Nanti Kita Ke Sana
Pagi ini jauh berbeda dari pagi sebelumnya. Kabut berada di segala sisi penginapan Araya seolah membentengi penginapan tapi hanya dalam waktu yang singkat. Sebentar saja, matahari sudah menampakkan diri ke permukaan. Cuaca berubah menjadi cerah dan cocok untuk beraktivitas pagi. Zeya dan kawan-kawannya sudah menginap di sana sejak 2 hari yang lalu. Penginapan ini milik keluarga besar Zeya, sehingga ia bisa kapan saja datang kemari jika ada paviliun yang kosong.
“Lu yakin, Bhre?” Tanya Zeya yang tampak khawatir melihat kondisi Bhre bertekad tetap ikut Zeya dan ketiga temannya mendaki bukit di atas villa.
“Iya, Ya. Udah. gua bisa kok. Kalian jagain gua ya tapi.” Jawab Bhre sambil mengambil sepasang sepatu menyusul teman-temannya di teras depan.
“Duh, ngerepotin ini orang pasti.” Gerutu Nilam sambil berbisik di dekat Deka tapi ternyata terdengar oleh Jeje yang berada di depannya. Kemudian dibalas oleh tatapan sinis Jeje.
Mereka berjalan meninggalkan paviliun dan mulai mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi itu. Sejak baru berapa langkah meninggalkan paviliun, Nilam sudah cukup sibuk dengan handphone-nya. Nilam mulai merekam dan melakukan ‘ritual’ vlog yang tidak pernah ia upload kemana-mana itu. Katanya sih ia memiliki akun tiktok. Mau merintis menjadiinfluencer lah. Tapi sampai sekarang belum juga ada 1 video ter-upload di akunnya. Setengah perjalanan lagi kelima kawan itu sudah akan sampai di puncak. Disaat Nilam mulai merekam semua teman-temannya, ia merasa bahwa Bhre sudah tidak kuat lagi.
“Lu masih bisa gak, Bhre?” Tanya Nilam dengan nada datarnya.
“Hmm.. Guys.. Gua kayanya udah gak kuat buat nanjak lagi deh. Kalian nanjak aja sampai puncak. Gue tungguin disini.” Bhre mengucapkan dengan ragu karena takut ia mengecewakan ekspektasi teman-temannya untuk mendaki pagi itu.
“Tuhkan. Apa gua bilang, Dek. Ini orang ngerepotin di tengah-tengah jalan.” Sahut
Nilam pada Deka.
Deka yang memang sedari awal sudah malas menanggapi Nilam hanya diam saja.
“Lam, lu tuh bener-bener ya. Bisa gak sih respect dikit ama Bhre? Kalo gak ada Bhre
kemarin juga lu gak bisa selamat tenggelam di kolam renang.” Jawab Jeje ketus.
Zeya yang berjalan di depan langsung saja memutarbalikkan badannya karena mendengar keributan itu sambil berkata, “Ada apa sih guys.. Jangan berantem dong. Kita kan lagi liburan. We should behaving fun.”
“Tau tuh, Ya. Temen-temen lu tuh pada rusuh.” Jawab Deka sambal tertawa karena sejujurnya dia sudah di titik malas karena teman-temannya bergaduh.
“Kalau Bhre gak kuat, kita naik sampai di sini aja gimana? Besok kita naik lagi kesini. Kita kan masih ada beberapa hari lagi di sini.” Usul Zeya.
“Boleh sih. Kasihan Bhre juga.” Jawab Jeje.
“Eh, jangan gitu. Kalau kalian mau tetep sampe puncak, naik aja guys. Gue gak kenapa- kenapa beneran kalau disini dulu.” Sambung Bhre yang tampak mulai tidak enak itu.
“Aduh, jangan dong. Konten gue gimana kalau gak sampe puncak ini. Jelek dong.” Jawab Nilam dengan kearoganannya.
“Eh gila ya lu, Lam. Sempet-sempetnya mikir konten. Lu upload aja kagak tentu. Ini temen lu sakit, Lam.” Jawab Jeje lagi.
“Udahlah, Lam.” Deka tiba-tiba menyahut.
Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat semua yang ada di situ berhenti bicara. Ia menatap ke arah lembah di bawah sana, di mana kabut perlahan turun lagi menutupi separuh villa. Angin pagi menampar pelan wajah mereka, dingin, tapi juga menenangkan.
“Tau gak,” katanya kemudian, masih menatap jauh.
“Kadang… yang bikin perjalanan itu berkesan bukan puncaknya, tapi siapa yang kita temani waktu jalannya.”
Tidak ada yang langsung menimpali. Bhre hanya menunduk, berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal. Jeje melirik Nilam pelan, sementara Zeya memilih diam, seperti ikut mencerna kata-kata itu. Deka melanjutkan, suaranya pelan tapi jelas.
“Lagian, puncak juga gak bakal kemana. Tapi kalau kita ninggalin orang di tengah jalan, rasanya tuh kayak ninggalin bagian dari perjalanan itu sendiri. Capeknya jadi gak berarti.”
Kata-kata itu tidak diarahkan pada siapa pun secara langsung, tapi semua tahu siapa yang ia maksud. Nilam terdiam. Tangannya masih menggenggam handphone, tapi kini ia tak lagi mengangkatnya. Ia menatap Bhre yang duduk di batu besar dengan wajah pucat, lalu menatap teman-temannya satu per satu. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, iamerasa ada sesuatu yang lebih penting dari hasil rekaman atau konten yang belum tentu ditonton siapa-siapa.
Zeya menepuk bahu Bhre. “Udah ya, kita turun bareng. Besok pagi kita ke sini lagi. Tapi kali ini, gak ada yang kita tinggalin. Oke?”
Nilam mengangguk pelan, tanpa kata. Tapi di matanya, ada semacam kesadaran baru bahwa perjalanan bukan soal siapa yang bisa cepat sampai, tapi soal siapa yang tetap ada meski langkah terasa berat. Mereka pun turun perlahan, bersama-sama, diiringi desir angin yang kini lebih lembut dari sebelumnya. Dan entah kenapa, meskipun belum sampai puncak, pagi itu terasa lebih hangat dari hari mana pun di villa Araya.
Amanda Larissa Hevina - 25080694180