Lukisan di Dinding Kosong
Kampus Universitas Nusantara di pagi hari selalu ramai oleh hiruk pikuk kehidupan mahasiswa. Tawa, obrolan, dan debat berseliweran di koridor-koridor tua. Namun, di tengah keriuhan itu, Maya seperti bayangan yang bergerak sunyi. Bagai hantu yang melayang di antara dunia nyata, ia selalu duduk di bangku paling belakang, matanya tertuju pada buku catatan atau jendela, menghindari segala kemungkinan tatapan.
Maya merupakan salah satu mahasiswa Universitas Nusantara yang cerdas. Meski merupakan mahasiswa berprestasi dengan segudang nilai esai dan ujian yang memukau. Maya harus berjuang melawan gangguan kecemasan sosial yang menghantuinya. Ruang kelas, yang seharusnya menjadi tempat belajar, justru berubah menjadi arena yang mencemaskan. Sekadar pertanyaan dari dosen bisa membuatnya gugup; jantung berdetak kencang, tangan menjadi dingin dan basah, serta pikirannya yang jernih tiba-tiba hilang. Perasaan takut akan penilaian dan bisikan-bisikan negatif dari sekitarnya menjadi rantai yang paling sulit ia putus.
Hari itu, di kelas Filsafat Modern yang diampu oleh Pak Ardi, suasana tampak berbeda. Pak Ardi bukanlah dosen biasa. Di balik kacamata bundarnya, matanya memancarkan ketenangan dan kedalaman yang jarang ditemui. Ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menyentuh relung jiwa.
“Selamat pagi, semuanya,” sapa Pak Ardi dengan suara yang hangat dan menenangkan. “Hari ini, kita akan membahas tentang keberanian.”
Maya menarik napas dalam-dalam. Keberanian. Kata yang baginya terasa asing dan menakutkan.
“Bukan keberanian untuk berperang,” lanjut Pak Ardi, berjalan perlahan di antara bangku mahasiswa, “tetapi keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri. Dengan ketakutan kita yang paling dalam.”
Dia kemudian berhenti di depan papan tulis yang masih kosong. “Karena itu, tugas kalian untuk pertemuan ini bukanlah esai atau resume.”
Beberapa mahasiswa mulai bersiap-siap, penasaran.
“Saya ingin kalian melukis,” ujar Pak Ardi, dan seketika ruangan pun riuh oleh bisikan-bisikan keheranan. “Tapi bukan di atas kanvas. Lukislah ketakutan terbesarmu di atas kanvas imajinasi. Lalu, ceritakanlah padanya. Jelaskan bentuk, warna, dan rasanya. Buatlah ia nyata, agar kalian bisa berhadapan dengannya.”
Tawa ringan dan ekspresi bingung bertebaran. “Lho, maksudnya gimana, Pak?” tanya Reza, mahasiswa yang selalu percaya diri.
“Gunakan medium apa saja yang kalian mau,” jawab Pak Ardi. “Tulisan, coretan, puisi, audio, atau bahkan jika kalian bisa melukisnya sungguhan, silakan. Kumpulkan padaku minggu depan.”
Kebingungan merebak, tapi tidak bagi Maya. Saat yang lain melihat tugas ini sebagai sesuatu yang abstrak dan membingungkan, bagi Maya, ini justru seperti sebuah jembatan yang tiba-tiba dijulurkan ke dunianya yang sunyi. Ini adalah pelarian, pikirnya. Sebuah kesempatan untuk berbicara tanpa harus membuka suara di depan banyak orang.
Malam-malam berikutnya, di kamar kosnya yang hening, Maya menuruti perintah Pak Ardi. Di depan laptopnya, ia membiarkan jari-jemarinya menari di atas keyboard, menuliskan segala yang selama ini ia pendam. Ia melukis dengan kata-kata.
“Ketakutanku berwarna abu-abu, seperti kabut tebal yang menyelimuti kota di pagi hari. Ia tidak memiliki bentuk yang pasti, tetapi kehadirannya nyata, mencekik. Ia adalah dinding kaca yang memisahkanku dari dunia. Aku bisa melihat semua orang—tertawa, berbicara, terhubung—tetapi aku tidak bisa menembusnya. Suaraku terperangkap di dalam tenggorokan, membeku sebelum sempat lahir. Aku berteriak, tetapi yang keluar hanyalah desisan angin. Terkadang, dinding itu berubah menjadi cermin yang memantulkan wajah-wajah yang menatapku dengan penilaian dan tanya. Aku merasa seperti hantu yang tersesat di pesta yang meriah, ingin menyapa tapi takut tangan ini akan menembus tubuh mereka begitu saja...”
Tulisan itu mengalir deras, menjadi esai yang puitis, mendalam, dan sangat personal. Itu adalah jiwa Maya yang telanjang. Setelah selesai, dengan jantung berdebar-debar, ia mencetaknya dan menyimpannya di dalam amplop coklat.
Keesokan harinya, setelah semua mahasiswa pergi, Maya menunggu di lorong. Ketika Pak Ardi keluar dari ruangannya, Maya menghampiri dengan langkah gugup.
“Pak, ini tugas saya,” ucapnya dengan suara yang hampir seperti bisikan, menyerahkan amplop itu. Tangannya sedikit gemetar.
Pak Ardi tersenyum lembut. “Terima kasih, Maya. Saya tunggu yang lain.”
Maya pun pergi dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas. Apakah tulisannya terlalu aneh? Apakah Pak Ardi akan menganggapnya lemah?
Beberapa hari kemudian, di meja Pak Ardi, amplop coklat itu terbuka. Dia membacanya perlahan, kata demi kata. Matanya yang biasanya tenang, kali ini mulai berkaca-kaca. Sebagai seorang dosen filsafat, ia telah membaca banyak tulisan tentang ketakutan eksistensial, tetapi belum pernah ia menjumpai sebuah lukisan yang begitu jujur dan menyentuh tentang zzz ke terasing an yang dirasakan di dunia nyata. Ia bisa merasakan betapa besar keberanian gadis itu untuk menyerahkan lukisan jiwanya kepadanya.
Di pertemuan berikutnya, Pak Ardi membagikan tugas yang telah dikumpulkan. Saat sampai pada Maya, ia tidak membagikan kertas apa pun. Hanya ada selembar kertas bekas print-out yang dilipat rapi. Dengan hati-hati, Maya membukanya.
Di sana, tidak ada nilai A, B, atau C. Tidak ada coretan merah mengoreksi tata bahasa. Hanya ada sebuah kalimat yang ditulis dengan rapi di bagian bawah tulisannya, dengan tinta biru:
“Terima kasih telah mempercayai saya dengan duniamu. Suaramu penting.”
Maya membeku. Kalimat itu terasa hangat, seperti pelukan di tengah hujan. Ia tidak dihakimi, tidak dinilai, tetapi didengar. Untuk pertama kalinya, seseorang—seorang figur yang dihormati—tidak hanya melihat diamnya, tetapi memahami suara di baliknya. Air matanya hampir menetes, tetapi kali ini, bukan karena takut, melainkan karena lega.
Peristiwa itu menjadi titik balik. Bukan hanya bagi Maya, tetapi juga bagi cara Pak Ardi mengajar. Di kelas-kelas berikutnya, ia mengumumkan perubahan.
“Teman-teman,” ujarnya suatu pagi, “saya menyadari bahwa keberanian memiliki banyak wajah. Dan kecerdasan memiliki banyak suara. Mulai sekarang, untuk partisipasi kelas, kalian memiliki pilihan. Kalian bisa berbicara di kelas, atau menyerahkan esai refleksi singkat. Untuk presentasi, boleh dilakukan berkelompok dengan pembagian tugas yang adil, atau kalian bisa membuat blog pribadi, video esai, atau bahkan proyek seni yang menjelaskan pemikiran kalian.”
Kebijakan baru itu disambut dengan antusiasme. Beberapa mahasiswa yang pemalu seperti Maya tampak lega. Reka, si percaya diri, justru tertarik untuk mencoba membuat video esai.
Perlahan-lahan, seperti tunas yang mulai merekah di musim semi, Maya menemukan kembali keberaniannya. Ia tidak serta merta menjadi orator yang memukau di depan kelas. Itu bukanlah jalannya. Suaranya ditemukannya di dunia tulisan. Ia mulai mengirimkan esai-esai ringan, refleksi tentang kehidupan kampus dari sudut pandangnya yang unik, ke majalah dinding online kampus.
Tulisannya yang pertama berjudul “Melukis di Balik Dinding Kaca”. Ia menandatanganinya dengan inisial “M”. Respon yang datang membuatnya terkejut. Beberapa mahasiswa dari jurusan lain mengirimkan pesan, berterima kasih karena telah mengungkapkan perasaan yang juga mereka rasakan. Ia menemukan komunitasnya, bukan di keramaian, tetapi di dalam kesamaan perasaan yang ia bagikan melalui kata-kata.
Suatu sore, di perpustakaan, seorang mahasiswa baru mendatanginya. “Maaf, apa kamu ‘M’ yang menulis di mading online?” tanyanya dengan suara pelan.
Maya mengangguk, sedikit gugup. “Tulisannya bagus sekali. Aku… aku juga kadang merasa seperti itu. Terima kasih.”
Maya tersenyum. Sebuah senyum yang tulus dan hangat, bukan senyum nervous yang biasa dipasang. Ia akhirnya merasa menjadi bagian dari kampus ini. Bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai seorang individu dengan suara yang unik dan penting. Pak Ardi tidak memberinya nilai, tetapi ia memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga: pengakuan bahwa keberadaannya berarti. Dan bagi Maya, itu adalah awal dari sebuah lukisan baru—sebuah lukisan di dinding yang dulu kosong, yang kini mulai dipenuhi warna dan cerita.
Dan di antara gedung-gedung tua yang dipenuhi celoteh mahasiswa, Maya telah menemukan ruangnya yang sunyi namun bermakna. Ia menyadari bahwa inklusi sejati bukanlah tentang memaksa semua orang untuk bersuara dengan cara yang sama, melainkan tentang merayakan setiap keunikan dan memberikan kanvas yang berbeda bagi setiap jiwa untuk melukiskan karyanya. Melalui tulisannya, ia tak lagi menjadi hantu yang melayang, melainkan seorang penjaga lentera bagi mereka yang, seperti dirinya dulu, masih berjuang dalam kesunyian. Pak Ardi, dengan kebijaksanaannya, tidak hanya mengajarkan filsafat dari buku, namun telah menghidupkan filsafat kemanusiaan yang paling hakiki: bahwa setiap suara layak didengar, setiap cerita layak diceritakan, dan setiap dinding kosong berhak diisi dengan lukisan miliknya sendiri.
Karya: Kharisma Citra Khoirurrahmah