Menata Ulang Makna Pendidikan Inklusif: Dari Integrasi Menuju Keadilan Sosial
Pendidikan inklusif telah menjadi isu global yang penting sejak Konferensi Dunia Salamanca tahun 1994 yang menegaskan bahwa sekolah dengan orientasi inklusif adalah cara paling efektif untuk melawan diskriminasi dan membangun masyarakat yang adil. Melalui tulisannya Inclusive Education Ten Years After Salamanca: Setting the Agenda, Mel Ainscow dan Margarida César (2006) menjelaskan bahwa meskipun banyak kemajuan telah dicapai,
penerapan pendidikan inklusif masih dihadapkan pada kebingungan konsep dan tantangan di
lapangan.
Banyak negara masih memahami inklusi sebatas memasukkan siswa dengan disabilitas ke sekolah umum tanpa mengubah sistem pembelajaran yang ada. Padahal, Ainscow menegaskan bahwa pendidikan inklusif seharusnya menjadi proses reformasi menyeluruh yang menerima perbedaan semua peserta didik, baik dari segi kemampuan, gender, etnis, maupun latar sosial. Hambatan belajar tidak hanya berasal dari kekurangan individu, tetapi juga dari
lingkungan dan sistem pendidikan yang belum mampu menyesuaikan diri dengan keberagaman siswa.
Ainscow juga mengkritik pendekatan lama yang dikenal sebagai model medis, yaitu pandangan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh kelemahan individu. Menurutnya, pendekatan ini justru memperkuat pemisahan antara “anak normal” dan “anak berkebutuhan khusus”. Sebagai gantinya, ia mengusulkan model sosial yang melihat kesulitan belajar sebagai hasil dari ketidaksiapan sistem pendidikan. Dalam model ini, solusi bukan dengan memindahkan siswa ke sekolah khusus, tetapi memperbaiki cara sekolah umum berfungsi agar semua anak dapat belajar bersama.
Selain itu, Ainscow dan Booth (2002) menggagas perubahan istilah dari “special needs” menjadi “barriers to learning and participation”, agar fokus pendidikan tidak lagi pada kekurangan anak, melainkan pada hambatan yang harus dihilangkan oleh sekolah. Dengan cara pandang ini, pendidikan inklusif menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah, bukan hanya guru pendidikan khusus.
Untuk mencapai inklusi sejati, sekolah perlu membangun budaya kolaboratif, memberikan pelatihan guru, serta menciptakan kebijakan yang mendukung semua peserta didik. Ainscow dan César menegaskan bahwa inklusi tidak dapat diwujudkan hanya dengan kebijakan administratif, tetapi harus melalui perubahan sikap, struktur, dan nilai di seluruh sistem pendidikan. Dengan demikian, pendidikan inklusif sejati bukan hanya tentang membuka pintu bagi semua anak, tetapi memastikan setiap anak diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Sepuluh tahun setelah Salamanca, pesan utamanya tetap relevan: inklusi adalah jalan menuju keadilan sosial dan pendidikan untuk semua.
Sumber: Graham, L. J. (Ed). (2024). Inclusive Education for the 21st Century: Theory,
Policy, and Practice. Routledge. (hlm. 85-112)
NAFISA AURALIA - 24010044097