Lumbung yang Adil
Di tepi kaki Gunung Lawu, dimana Awan pagi masih menyelimuti tanah, ada sebuah desa kecil bernama Wonomulyo. Sawah yang membentang hijau sepanjang mata memandang berubah warna menjadi kecoklatan ketika kemarau datang. Di tengah-tengah sawah yang membentang itu menghampar lumbung yang kuat dimiliki seorang petani tua bernama Pak Ranu.
Musim panen tiba, pintu lumbung itu selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin berubah beras. Rezeki seperti padi, katanya pada cucunya. semakin seseorang lebih merunduk dan mau mengulurkan, semakin berisi pulalah ia serumpun padi di deretan lain. Tetapi kemarau tahun ini panjang bak kutukan. Langit tak meneteskan hujan, tanah merekah begini lama, dan padi pulalah merunduk sebelum waktunya. Padinya menipis, harga di pasar gila-gilaan, dan kecemasan mulai merendam setiap hari warga masyarakat. Pak Ranu yang memiliki lumbung paling sedikit satu-satunya yang tegak berdiri. Hasil kesetian dan ketekunan bertahun-tahun.
Warga desa berjubel-jubel, memohon sedekah sedikit. Ia timbang dengan hati berlapang, bukan begitu banyak, tapi cukup sampai hari-hari rencana harga beras cukup tak menentu. Tetapi tak semua orang bisa melihat mata hati dengan tulus. Kepala Dusun yang disebut Surya, menyulut-nyalakan isu di pasar bahwa Pak Ranu menimbun hasil panen untuk makan oleh dirinya. kabar itu bertumbuh dan berkembang, menciptakan tawa sinis melihat pekerja-pekerja lumbung. Tetapi Pak Ranu tak membalas dengan amarah. Ia tetap diam dan melakukan.
Ketika malam turun dan udara kental membeku, ia mengirimkan lewat cucunya, Raka, beberapa karung beras ke pintu rumah warga yang paling membutuh. Tanpa saksi tanpa catatan, Tapi pasti sebuah niat yang tulus memanasi langkah lenggak-lengkok lelaki tua tersebut. Beberapa hari kemudian Hujan pertama tumbuh. Tanah yang merekah itu termasuk merasakan air yang bersyukur. Warga yang diberi bantuan, datang membawa hasil bumi, singkong, dan beberapa buah pisang, menghampiri lumbung tua dan pak Ranu Yang merunduk. Mereka melakukan dalam diam. Mereka tahu sendiri siapa yang membantunya tanpa minta balas. Rasa malu menyelimuti hati Surya. Keadilan tak hanya soal berbagi rata, tapi juga menebar sesuai yang dibutuhkan. Lumbung diujung desa tak hanya menyimpan padi. Ia menjadi lambang keadilan warisan sunyi sebuah kebaikan.
Nasya Nur Sadira - 25080694103