Mengapa Segregasi Masih Diperlukan dalam Pendidikan Khusus
Pertanyaan yang sepatutnya ditanyakan dan penting pada konsep pendidikan khusus yaitu mengenai perbandingan antara pendidikan khusus dengan sistem inklusi dengan pendidikan khusus dengan sistem segregasi. Apakah benar sistem inklusi dapat lebih efektif dibandingkan sitem segregasi dengan dalih mendorong kesetaraan dan penerimaan sosial?Pertanyaan yang selalu mendorong wali siswa dengan penyandang disabilitas bertanya tanya, apakah lebih baik sekolah ke SLB atau ke sekolah Inklusi? Pertanyaan ini tidak akan terhenti walau perdebatan pendidikan menemukan titik tengah. karena, semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang mana sepatutnya di sesuaikan dengankeadaan anak disabilitas itu sendiri Pendidikan khusus dengan sistem segregasi merupakan penyelenggara pendidikan yang mana dalam proses pendidikannya memisahkan antara peserta didik dengan penyandang di sabilitas dari peserta didik tanpa disabilitas. Dengan peroses pembelajaran seperti ini anak dengan kebutuhan khusus melakukan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaannya masing masing. dengan ini dapat kita simpulkan bahwa sistem segregasi menyediakan layanan yang spesifik sesuai kebutuhan dan kemampuan individu anak Secara umum sistem segregasi memiliki kelebihan yang terletak pada kemampuan guru dengan kompetensi khusus di bidang pendidikan luar biasa, yang mana pendidikan dengan sistem ini di rancang khusus dengan fasilitas pendidikan dan sarana prasarana yang mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus.
Selain itu, proses pembelajaran dapat dilakukan lebih intensif dan individual. karena anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda maka dengan sistem ini bisa dikatakan bahwa anak dapat memperoleh perhatian yang sesuai dengan kemampuan dan hambatan yang dimilikinya. Kendati demikian sistem segregasi juga memiliki beberapa kekurangan yang patut diperhitungkan. Anak berkebutuhan khusus seakan akan memiliki jarak pemisah dari lingkungan masyarakat umum, sehingga menjadikannya keterbatasan dalam berinteraksi sosial dengan teman sebayanya. Dengan kondisi ini menjadikan munculnya isolasi sosial dan dan memperkuat stigma “berbeda” terhadap anak berkebutuhan khusus. Akibatnya,kemampuan anak dalam beradapatasi dengan lingkungan sosial mejadi rendah ketika harus berinteraksi dengan masyarakat umum Sistem Inklusi merupakan pendekatan pendidikan yang memberi kesempatan bagi anak dengan disabilitas untuk belajar bersama anak non-disabilitas di sekolah umum dengan dukungan layanan khusus sesuai kebutuhannya. Sistem ini menegaskan bahwa setiap anak, tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, emosional, maupun sosial, berhak memperoleh pendidikan bermutu. Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan belajar yang ramah, terbuka, dan menghargai keberagaman agar semua peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.
Kelebihan sistem inklusi antara lain menumbuhkan nilai kesetaraan, empati, dan toleransi sosial di antara peserta didik. Anak non-disabilitas belajar menghargai perbedaan, sedangkan anak dengan disabilitas berkesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan sosial yang beragam. Hal ini membantu mereka beradaptasi dalam masyarakat dan mengurangi stigma negatif terhadap penyandang disabilitas. Selain itu, suasana belajar menjadi lebih kolaboratif dan setiap anak merasa dihargai keberadaannya. Namun, pelaksanaan sistem inklusi memiliki tantangan besar, seperti kurangnya guru terlatih dalam menangani anak berkebutuhan khusus dan keterbatasan fasilitas pendukung.
Alat bantu belajar serta aksesibilitas lingkungan sekolah sangat diperlukan agar proses belajar berjalan efektif. Jika dukungan dari sekolah dan masyarakat tidak memadai, anak disabilitas bisa kesulitan beradaptasi dan tertinggal dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan sistem inklusi membutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, pemerintah,dan masyarakat agar lebih optimal. Dalam konteks pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, perdebatan antara sistemsegregasi dan inklusi belum menemukan titik akhir. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, dilihat dari efektivitas pemenuhan kebutuhan individual peserta didik, sistem pendidikan segregasi dianggap lebih unggul. Sistem ini menempatkan anak disabilitas di sekolah khusus seperti SLB, dengan pembelajaran, sarana, dan tenaga pengajar yang difokuskan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal sesuai tingkat ketunaannya.
Keunggulan sistem segregasi terletak pada kompetensi guru dan layanan individual. Guru di SLB memiliki keahlian khusus dalam pendidikan luar biasa (PLB) sehingga mampu menyesuaikan strategi belajar dengan kebutuhan dan hambatan setiap anak. Pembelajaran yang lebih intensif memungkinkan peserta didik mendapatkan perhatian penuh dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilannya. Fasilitas serta media pembelajaran di sekolah segregasi juga dirancang khusus sesuai jenis disabilitas, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Meski sistem inklusi menjanjikan interaksi sosial yang lebih luas, kenyataannya penerapannya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan tenaga ahli dan sarana pendukung. Anak disabilitas sering kali kesulitan beradaptasi dan berisiko terisolasi. Sebaliknya, sistem segregasi menawarkan dukungan profesional dan lingkungan yangterstruktur, yang menjadi pondasi penting sebelum anak terjun ke masyarakat umum. Karena itu, sistem segregasi masih dianggap sebagai pilihan yang realistis dan efektif bagi anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian intensif dan pendekatan pembelajaran yang lebih personal.
Miptahurrizkon - 24010044053