OUR SEASON
Langit Surabaya sore itu gelap dan hujan datang tiba tiba saat Ezra sibuk berkutat dengan printer di warung fotocopy itu. Di seberang jalan, seorang pemuda melambaikan tangan dari dalam mobilnya.
“Ezra!”
William teman kuliah sekaligus sahabatnya sejak SMA, ia anak tunggal yang selalu terlihat tenang dan suka bercanda, namun tidupnya tidak setenang apa yang orang pikir.
“Hei, Wil!” balas Erza sambil melambaikan tangan.
“Belum pulang?” tanya William setengah teriak menembus derasnya suara hujan. “Belum ini”
“Masih banyak, Za?” William menghampiri Erza yang masih berkutik dengan kertas print di fotocopy. Suara itu datang dari arah pintu, tampak William datang dengan payung birunya yang penuh air hujan.
“Hahaha lumayan lah. Mesin ini gampang ngambek, jadi harus dibaikin dulu biar terus jalan”
“Kamu kayaknya jodoh sama mesin rusak, ya. Dari SMA selalu ketemu sama mesin yang kaya gitu, apalagi printer ruang OSIS yang ngambekan juga hahaha” “Kan kamu yang selalu jadi teknisi printer dadakan”
Mereka tertawa bersama mengingat momen saat SMA itu. Sudah hampir lima tahun mereka berteman, sejak masa SMA di Semarang. Takdir membawa mereka ke kampus yang sama di Surabaya, meski hidup berjalan di jalur berbeda. William dengan keluarganya yang mapan, ke kampus dengan mobil, dan apartemen di tengah kota. Sementara Ezra dengan beasiswanya, kerja paruh waktu, dan tinggal di kos dekat kampus. Dengan kesibukan yang berbeda pula mereka tetap bisa menemukan waktu yang pas untuk main, sekedar nongkrong, atau saling bertukar cerita.
“Kamu ga cape ikut aku ke tempat kaya gini terus? I mean, tempat ini tuh bukan kamu banget, Wil”
“Kenapa harus? Aku selalu nyaman selama ada kamu. Kalaupun kamu minta aku untuk jadi partner part time kamu aku mau kok. Asal sama kamu, Za, bukan karena tempatnya”
Erza terdiam. Kata kata yang keluar dari mulut William ditengah dinginnya hujan dan suara mesin itu membuat dirinya terasa hangat dan sesak sekaligus. Ia merasa bersalah sudah menanyakan hal seperti itu kepada sahabatnya.
Seminggu kemudian William pindah apartemen, lebih dekat dengan tempat magangnya di Malang, lebih nyaman, dan sesuai dengan yang ia mau. Malam sebelum pindah, William dan Erza betremu di café tempat Erza menjalankan part timenya.
“Erza, terimakasih ya kamu sudah jadi sahabat dan teman yang selalu ada buat aku. Terimakasih juga udah mau mengerti sama apapun yang terjadi di hidupku” “I do nothing, William. Kamu yang selalu datang ke aku, kamu gak pernah berhenti datang. Thanks to you aku jadi ga kesepian”
William tertawa kecil, “mungkin kamu selalu ngebuat tempat ini jadi rumah yang nyaman buat aku.”
“Aku bakal sering balik, kok,” lanjut William akhirnya sembari menggenggam tangan Erza.
Ezra tersenyum getir, menatap tanganya yang digenggam oleh sahabatnya itu “aku pasti nungguin kamu kapanpun kamu pulang, Wil. If anything happen, kabarin aku terus ya, aku langsung samperin kamu kesana”
Berpamitan seadanya dan tidak ada ucapan selamat tinggal. Dibalik kesederhanaan itu mereka memiliki keyakinan yang sama jika persahabatan mereka tidak akan hilang begitu saja hanya karena berpisah antara jarak dan waktu.
Moral of the story
Dari persahabatan mereka, kita bisa belajar bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya hidup dalam teori, tetapi juga dalam hubungan antarmanusia yang sederhana.
1. Sila Kedua - Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ezra dan William saling menghargai tanpa melihat latar belakang sosial. Persahabatan mereka mengajarkan empati dan kesetaraan.
2. Sila Ketiga - Persatuan Indonesia
Meski berbeda dunia dan keadaan sosial, mereka tidak membiarkan perbedaan menjadi jarak. Inilah wujud kecil dari semangat persatuan di tengah keberagaman.
3. Sila Kelima - Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Ezra berjuang lewat beasiswa, William dengan kelebihannya membantu tanpa merendahkan. Mereka menunjukkan bahwa keadilan bisa dimulai dari saling memahami.
Geananda Tyas Herimurti - 25080694157