Pelangi di Jendela Sekolah
Pada pagi hari itu, aroma buku-buku lama dan debu kapur menyeruak di ruang kelas 8B SMP Tunas Muda. Di pojok kelas, duduk seorang anak perempuan bernama Risa, rambutnya dikepang dua rapi. Risa adalah anak yang tenang dan penyabar, dengan senyum tipis yang jarang terlihat. Ia selalu memegang tongkat lipatnya—bukan sebagai penopang, melainkan sebagai penunjuk jalan. Risa merupakan seorang anak tunanetra.
Di bangku depan, ada Aris, si jagoan matematika yang selalu bergerak gelisah. Jaka memiliki Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang membuatnya sulit fokus saat guru, Bu Lina, menjelaskan tentang sejarah Indonesia. Kakinya terus mengetuk lantai dan pensilnya berputar cepat di antara jari-jarinya.
Kemudian, ada Rara, anak baru yang pindah dari sebuah pulau di timur Indonesia. Kulitnya gelap eksotis, logat bicaranya berbeda, dan ia mengenakan jilbab. Ia sering merasa diasingkan karena aksennya yang terdengar unik di telinga teman-teman Jakarta-nya.
Bu Lina memperhatikan keragaman di kelasnya. Kelas 8B bukan hanya sekumpulan siswa, itu adalah miniatur masyarakat yang sedang tumbuh. Hari itu, Bu Lina memberikan tugas kelompok yang membuat semua orang mengernyit, yaitu Membuat Maket Kota Impian Inklusif. “Kota ini harus mengakomodasi semua orang, tanpa terkecuali,” ujar Bu Lina, menatap ke sekeliling. “Termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan warga dari latar belakang budaya berbeda. Kalian harus bekerja bertiga. Risa, Aris, dan Rara, kalian satu kelompok ya.”
Risa mengangguk pelan. Aris menghela napas panjang, ia benci dengan tugas yang membutuhkan kesabaran dan detail. Rara menunduk, takut logatnya akan membuat ide-idenya diabaikan. Setelah itu, mereka berkumpul di meja Risa setelah sekolah. Keheningan canggung menyelimuti mereka.
“Jadi... kita harus bikin apa?” tanya Aris, memutar-mutar penghapus besar. “Jembatan, gedung tinggi? Cepat, biar aku yang potong kertasnya.” Risa tersenyum. “Sebentar, Aris. Jangan
terburu-buru. Kota itu harus berfungsi untuk semua, bukan hanya terlihat keren. Misalnya, bagaimana aku bisa berjalan sendirian di kota itu?”. Setelah itu, Aris terdiam. Ia tidak pernah memikirkan trotoar dari sudut pandang Risa.
Rara yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara, logat timurnya terdengar lembut. “Di tempatku, di tepi pantai, jalannya tidak rata, jadi orang tua sering jatuh. Bagaimana kalau kita buat jalan yang ada jalur pemandu untuk Risa, dan juga ada landai di mana-mana untuk kursi roda, bukan tangga?”. Aris mencibir. “Jalur pemandu? Itu garis-garis kasar di trotoar, kan? Memang penting?”. Risa mengulurkan tangan. “Sentuh saja. Rasanya berbeda, seperti Braille di lantai. Itu adalah hal yang penting sekali menjadi mataku saat di luar rumah.” Kemudian, Aris mencoba menyentuh lantai. Ia mulai melihat kota bukan hanya dengan mata, tetapi dengan indera peraba. “Dan trotoar kita harus lebar,” tambah Rara. “Di kotaku, kalau ada festival, semua orang berdesakan. Tidak nyaman untuk orang yang bawa bayi atau... atau seperti nenekku yang bawa banyak belanjaannya.”
Aris yang biasanya hanya ingin lari dan menyelesaikan tugas, mendapati dirinya harus duduk diam dan mendengarkan. Tugas ini membutuhkan sesuatu yang ia anggap musuh, yaitu Fokus pada Detail Kebutuhan Orang Lain.
Mereka mulai bekerja. Aris menemukan bahwa energinya yang meluap-luap ternyata sangat berguna untuk memotong, mengelem, dan membangun struktur dasar dengan cepat. “Aku bisa buat maketnya kokoh, cepat!” serunya antusias, sesekali diingatkan oleh Risa untuk tidak terlalu kasar. Peran Risa sangat unik. Karena ia tidak bisa melihat maket itu secara visual, ia menjadi arsitek melalui suara dan peraba. “Aris, tinggikan sedikit atap halte bus itu. Berikan tekstur yang berbeda di lantai halte dan di trotoar. Ini membantu agar aku tahu kalau aku sudah sampai di halte tanpa harus bertanya,” instruksi Risa, jarinya yang sensitif menjelajahi potongan-potongan kardus.
Rara adalah jantung dari desain mereka. Ia memastikan Maket Kota Harmoni Impian mereka tidak hanya fungsional, tetapi juga indah dan ramah budaya. Ia membuat taman yang ditanami replika tanaman obat tradisional dari berbagai daerah. Ia menyarankan agar ada “Pusat Bahasa Isyarat” di tengah kota, dan bahwa semua rambu jalan juga menggunakan simbol universal yang mudah dipahami (seperti gambar yang jelas, bukan hanya tulisan) dan juga dalam huruf Braille.
“Di kotaku, kami suka berkumpul di lapangan terbuka. Kita harus punya lapangan yang besar, dengan tempat duduk yang tinggi-rendah, supaya semua orang bisa duduk nyaman,” jelas Rara dengan matanya yang berbinar-binar.
Suatu sore, Aris merasa frustasi. Maket jalan landai yang ia buat terlalu curam. Ia membanting guntingnya. “Aduh, susahnya! Kenapa harus banyak peraturan begini sih? Tinggal bikin tangga saja, selesai!”. Risa mendekati Aris. Ia memegang tangan Aris dan meletakkannya di atas maket jalan curam itu. “Ris, bayangkan kamu harus mendorong kursi roda ibumu di jalanan sebegini curamnya. Atau bayangkan kamu harus membawa ransel berat dan naik tangga tinggi. Kota yang baik tidak boleh memaksa. Kota itu harus merangkul semuanya.” Kalimat itu menancap di benak Aris. Ia langsung mengambil penggaris, dan kali ini, ia sangat fokus. Ia menghitung kemiringan yang benar, dan dia berhasil.
Pada hari presentasi, Maket Kota Harmoni Impian mereka berdiri dengan megah. Itu bukan maket yang paling tinggi atau paling berwarna, tetapi itu adalah yang paling bijaksana. Dimulai dari Aris yang menjelaskan dengan berapi-api bagaimana ia membangun Rampa Persahabatan dengan kemiringan yang tepat. Kemudian, Rara menjelaskan tentang Trotoar Tiga-Lapisan—
lapisan untuk jalan kaki, jalur pemandu, dan jalur sepeda. Selanjutnya, presentasi diakhir dengan penjelasan dari Risa, sambil jarinya menyentuh miniatur kursi roda di taman, dan menyimpulkan presentasi mereka.
“Kota yang sempurna bukanlah kota yang dibangun oleh satu orang dengan satu jenis mata. Kota sempurna adalah kota yang dibangun oleh banyak tangan, banyak ide, dan banyak pengalaman hidup yang berbeda. Di Kota Harmoni Impian, Aris yang punya banyak energi, belajar untuk sabar dan melihat detail. Rara yang membawa kearifan dari tempat yang jauh, membuat kita sadar pentingnya menyatukan perbedaan. Dan aku... aku membantu mereka melihat dengan sentuhan, apa yang tidak bisa mereka lihat hanya dengan mata. Inklusivitas itu bukan hanya membangun jalan untuk kursi roda, tetapi membuka mata hati untuk semua orang dari latar belakang yang berbeda-beda.”
Bu Lina bertepuk tangan perlahan, diikuti oleh seluruh kelas. Aris dan Rara saling pandang, tersenyum lebar. Sedangkan Risa, meskipun ia tidak melihat senyum mereka, tetapi merasakan kehangatan persahabatan yang baru terbentuk. Mereka tahu, kelas 8B, dengan segala perbedaannya, telah berhasil membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar maket
Pemahaman.
Naila Habib Abdillah - 25010024002