MAGANG PEMBUKA MATA
Siska tidak pernah menyangka kalau masa magangnya akan dimulai dengan perasaan canggung itu. Sejak awal semester, ia selalu berharap ditempatkan di sekolah umum, yang kelas-kelasnya ramai oleh anak-anak tanpa kebutuhan khusus. Teman-temannya bahkan sudah membayangkan akan mengajar murid-murid yang kompetitif, aktif, dan cerewet. Namun ketika surat penempatan magang keluar, nama Siska justru tercantum di SLB Harapan Cita, sekolah yang bahkan belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Siska sempat terdiam cukup lama saat membaca surat itu. Ada rasa kecewa yang menempel kuat. “Kenapa harus SLB?” gumamnya waktu itu. Ia masih merasa belum siap menghadapi dunia pendidikan inklusif secara nyata. Selama ini ia memang mempelajari teori-teorinya di kampus tentang bagaimana setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, bagaimana guru harus mampu menyesuaikan metode dengan kebutuhan tiap siswa, dan bagaimana lingkungan belajar harus dibuat ramah untuk semua. Tapi teori selalu terasa lebih mudah daripada praktek.
Hari pertama magang, langkah Siska terasa berat. Sekolah itu terlihat sederhana, namun suasananya berbeda dari sekolah umum. Di halaman, beberapa anak tampak bergerak dengan cara yang unik; ada yang berjalan perlahan sambil meraba dinding, ada yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat, ada pula yang duduk di kursi roda sambil tertawa kecil melihat temannya mencoba menendang bola. Siska hanya bisa berdiri sebentar, mengatur nafas sebelum masuk.
Di dalam kelas, ia melihat sesuatu yang langsung membuat dirinya berpikir, anak-anak dengan jenis disabilitas berbeda digabung dalam satu kelas. Ada tiga anak tunarungu, dua anak tunadaksa, satu anak dengan disabilitas intelektual ringan, dan seorang anak tunanetra. Guru kelas itu, Bu Oktavia, mengajar menggunakan bahasa isyarat hampir sepanjang waktu.
Di sinilah Siska mulai merasakan keganjilan itu. Anak-anak tunarungu tampak mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi anak tunanetra yang berada di pojok yang baru diketahui bernama
Seca hanya duduk diam sambil memiringkan kepala, mencoba mendengarkan sebaik mungkin. Siska hampir tidak melihat interaksi verbal dari guru.
“Bu, Seca sebenarnya bisa bicara, kan?” bisiknya saat jam istirahat.
Bu Oktavia mengangguk pelan. “Iya, dia bisa bicara. Tapi saya terbiasa pakai isyarat karena sebagian besar anak di kelas ini tunarungu.”
Jawaban itu membuat dada Siska terasa sesak. Ia mengerti guru itu sudah berusaha, namun jelas bahwa pembelajaran di kelas tidak efektif untuk semua anak. Teori tentang diferensiasi dan asesmen individual langsung berputar dalam kepalanya. Siska mulai benar-benar melihat bagaimana inklusi seharusnya bekerja bukan dengan menyeragamkan cara mengajar, tetapi justru menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Sejak saat itu, Siska perlahan mendekat pada Seca. Setiap istirahat, ia duduk di sebelahnya dan mulai mengajak bicara.
“Namamu Seca, kan?” tanya Siska waktu itu. “Iya, Kak,” jawab Seca dengan suara lembut. “Kakak yang baru magang?”
Percakapan kecil itu menjadi titik awal kedekatan mereka. Seca ternyata anak yang sangat ramah. Walaupun ia tidak bisa melihat, ia selalu bisa mengenali Siska hanya dari suara langkahnya. Bila Siska datang ke kelas, Seca akan langsung mengangkat kepala dan tersenyum.
“Kak, hari ini aku belajar apa?” tanyanya hampir setiap pagi.
Siska mulai membuat materi sederhana untuk membantu Seca memahami pelajaran tanpa harus mengandalkan bahasa isyarat. Ia membacakan cerita, menjelaskan bentuk-bentuk menggunakan benda yang bisa disentuh, bahkan mengajarkan huruf braille dasar yang ia pelajari secara mandiri dari internet malam sebelumnya. Melihat Seca begitu antusias membuat rasa khawatir Siska perlahan menguap.
Pada minggu ketiga, ada satu momen yang tidak pernah bisa kulupakan. Saat itu, Seca mencoba menulis namanya menggunakan braille untuk pertama kalinya. Tangannya bergetar, tapi ia tetap mencoba mengikuti arahan Siska.
“N—A—M—A… S—E—C—A,” kata Seca pelan sambil meraba titik-titik kecil itu. Siska melihat betapa sulitnya proses itu bagi Seca, tetapi ia tidak menyerah. Dan ketika akhirnya Seca tersenyum bangga pada hasil kerjanya, mata Siska memanas tanpa bisa dicegah.
“Kak, aku bisa, ya?” “Iya, kamu hebat banget,” jawab Siska, suaranya hampir bergetar.
Sejak momen itu, hubungan mereka semakin dekat. Seca sering bercerita tentang mimpinya ingin menjadi orang yang “bisa bantu orang lain meskipun aku nggak bisa lihat,” katanya suatu hari. Dan tanpa sadar, setiap pulang magang, Siska selalu membawa pulang cerita kecil tentang anak-anak SLB itu kepada orang tuanya. Lambat laun, sesuatu dalam diri Siska berubah.
Dulu ia merasa magang di SLB adalah beban. Sekarang, ia justru bangun setiap pagi dengan semangat baru. Anak-anak itu, tunarungu, tunadaksa, tunanetra semua punya cara sendiri dalam belajar, dan Siska merasa terhormat menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka.
Namun waktu terus berjalan. Hari terakhir magang pun tiba lebih cepat dari yang ia bayangkan. Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Anak-anak tetap ceria, tetapi Siska justru merasa ada yang menekan dadanya. Ia melihat Seca duduk sambil meraba meja, tampak gelisah.
“Kak Siska pulang, ya?” tanya Seca lirih. Siska menelan ludah. “Iya, Sayang. Ini hari terakhir Kakak magang. Tapi Kakak nggak akan lupa kamu.”
Seca mengangguk pelan, lalu mendekatkan tangan untuk menyentuh wajah Siska, cara khasnya mengenali orang. “Makasih ya, Kak. Kakak baik. Kakak bikin aku ngerasa bisa belajar.”
Perkataan itu sederhana, tapi langsung meruntuhkan pertahanan Siska. Air matanya jatuh begitu saja. Ia memeluk Seca erat, membiarkan rasa haru menyelimuti dirinya.
Ketika magang resmi berakhir, Siska pulang dengan langkah pelan. Namun kali ini, perasaan yang menyelimuti hatinya bukan lagi kecewa, melainkan syukur yang dalam. Tiga bulan yang awalnya ingin ia tolak, justru menjadi pengalaman paling berharga selama ia belajar tentang pendidikan inklusif.
Ia baru benar-benar mengerti bahwa inklusi bukan hanya teori. Inklusi adalah kehadiran, perhatian, dan keberanian untuk melihat setiap anak apa adanya, bukan berdasarkan kekurangannya, tetapi kekuatannya. Dan di balik semua itu, ada seorang anak bernama Seca yang tanpa sadar telah mengajarkan banyak hal.
Siska tersenyum kecil saat mengenang semuanya. Tiga bulan itu mungkin sudah lewat, tetapi dampaknya akan tinggal selamanya dalam hatinya.
Chelsy Azzahra Taqiyyah Evril - 25010024021