Mata di Ujung Telinga Egi
Di Hutan Rimba, terdapat sebuah pohon beringin raksasa yang usianya sudah tua. Akar akarnya menjuntai ke tanah seperti rambut raksasa yang sedang tidur. Di sanalah Sekolah Rimba berada, tempat anak-anak hewan belajar tentang kehidupan hutan. Pagi itu, matahari menyapa dengan senyuman hangat. Namun bagi Egi, seekor kelelawar kecil, pagi itu adalah sebuah serangan. Egi berbeda. Dia tidak suka siang hari yang menyilaukan. Cahaya matahari terasa menusuk matanya seperti pedang tajam. Tapi yang paling menyiksa adalah suara.
"Selamat pagi, semuanya!" teriak Kiki, si Kera kecil yang tidak pernah kehabisan baterai. Kiki melompat dari dahan ke dahan, berteriak-teriak menyapa teman-temannya.
Bagi hewan lain, teriakan Kiki hanyalah sapaan biasa. Tapi bagi telinga Egi yang sensitif, teriakan itu bagaikan ledakan meriam tepat di samping kepalanya. Gelombang suara itu menghantam Egi secara fisik. Egi meringkuk di sudut kelas, menggantung terbalik di dahan rendah yang gelap. Ia membungkus tubuh kecilnya dengan sayap hitamnya yang lembut. Sayap itu adalah benteng pertahanan satu-satunya. Di dalam pelukan sayapnya sendiri, dunia terasa sedikit lebih damai. Ia mulai menggoyangkan badannya ke depan dan ke belakang. Kiri, kanan. Kiri, kanan. Irama itu menenangkannya. Seperti ayunan bayi yang meninabobokan kegelisahan di hatinya.
"Anak-anak, tenang!" suara Bu Angsa, guru mereka, terdengar berwibawa. Bu Angsa adalah sosok yang bijaksana. Lehernya panjang dan anggun, dan matanya teduh seperti air yang tenang.
"Hari ini adalah hari yang istimewa," kata Bu Angsa. "Kepala Sekolah, Pak Singa, memberikan kita misi penting. Kita harus mencari Bunga Kristal yang tumbuh di dalam Gua Gema."
Kelas menjadi riuh. Gua Gema? Itu tempat yang gelap dan menakutkan.
"Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok," lanjut Bu Angsa. "Setiap hewan punya kelebihan. Ingat, hutan ini kuat karena kita berbeda-beda."
Jantung Egi berdegup kencang, secepat kepakan sayap kolibri. Kelompok? Egi benci kelompok. Kelompok berarti suara ribut. Kelompok berarti kekacauan.
"Kelompok Satu: Tora si Harimau, Kiki si Kera, dan... Egi si Kelelawar." Dunia Egi seakan runtuh.
Tora adalah harimau muda yang kuat tapi tidak sabaran. Kiki adalah kera yang tidak bisa diam. Dan Egi? Egi hanya ingin bersembunyi. Tora menghampiri dahan tempat Egi menggantung. Langkah kakinya berat, membuat dahan itu bergetar.
"Hei, Kelelawar!" panggil Tora dengan suara beratnya. "Bangun! Jangan tidur terus. Kita harus jadi kelompok tercepat yang menemukan Bunga Kristal!"
Egi mengintip dari balik sayapnya. Ia tidak menjawab. Kata-kata di tenggorokannya sering kali tersangkut, seperti duri ikan yang sulit keluar. Ia hanya mengangguk pelan.
"Aduh, dia bisu ya?" tanya Kiki sambil bergelantungan di ekornya tepat di depan Egi. "Halo? Bumi memanggil Egi!"
"Sudah, ayo jalan! Dia cuma bakal jadi beban," gerutu Tora.
Mereka bertiga pun berangkat menuju Gua Gema. Perjalanan itu adalah siksaan bagi Egi. Kiki tidak berhenti bernyanyi sepanjang jalan. Suaranya cempreng, memantul-mantul di pepohonan. Bagi Egi, setiap nada sumbang Kiki adalah cubitan di kulitnya. Sementara Tora, ia berjalan dengan menghentak-hentak, mematahkan ranting-ranting kering. “Krak. Krak”. Bunyi itu membuat Egi ngilu.
Egi terbang rendah di belakang mereka. Ia tidak melihat jalan dengan matanya, tapi dengan telinganya. Ia mengeluarkan suara decitan sangat tinggi “ciiiit” yang tidak bisa didengar Tora atau Kiki. Suara itu memantul kembali kepadanya, memberitahu Egi di mana ada pohon, di mana ada batu, di mana ada lubang. Itu adalah peta suara di dalam kepalanya.
Sesampainya di mulut Gua Gema, suasana berubah. Mulut gua itu menganga lebar seperti mulut raksasa yang kelaparan. Di dalamnya, kegelapan menanti mereka.
"Wah, gelap banget," kata Kiki, suaranya mulai gemetar. Keceriaannya mendadak lenyap ditelan angin gua.
"Aku tidak takut gelap!" kata Tora menyombongkan diri, meski ekornya turun ke bawah, tanda dia ragu. "Ayo masuk! Bunga Kristal ada di ujung gua."
Mereka melangkah masuk. Cahaya matahari tertinggal di belakang. Semakin dalam mereka masuk, semakin gelap gulita. Di dalam gua, mata tajam Tora tidak berguna. Kegelapan di sini begitu menakutkan.
"Aduh!" Tora menabrak dinding batu.
"Aw! Kakiku tersandung!" teriak Kiki.
Kepanikan mulai merayap. Suara langkah kaki mereka bergema, memantul ke sana ke mari. "Di mana jalannya?" tanya Tora, suaranya mulai panik. "Aku tidak bisa melihat apa-apa!"
"Aku juga! Gelap sekali! Ayah!! Ini arahnya kemana? Huhuhu" rengek Kiki. Dia melompat-lompat ketakutan, tapi malah menabrak Tora. Mereka berdua jatuh bergulingan.
Suasana menjadi kacau balau. Tora mengaum marah karena frustasi. Aumannya menggema dahsyat di dalam gua sempit itu.
Bagi Egi, auman itu membunuhnya. Ia menutup telinganya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar hebat. Rasanya kepalanya ingin pecah. Ia merangkak di lantai gua yang dingin.
"Diam!" batin Egi menjerit, tapi mulutnya tak bersuara.
Tora dan Kiki terus berdebat dan menyalahkan satu sama lain dalam gelap. Mereka berputar-putar di tempat yang sama. Mereka tersesat. Tanpa cahaya, kekuatan Tora dan kelincahan Kiki tidak ada gunanya. Mereka lumpuh. Tiba-tiba, Tora berhenti marah. Nafasnya terengah-engah. "Kita... kita terjebak," bisiknya putus asa. "Kita tidak akan pernah keluar."
Keheningan menyelimuti mereka. Keheningan yang berat dan mencekam.
Di tengah keputusasaan itu, Egi melepaskan sayap yang menutupi telinganya. Sekarang, suasana sudah hening. Tora dan Kiki sudah lelah berteriak.
Ini adalah dunia Egi. Egi membuka matanya, meski tidak ada gunanya. Tapi telinganya... telinganya hidup. Telinganya berkedut. Ia bisa mendengar tetesan air jatuh dari stalaktit yang jauhnya ratusan meter “tik, tik, tik”. Ia bisa mendengar hembusan angin kecil yang menandakan jalan keluar.
Egi bangkit berdiri. Ia mengepakkan sayapnya pelan. “Ciiiit”. Egi mengeluarkan gelombang suara ultrasonik. Gelombang itu melesat, menabrak dinding gua, menabrak batu batu tajam, dan memantul kembali ke telinga Egi. Dalam sekejap, sebuah peta tergambar di otak Egi. Ia bisa melihat semuanya tanpa cahaya. Ia melihat lorong di sebelah kiri buntu.
Lorong di sebelah kanan penuh jurang. Tapi ada celah kecil di tengah, agak tinggi, yang mengarah ke ruangan luas tempat angin segar berhembus.
Egi mendekati Tora dan Kiki. Ia menyentuh bahu Tora pelan. Tora tersentak. "Si-siapa itu?" "Ini... aku. Egi," suaranya pelan, hampir seperti bisikan angin.
"Egi? Kamu bisa lihat?" tanya Kiki penuh harap.
"Aku... mendengar," jawab Egi singkat. Kata-katanya sederhana, tapi penuh keyakinan. "Ikuti... suara... sayapku."
Awalnya Tora ragu. Bagaimana mungkin si Kelelawar kecil yang lemah ini memimpin Sang Harimau? Tapi Tora tidak punya pilihan. Kegelapan telah melahap kesombongannya.
"Oke, Egi. Pimpin kami," kata Tora pasrah.
Egi terbang rendah di depan. Ia mengepakkan sayapnya dengan irama yang teratur. Wush, wush, wush.
"Kiki, pegang ekor Tora. Tora, ikuti suara sayapku," perintah Egi. Kali ini suaranya tidak gagap. Di dalam kegelapan, Egi adalah rajanya.
Mereka bergerak perlahan. "Awas... kepala," kata Egi tiba-tiba.
Tora menunduk. Benar saja, sejengkal di atas kepalanya ada batu runcing. Kalau Egi tidak bilang, kepala Tora pasti sudah benjol.
"Kiki... lompat... ke kanan," perintah Egi lagi. Kiki melompat. Di tempat dia berdiri tadi ternyata ada lubang yang dalam.
"Wow," bisik Kiki kagum. "Kamu kayak punya mata di punggung!"
Mereka terus berjalan. Egi tidak hanya memandu, dia juga menenangkan. Saat suara langkah kaki Tora terlalu keras dan menggema, Egi berhenti sejenak, memberi isyarat untuk pelan-pelan. Tora mulai mengerti. Dia mulai berjalan mengendap-endap, seperti kucing yang sedang berburu. Ternyata, berjalan pelan membuat gema berkurang, dan itu memudahkan Egi
berkonsentrasi. Mereka belajar saling memahami. Tora dan Kiki belajar untuk diam dan tenang demi Egi. Egi belajar untuk berkomunikasi dan memimpin demi Tora dan Kiki.
Setelah melewati lorong berliku yang menyesakkan, Egi mendengar suara berdenting yang indah di kejauhan. Seperti suara lonceng kristal.
"Di depan," kata Egi.
Mereka mempercepat langkah. Dan benar saja, di ujung lorong, ada sebuah ruangan gua yang luas. Di tengah-tengahnya, tumbuh sekuntum bunga yang memancarkan cahaya sendiri. Bunga Kristal! Cahayanya lembut, berwarna biru muda, tidak menyilaukan mata Egi.
"Kita menemukannya!" sorak Kiki, tapi kali ini gerakannya pelan, dia ingat telinga Egi sakit kalau dia berteriak. "Yey, kita menemukannya," bisiknya gembira.
Tora menatap Egi. Tatapan meremehkan itu sudah hilang, berganti dengan tatapan hormat. "Kamu hebat, Egi. Kalau nggak ada kamu, kami masih jadi patung di lorong tadi."
Egi tersenyum tipis. Senyumnya malu-malu, seperti bulan sabit yang mengintip dari balik awan. Ia merasa hangat di dadanya. Bukan karena suhu gua, tapi karena rasa diterima.
Mereka kembali ke sekolah saat matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan, seperti tumpahan cat air raksasa di angkasa. Kelompok-kelompok lain sudah sampai. Ada yang babak belur, ada yang gagal menemukan bunga.
Bu Angsa menyambut kedatangan Tora, Kiki, dan Egi. Saat Tora menyerahkan Bunga Kristal itu, seluruh siswa bertepuk tangan. Egi refleks ingin menutup telinga, tapi teman-teman sekelasnya melihat reaksi Egi.
Tora mengangkat tangannya, memberi kode. "Jangan tepuk tangan keras-keras!" seru Tora. "Goyangkan tangan saja! Itu cara kami merayakannya."
Ajaib. Hewan-hewan lain menuruti Tora. Tidak ada suara “plok-plok-plok” yang menyakitkan. Hutan menjadi hening, tapi penuh dengan lambaian tangan yang indah seperti ribuan daun yang melambai ditiup angin.
Bu Angsa tersenyum bangga. "Tora, Kiki, bagaimana kalian menemukannya?"
Tora mendorong Egi ke depan. "Bukan kami, Bu. Tapi Egi. Di dalam gelap, mata saya buta. Tapi telinga Egi melihat segalanya. Dia navigator terbaik di hutan ini."
Kiki mengangguk semangat. "Iya! Egi itu kayak radar hidup! Dia keren banget!"
Egi berdiri di sana, di depan teman-temannya. Dia tidak lagi menyembunyikan wajahnya di balik sayap. Dia merasa kakinya berpijak kuat di tanah, sekuat akar pohon beringin.
Bu Angsa berkata dengan lembut kepada seluruh murid, "Anak-anak, hari ini kita belajar satu hal penting. Terkadang, apa yang kita anggap sebagai keanehan, sebenarnya adalah
kekuatan yang belum kita pahami." Bu Angsa menatap Egi. "Egi, telingamu yang sensitif itu adalah hadiah. Mungkin dunia ini terlalu bising untukmu, tapi itu karena kamu bisa mendengar hal-hal indah yang kami semua lewatkan."
Egi mengangguk. Dia menatap Kiki dan Tora. Kiki si Kera yang lincah membantunya memetik bunga di tempat tinggi. Tora si Harimau yang kuat melindunginya dari angin kencang saat perjalanan pulang. Dan dia, Egi si Kelelawar, menjadi mata mereka dalam kegelapan. Seperti potongan puzzle yang berbeda bentuk, mereka bertiga tidak sama, tapi justru karena itulah mereka bisa menyatu menjadi gambar yang utuh dan sempurna.
Malam itu, Egi tidur dengan nyenyak. Hutan masih bising dengan suara jangkrik dan burung hantu. Tapi bagi Egi, suara itu bukan lagi gangguan. Suara itu adalah nyanyian alam yang mengucapkan selamat tidur padanya. Dia tahu, besok dia akan kembali ke sekolah. Mungkin masih akan berisik. Mungkin masih akan mengganggu. Tapi dia tahu dia punya teman.
Teman yang mau mengecilkan suara mereka agar Egi bisa ikut mendengar dunia bersama-sama.
Oleh: Regita Cahyani Wibowo