Tanya ibu sembari mencium kepala Aira.
“Iya bu, tadi Aira latihan sendiri lagi jadi agak sore pulangnya.” Jawab Aira “Oh yaudah sekarang bersih bersih dulu lalu makan ya, ibu sudah masak.” Ucap ibu “Baik ibu, aku ke kamar dulu.” Kata Aira
Beberapa saat kemudian, Aira kembali ke meja makan bersama ibu untuk makan malam ditemani obrolan ringan yang membuat suasana rumah terasa hangat.
“Oh ya bu, 2 bulan lagi aku tampil pada lomba tari tingkat nasional, doain aku ya bu.” Kata Aira
“Iya ibu selalu mendoakan dan selalu mendukung Aira, tapi jangan terlalu memaksakan diri ya nak jaga kesehatanmu ibu tidak ingin Aira kecapekan nantinya.” Ucap ibu sembari mengelus kepala Aira dengan lembut.
“Baik ibu, Aira akan mengingatnya terima kasih ibu.” Jawab Aira dengan senyumannya.
Hari-hari Aira berjalan seperti biasa ia berangkat ke sekolah, berlatih bersama Salsa, lalu pulang saat senja tiba. Di sekolah ia akan fokus belajar, berbincang dengan teman teman dan di penghujung harinya di sekolah ia akan berlatih menari bersama Salsa dan teman teman seperjuangan untuk bisa memenangkan lomba tari tingkat nasional karena itu adalah cita cita Aira sebagai penari dan bisa membanggakan ibunya lewat bakat dan minatnya di bidang seni, di sepanjang malam, Aira akan belajar untuk esok hari dan setelahnya ia akan menyempatkan waktu sebentar sebelum tidur untuk melatih gerakan tariannya agar lebih rapi
dan luwes, Aira menjalani hari harinya dengan sukacita meskipun setiap harinya melelahkan karena ia harus menyiapkan diri untuk ujian dan lomba menari. Aira tidak pernah mengeluh tentang harinya yang melelahkan karena harus berlatih menari setiap harinya, karena dia sudah menyukai menari dan bakatnya sudah terlihat sejak ia masih menginjak usia 5 tahun, baginya menari adalah bagian dari dirinya. Sejak kecil ia sudah mengikuti berbagai lomba tari dari tingkat antar sekolah hingga tingkat provinsi dan sering pula ia meraih kejuaraan, di balik itu semua ia tak luput dari doa dan dukungan dari orang tuanya, hingga saat ini ia ingin menjadi penari yang handal untuk bisa membanggakan ibunya dan mewariskan budaya di Indonesia maka dari itu ia dengan penuh semangat berlatih untuk bisa memenangkan lomba tari solo tingkat nasional, karena jika ia bisa memenangkan lomba tersebut ia bisa melanjutkan pendidikan di Universitas seni terbaik di Indonesia dengan jalur prestasi dan bisa mendalami seni tari di Universitas tersebut karena itu adalah salah satu cara untuk bisa menggapai cita citanya sebagai penari yang hebat.
Namun, suatu hari terjadi sesuatu yang mengubah segalanya dalam hidup Aira. Bel terakhir sudah berbunyi menandakan bahwa pembelajaran sudah selesai dan waktunya pulang, Aira berencana ingin pergi ke toko persewaan baju untuk mempersiapkan lombanya yang sebentar lagi bersama Salsa karena tempat persewaan yang akan Aira tuju harus melewati jalanan besar dan ia takut untuk menyebrang sendiri.
“Sal, boleh minta tolong nanti sore temenin aku ke toko sewa baju buat lomba?” Tanya Aira “Aduh maaf Ra aku nanti sore nemenin ibu ke rumah tante gimana kalau besok saja, besok aku bisa, gimana?” Tawar Salsa
“Emm.. kalo besok aku nggak bisa, aku mau nganterin pesanan ibu Sal, yaudah nggak papa nanti aku sendiri aja.” Kata Aira
“Maaf ya Ra.” Ucap Salsa
“Iya aman Sal, yaudah ayok ke ruang latihan.” Ucap Aira
“Ayo.” Jawab Salsa
Setelah itu mereka pergi untuk latihan yang tidak lama akan mendekati hari menuju perlombaan, selang beberapa saat kemudian matahari mulai semakin tenggelam dengan memberikan sinar berwarna jingga yang ikut masuk kedalam ruangan latihan yang membuat suasana menjadi hangat pertanda bahwa latihan telah usai.
“Gimana Ra, kamu jadi hari ini? Apa nggak kesorean?” Tanya Salsa dengan nada khawatir “Iya jadi hari ini, setelah dari toko nya nanti aku langsung pulang ko.” Jawab Aira
“Iya deh kamu hati hati ya biasanya kalo sore jalanan ramai nanti bawa sepedanya pelan pelan aja ya, maaf aku nggak bisa nemenin.” Kata Salsa
“Iya Sal makasih ya, nggak papa sendiri juga.” Kara Aira
“Yaudah ayo pulang.” Ajak Salsa
“Ayo.” kata Aira, setelah itu mereka pun pulang kerumah masing masing. “Assalamualaikum bu, Aira pulang.” Seru Aira
“Waalaikumsalam nak, ayo makan ibu sudah masak.” Ajak ibu
“ iya bu, oh ya bu habis ini aku izin mau ke toko persewaan baju ya?” Kata Aira “Dimana? Sendiri?” Tanya ibu
“Di toko seberang bu, iya sendiri tadi ngajak Salsa tapi dia nggak bisa.” Jawab Aira “Kalau sore gini jalanan ramai nak, kenapa nggak nunggu besok hari libur sekolah aja?” Tanya ibu dengan nada khawatir
“Kelamaan bu kalo nunggu libur nanti malah mepet mepet hari lombanya takut letetran karena banyak yang harus disiapkan bu.” Jelas Aira pada ibu
“Yaudah kalo gitu hati hati ya nanti langsung pulang, jangan ngebut ngebut bawa motornya.” Kata ibu
“Iya bu nanti pelan pelan aja, yaudah aku siap siap dulu ya habis itu makan.” Jawab Aira
Setelah itu Aira pergi ke kamar dan bersiap untuk pergi ke toko persewaan baju dan setelah bersiap Aira makam terlebih duly bersama ibu dan bergegas berangkat ke toko setelah berpamitan pada ibu, Aira menyalakan motornya dan pergi meninggalkan pekarangan rumah. Selang beberapa saat kemudian Aira sampai pada jalanan besar yang ternyata sudah ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang membuat Aira sedikit takut, dengan pelan pelan ia mencoba untuk menyebrang dengan dibantu oleh orang yang biasanya menyebrangkan kendaraan, setelah itu ia bisa menyeberang dengan lancar dan ia menuju ke tokonya. Beberapa saat kemudian ia memilih baju yang diperlukan setelah memilih dan membayarnya Aira bergegas pulang karena langit sudah mulai gelap ia menyalakan motornya dan pergi meninggalkan toko, hingga sapailah Aira pada jalanan besar yang harus ia sebrangi untuk menuju ke rumah, dengan hati hti Aira menyebaringinya dengan mata yang waspada karena entah kenapa disaat itu orang yang biasa menyebrangkan tidak ada jadi Aira dengan pelan pelan menjalankan motornya.
Brakkkk......
Terdengar samar samar suara teriakan dari orang sekitar yang memenuhi telinga Aira dengan mata yang sudah buram tak lama pendengarannya melemah bersamaan dengan matanya yang
tertutup, setelah itu terdengar suara sirine ambulance yang memenuhi jalanan dan menuju ke rumah sakit. Di rumah sakit Aira sudah terkulai lemas disusul dengan suara tangis ibu di luar ruangan ditemani oleh Salsa dan ibunya yang bersama sama mendoakan Aira, setelah beberapa lama kemudian operasi pun selesai dan ibu yang masih belum berhenti menangis kemudian dokter yang keluar dari ruangan.
"Keluarga dari pasien?" Kata dokter
"Iya dok, gimana Aira?" Tanya ibu
"Pasien sudah baik baik saja, tapi mohon maaf ibu, karena benturan yang keras pada sumsum tulang belakangnya yang menyebabkan pasien lumpuh permanen." Jelas dokter "Apa lumpuh dok?" Tanya ibu untuk memastikan
"Iya ibu, mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Kata dokter "Baiklah dok, terima kasih" Kata ibu
"Sama sama ibu, permisi." Kata dokter
Beberapa hari kemudian Aira masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh bius, suatu hari saat Aira terbangun dari tidurnya.
"Ibu..." Panggil Aira dengan suara seraknya
"Iya nak, ibu disini ada yang sakit? Ibu panggil dokter dulu ya." Kata ibu dengan Aira yang menggelengkan kepalanya
"Air bu." Kata Aira
Mendengar itu ibu langsung mengambil segelas air yang ada di sebelah kasur. "Ini minumlah, pelan pelan." Kata ibu seraya membantu Aira untuk minum setelah itu ibu menaruh kembali gelasnya
"Bu, kenapa kaki ku nggak berasa ya? Apa karena bius ya bu?"
"Nak, yang sabar ya karena benturan yang keras kamu lumpuh permanen nak." Jelas ibu "Nggak mungkin bu, kenapa bisa?" Tanya Aira dengan membuka selimut yang menutupi kakinya seraya menangis tersedu sedu.
"Yang sabar ya." Kata ibu untuk menenangkan Aira
"Terus gimana aku bisa nari bu." Tanya Aira
"Kamu masih bisa berkarya nak, selain tari." Kata ibu
Aira yang masih meratapi nasibnya dengan menangis tersedu sedu dengan ibu yang tetap disampingnya untuk menenangkan. Setelah beberapa minggu kemudian Aira dibolehkan untuk pulang kerumah, selama itu pula Aira menjadi pendiam dan sering melamun selama di
rumah sakit. Saat tiba dirumah Aira dibantu oleh ibu untuk segala keperluannya seperti makan, mandi, dan tidur dan sesekali dijenguk oleh Salsa dengan segala kata kata untuk membangkitkan semangat hidup Aira, saat itu pun Aira masih belum menerima apa yang telah menimpanya sampai suatu hari Salsa berkunjung kerumah dengan membawa segala ide nya untuk menghidupkan gairah semangat Aira.
"Ra, kamu nggak bisa kayak gini terus kamu harus semangat Ra, kamu bisa selain tari masih ada melukis, menyanyi kamu bisa Ra." Kata Salsa
"Nggak bisa Sa udahlah, aku udah nggak bisa ngapa ngapain." Kata Aira dengan pasrah "Bisa Ra, kamu hanya nggak bisa jalan bukankah masih bisa melukis? Kamu juga suka kan melukis ?" Kata Salsa
"Hmmm iya si.." Jawab Aira
"Atau kamu bisa menari di kursi roda mu dan menari?" Usul Salsa
"Gimana bisa? Nggak akan bisa kalau hanya disini." Kata Aira seraya melihat kursi rodanya "Bisa kamu bisa, masih bisa menggerakkan tangan mu Ra, atau kamu ikut kursus melukis saja? Kamu kan suka melukis." Usul Salsa
"Iya si, menurutmu gimana Sa?" Tanya Aira
"Aku mendukung segala keputusan mu Ra, kamu mau kursus melukis nanti aku bantu semuanya yang aku bisa." Kata Salsa dengan senyum tulusnya
"Emmm.. okedeh aku mau ikut kursusnya." Kata Aira
"Yes nanti aku daftarin ya, nanti aku kabarin lagi oke?" Kata Salsa dengan semangat "Terima kasih ya Sal, untuk semuanya." Kata Aira dengan senyumnya yang tulus "Iya sama sama Ra." Jawab Salsa dengan senyuman
Setelah hari itu Aira lebih bersemangat untuk menjalani hari harinya karena ia sudah mulai bisa menerima semua yang menimpanya setelah beberapa bulan yang telah dilewati, sepanjang harinya ia isi dengan melamun dan tak pernah tersenyum seperti tak punya semangat untuk hidup. Mulai hari itu ia kembali bersemangat untuk menggapai cita citanya dengan cara yang lain, melukis itulah yang ia lakukan setiap hari dengan tangannya yang lihai merubah canvas putih menjadi lebih berwarna karena ia mengikuti kursus dengan tekun, lukisan Aira lebih hidup dan tertata dari sebelum ia mengikuti kursus karena ia hanya suka melukis bukan lihai dalam menggunakan kuas.
Kadang perjalanan hidup kita tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Sesuatu yang telah hilang tidak akan kembali, namun itu bukan alasan untuk kehilangan harapan. Aira mengerti bahwa mencapai impian tidak selalu harus dilakukan dengan satu cara. Ketika langkahnya terhenti, tangannya justru menemukan jalan baru untuk menciptakan sesuatu yang tak kalah indah. Sesungguhnya, keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal untuk menggali potensi yang selama ini terpendam didalam diri yang tak pernah kita duga.
Lailatul Maghfiroh - 25010684163