Lautan Kedamaian
“Kapan penderitaan ini berakhir?” gumamku dalam hati menatap sayu sirip yang melekat semenjak aku lahir ke dunia nan jauh dari cahaya matahari. Perlahan aku sadari, sirip yang selalu kupamerkan ke sepupu-sepupuku ini mulai berubah warna. Dahulu, tiada seorang pun di negeri Mermaidia yang memiliki sirip kuning keemasan seterang dan selembut milikku. Namun sekarang, semua duyung memiliki warna sirip yang sama yaitu perpaduan warna ungu keabuan dan hijau lumut dengan tekstur kasar.
“Sakit, seluruhnya sakit. Setiap aku bergerak, sirip dan seluruh badanku terasa sakit layaknya ditusuk ikan buntal,” Mire yang awalnya berbaring di tumpukan terumbu karang beralih ke posisi duduk sembari memperlihatkan kondisi siripnya menyahut dengan nada frustrasi.
“Sebenarnya ini ulah siapa? Dosa apa yang pernah diperbuat bangsa kita sehingga Tuhan mengirimkan penyakit ini,” tanya Gnabi padaku.
“Akupun tak tahu Gnabi, bukankah Tuhan sudah menakdirkan akhir dari bangsa kita? Aku sudah pasrah dengan segala konsekuensi-Nya,” jawabku.
Sebenarnya wabah berubahnya warna sirip para duyung sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu. Awalnya sirip kuning semakin memudar. Namun lama kelamaan warna hijau mulai muncul perlahan dari sirip bagian bawah. Perubahan warna tersebut ternyata disusul dengan mengelupasnya sirip dan nyeri ketika bergerak melalang buana di dasar laut.
Di tengah-tengah keheningan dan kepasrahan itu, nyanyian melengking berulang kali terdengar dari kerajaan di pusat kota Mermaidia. Nyanyian tersebut mengisyaratkan adanya suatu darurat yang sedang terjadi. “Kita harus segera berkumpul,” Gnabi mengajakku dan Mire untuk segera bergegas pergi ke sumber suara tersebut.
Para duyung ternyata telah berkumpul jauh lebih cepat dari dugaanku. Mereka mengeluhkan hal yang sama. Bahkan ada satu duyung yang mulai kehilangan kesadaran hingga tidak bisa menggerakkan siripnya dan membutuhkan bantuan dari duyung sekitar. Tuan Lixie, raja Mermaidia, keluar dari balik susunan batu putih besar disertai terumbu karang indah yang konstruksinya sudah beribu abad lalu.
“Para duyung sekalian disini, kita sedang dalam keadaan darurat. Perubahan warna dan nyeri di bagian tubuh kalian disebabkan karena hilangnya salah satu dari tujuh mutiara penjaga
keberlangsungan negeri ini. Kemungkinan pencuri batu itu adalah sang Penyihir yang berada tak jauh dari sini,” Tuan Lixie menyampaikan hal tersebut dengan lantang di depan para duyung.
“Terus kita harus apa tuan untuk mengembalikan seperti semula?” tanyaku kepadanya.
“Satu-satunya cara untuk mengambil batu itu adalah kita semua pergi ke tempat Penyihir tersebut. Namun ingat, jangan ada amarah yang menguasai diri kita. Amarah yang tak terkendali akan menyebabkan situasi yang lebih parah dari wabah ini,” mendengar hal tersebut seluruh duyung di kota Mermaidia menyusuri dasar laut untuk menemukan rumah persembunyian penyihir.
Di balik kegelapan, terlihat seorang memakai pakaian panjang layaknya jubah khas penyihir melintasi gerombolan duyung kerajaan Mermaidia. “Berhenti, jangan lanjut,” Suara mire yang keras menghentikan perjalanan dan fokus para duyung. “Apakah kamu tau siapa yang membuat wabah besar di kota kami?” tanya Mire. “Refleksikan terlebih dahulu apa kesalahan kalian, mungkin keadaan saat ini adalah sebab akibat dari tindakan kalian sendiri,” seketika duyung berjubah hitam segera pergi meninggalkan kami.
“Apakah kamu tahu kesalahan apa yang kami perbuat? Sungguh kami sangat menyesali perbuatan kami yang mengakibatkan adanya wabah ini menghambat aktivitas kami sehari-hari. Jikalau kamu tau orangnya, kami akan sangat berterimakasih dan segera meminta maaf kepadanya” tuturku.
“Salah satu dari kalian telah mengolokku karena memilih menyendiri dan tidak tinggal di pusat kota Mermaidia,” Sahut orang tersebut. “Apakah kamu tau siapa orang yang telah kami sakiti hatinya? Kami benar-benar ingin berdamai dan meminta maaf atas kelakuan salah satu dari kami, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” Tuan Lixie membalas.
“Orang itu adalah aku. Aku-lah yang kaum kalian olok-olok. Aku-lah yang menyebabkan seluruh kekacauan ini. Aku sangat tersiksa terbayang-bayang omongan jahat kaian tempo hari,” sahut seseorang yang tak lain adalah penyihir yang mencuri baru mutiara kerajaan. Sontak ia meninggalkan kerumunan duyung kota Mermaidia. “Tunggu, maafkanlah kesalahan kami. Kami meminta maaf atas segala kelakuan kasar bangsa kami. Kami minta maaf telah melukai hatimu,” seruku menghentikan langkah penyihir.
Setelah berdiskusi panjang lebar menggunakan kepala dingin, akhirnya terdapat kesepakatan akhir bahwa penyihir memulihkan keadaan seperti semula serta memaafkan dengan syarat para duyung di Mermaidia tidak mengulangi hal yang sama.
Cerita di atas adalah bentuk dari sila ke-2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Duyung duyung di kota Mermaidia tidak malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka perbuat dan penyihir menerima permintaan maaf tersebut. Akhirnya, para duyung dan penyihir hidup damai dan rukun selamanya.
Alfina Ristanti Amalia - 25080694102