Nada yang Tak Pernah Padam
Dunia Aruna tidak pernah terang.
Sejak pertama kali membuka mata atau lebih tepatnya, sejak ia belajar bahwa matanya memang tidak pernah benar-benar “membuka”, ia hidup dalam kegelapan. Tidak ada warna, tidak ada bentuk. Hanya suara.
Namun anehnya, justru dari kegelapan itulah Aruna menemukan sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang yaitu kepekaan. Ia bisa mengenali langkah kaki ibunya hanya dari ritme nya. Ia tahu kapan hujan akan turun hanya dari perubahan angina. Bahkan, ia bisa “melihat” suasana hati seseorang hanya dari nada suara mereka.
Dan yang paling dia cintai di dunia ini adalah musik.
Piano tua di ruang tamu adalah sahabat pertamanya.
Tuts keyboard piano nya sudah agak kotor, beberapa nadanya tidak lagi sempurna, tapi bagi Aruna, itu adalah dunia yang paling jujur. Tidak ada yang menilai, tidak ada yang mengasihani.
Hanya dia.. dan nada.
“Aruna, jangan terlalu keras, tetangga bisa dengar!” tegur ibunya suatu sore.
Aruna langsung mengecilkan volumenya. “Maaf, bu….tadi hanya kebawa perasaan aja.” Ibunya menghela napas. Ia sebenarnya tidak marah. Ia hanya lelah.
Menjadi ibu dari anak tunanetra bukan hal yang mudah. Bukan hanya soal merawat, tapi, juga menghadapi pandangan orang-orang sekitar.
Tetangga sering kali berisik.
“Kasihan ya…”
“Pasti itu anaknya jadi beban seumur hidup itu…”
“Mending disekolahkan yang memang khusus seperti dia aja…”
Ibunya sering berpura-pura untuk tidak mendengar apa yang diomongkan oleh tetangganya. Tapi setiap kata itu, diam-diam menusuk.
Konflik pertama dalam hidup Aruna bukan berasal dari dirinya sendiri, tapi dari dunia luar. Saat ia berusia 9 tahun, ayahnya mulai berubah.
Ayahnya yang dulu sering menggendongnya sambil bernyanyi, kini lebih banyak diam. Pulang kerja langsung masuk kamar. Jarang bicara.
Suatu malam, Aruna mendengar percakapan yang tidak seharusnya ia dengar. “Aku capek, Bu…” suara ayahnya terdengar berat.
“Masa depan Aruna itu….nggak jelas”
Hati Aruna seperti diremas, setelah mendengarkan perkataan sang ayah.
“Apa maksudmu?” suara ibu nya meninggi.
“Dia nggak bisa lihat! Dunia itu kejam! Kita harus siap kalau dia…ya … nggak bisa apa-apa.” Kalimat itu seperti menghantam Aruna.
“Nggak bisa apa-apa.”
Sejak malam itu, Aruna tidak lagi bermain piano selama beberapa hari.
“Ada apa, Nak?” tanya ibu waktu pagi.
Aruna hanya menggeleng. Tapi suaranya terdengar pelan saat menjawab, “Bu…aku ini beban ya?” Ibunya langsung memeluk Aruna dan bilang. “Jangan pernah bilang gitu lagi.” “Tapi Ayah bilang aku nggak bisa apa-apa…”
Ibunya terdiam. Ia tidak bisa langsung menjawab, karena ia tahu Aruna mendengar semua obrolan malam itu.
“Dengar ya,” berusaha menjawab, sambil menahan air mata. “Orang lain boleh meragukan kamu. Tapi jangan sampai kamu meragukan diri sendiri.”
Namun kenyataannya, tidak semudah yang dibayangkan.
Masuk ke sekolah umum menjadi tantangan yang besar. Guru-guru tidak semuanya paham cara mengajar untuk anak tunanetra. Teman-temannya pun banyak yang canggung.
“Eh… dia bisa ngapain sih, dia kan nggak bisa lihat?”
“Jangan dekat-dekat, nanti salah ngomong…”
Aruna mulai merasa sendirian.
Ia pernah tersandung di depan kelas, dan beberapa anak tertawa. Tidak semua temannya jahat, tapi cukup untuk membuatnya merasa kecil.
Hari itu, ia pulang dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyentuh piano, tanpa bicara, dan ia hanya diam.
Sampai akhirnya, seseorang datang dalam hidupnya.
Pak Rendra adalah guru musik baru di sekolahnya.
“Ini kamu yang namanya Aruna?” tanyanya ramah.
Aruna mengangguk.
“Kata guru lain, kamu suka main piano?”
Aruna menjawab dengan ragu. “Sedikit…”
Boleh saya mendengarnya?”
Awalnya ia menolak. Tapi entah kenapa, nada suara Pak Rendra terasa berbeda. Tidak mengasihani. Tidak meremehkan.
Akhirnya, ia duduk di depan piano sekolah.
Dan dia mulai memainkan pianonya.
Ruangan itu hening. Setelah selesai, Pak Rendra tidak langsung bicara, lalu ia berkata pelan, “Kamu tahu nggak, apa yang kamu punya?”
Aruna menggeleng.
“Kamu punya rasa. Dan itu lebih mahal dari teknik.”
Sejak saat itu, Aruna mulai berani lagi.
Namun konflik tidak berhenti hanya di situ.
Saat Aruna mulai serius menekuni musik, ayahnya justru semakin tidak setuju. “Musik? Kamu pikir itu bisa jadi masa depan?”
“Dia itu harus belajar hal yang realistis!”
“Ayah!” Aruna membuka suara dengan nada tinggi untuk pertama kalinya. “Aku juga punya mimpi!”.
“Mimpi? Kamu bilang?” ayahnya tertawa kecil, pahit. “Dunia nyata itu bukan mimpi, Aruna.” Ruangan itu kemudian hening.
Untuk pertama kalinya, Aruna merasa tidak didukung oleh orang yang paling ia harapkan.
Malam itu, ia menangis di depan piano miliknya, jarinya menyentuh tuts perlahan. Nada-nada yang keluar terdengar berbeda, terasa lebih dalam, lebih sakit.
Dan dari situlah, ia mulai menciptakan lagu pertamanya.
Tentang seseorang yang hidup dalam gelap, tapi harus mencari cahaya yang bahkan tidak pernah ia lihat.
Perjalanan Aruna menuju panggung tidaklah mulus. Ada banyak rintangan yang telah ia lewati. Ia pernah mengikuti sebuah audisi dan ternyata ia tidak bisa melanjutkannya, ia gagal. Ia pernah mengikuti sebuah lomba, tuhan berkata lain, ia tidak lolos. Pernah juga dihentikan di tengah penampilan karena dianggap penampilannya “kurang menarik”. Salah satu juri bahkan berkata, “Suaramu bagus, tapi kamu kurang ‘visual’.”
Kalimat itu menampar dirinya. Bagaimana mungkin ia memenuhi sesuatu yang memang tidak ia miliki sejak lahir?
Ia hampir menyerah. Sampai suatu hari, ibunya berkata: “Kalau kamu berhenti….mereka benar.” Aruna hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Dan Ibu nggak mau itu terjadi.”
Tahun demi tahun berlalu, Aruna terus berlatih tanpa henti. Ia mulai dikenal di sekitar lingkungannya. Diundang tampil di acara sekolah, lalu upacara kota.
Sampai akhirnya, kesempatan besar itu datang. Sebuah audisi nasional.
Hari itu, ayahnya tidak mengantar, bahkan tidak ada ucapan “semangat” yang keluar dari mulutnya.
Aruna berangkat hanya dengan ibunya.
Di perjalanan, ia bertanya pelan, “Bu… kalau aku gagal lagi gimana?” Ibunya hanya tersenyum. “Kamu udah hebat, Nak. Kamu udah latihan tanpa henti dan berusaha semaksimal mungkin.”
Saat namanya dipanggil, tangan Aruna dingin. Ia berjalan pelan menuju piano dan mulai memainkan pianonya.
Lagu yang ia bawakan adalah lagu ciptaannya sendiri. Yang menceritakan tentang gelap, tentang luka, tentang harapan, dan tentang mimpi yang tidak mau padam.
Saat ia selesai memainkan lagunya. Ruangan itu hening beberapa detik, lalu semuanya bertepuk tangan dan semua orang pun berdiri.
Di rumah, ayahnya menonton Aruna dari televisi.
Untuk pertama kalinya, ia melihat anaknya bukan sebagai beban, tetapi sebagai seseorang yang kuat. Lalu, seketika ayahnya meneteskan air mata tanpa disadari.
Saat Aruna pulang, ayahnya menunggunya di depan rumah.
“Aruna…” Suara itu bergetar.
Aruna terdiam.
“Maafkan Ayah… Ayah yang salah… Ayah yang nggak bisa melihat… siapa kamu sebenarnya.”
Seketika Aruna meneteskan air matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia dapat memeluk ayahnya lagi.
Sejak hari itu, hidup Aruna berubah, ia mulai dikenal luas. Diundang tapi di berbagai panggung dan lagu-lagunya pun sudah didengar oleh banyak orang. Namun yang paling penting, ia tidak lagi berjuang sendirian.
Aruna mungkin tidak pernah melihat dunia. Tapi dunia akhirnya dapat melihatnya.
Bukan karena keterbatasannya, tapi karena keberaniannya. Karena pada akhirnya, mimpi tidak butuh mata. Hanya butuh hati yang tidak pernah menyerah. Dan Aruna memiliki itu lebih dari siapapun.
Nabila Nur Roihanah 161