Pemimpin Baru Hutan Rimba Raya
Di tengah Hutan Rimba Raya, suasana berkabung masih terasa. Para penghuni hutan masih menunduk sedih, merasakan kehilangan mendalam atas gugurnya sang raja hutan, Aruna. Seluruh hewan berkumpul di tanah lapangan, memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang selalu melindungi mereka.
Di antara mereka, berdiri Raka, seekor harimau yang gagah dan terkenal di kalangan hewan-hewan Meski tengah berduka, pesonanya tetap tak pudar. Tubuhnya yang kuat dan sorot mata yang tajam membuat semua hewan memandang kagum padanya.
Namun, dalam suasana sunyi itu, Meri si Merpati terbang dengan tergesa-gesa. Kepakan sayapnya yang cepat, dan suaranya yang parau karena Lelah terdengar.
“Hah..Hah..Teman-Teman!!” Seruan itu membuyarkan keheningan. Membuat semua mata tertuju padanya.
“Baruna tengah bertarung di perbatasan. Para penghuni luar datang berpasukan!!” Kabar itu membuat gempar. Suara panik dan bisik-bisik para hewan mulai memenuhi menggantikan keheneningan yang baru saja menyelimuti.
“Berhenti semuanya!” Suara Raka bergema lantang, membuat keramaian sesaat itu kembali menjadi terdiam. Sorot matanya yang tegas dan suara yang penuh wibawa.
“Siapapun yang memiliki kekuatan, ikut aku! Mari kita bantu Baruna!” Kobaran semangat dari Raka, membuat para penghuni hutang ikut berkobar. Mereka menatap satu sama lain, menegangkan tubuh dan Bersiap mengikuti Langkah sang harimau.
Meri memimpin perjalanan kali ini. Para burung terbang dengan cepat, dan hewan darat berlari dengan kencang. Mereka menuju perbatasan, tempat yang akan menjadi arena pertarungan mereka.
Suara auman Baruna semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Membuat mempercepat perjalanan mereka. Ternyata tidak hanya Baruna di sana, terdapat Loka anak dari sang pemimpin dan beberapa pasukannya.
“SERANG!” Teriakan Raka, memecah konsentrasi musuh. Mereka menoleh ke belakang dan menemukan Raka beserta hewan-hewan lain berlari membantu mereka menyerang.
“Maaf aku terlambat, kawan,” ucap Raka pada Baruna. Dengan semangat yang lebih berkobar, mereka bersama-sama melawan musuh. Baruna yang sudah lebih melawan mulai memahami situasi dan mulai menyusun strategi di kepala. Ia mendorong Raka ke belakang untuk menghindar sementara, berdiskusi bersama dan menentukan langkah selanjutnya.
Raka, ingin segera menyerang dan yakin dengan jumlah pasukan mereka yang lebih besar. Ia siap mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi hewan-hewan yang lain. Namun, Baruna menggeleng pelan atas keputusan Raka yang gegabah itu. Meski jumlah mereka lebih banyak, jika tanpa rencana, ia rasa usaha mereka akan sia-sia.
“Dengarkan aku! Jika menyerang sembarangan, kita bisa jatuh satu per satu.” Raka terdiam, ia kembali berpikir. Berakhir dengan mengikuti keputusan Baruna dan kembali ke formasi.
Pertarungan sengit itu berlanjut. Banyak hewan terluka, hingga auman terakhir Raka membuat pasukan lawan berbalik ke wilayah mereka. Hal itu disambut teriakan gembira dari hewan-hewan yang sudah lelah bertarung.
“Teman-teman yang tak terluka, dimohon untuk membawa hewan lain yang terluka!” ucapan Baruna segera menyadarkan para penduduk. Mereka mulai saling membantu atau memanggil bantuan untuk mengobati yang tak bisa berjalan.
Di tengah suasana yang riuh, Loka mendatangi sepasang sahabat, Raka dan Baruna.
“Akhir yang bagus Raka. Mereka ketakutan mendengar suaramu, hahaha!” sanjung sang anak pemimpin.
“Itu bukan apa-apa, ini juga berkat Baruna,” jawabnya atas sanjungan Loka. “Apa yang kau katakan? Ini berkat kita semua, kita saling membantu, oke?”
Loka hanya tertawa kecil melihat interaksi sepasang sahabat itu. Ia Kembali melihat sekeliling, merasa bangga atas rasa kepedulian yang dimiliki oleh penghuni hutan.
“Baruna, bagaimana jika kau menggantikan ayah?” pertanyaan itu seketika membuat sang singa berhenti sejenak.
“Melihat bagaimana kamu memimpin pertempuran kecil ini, aku rasa kau layak menggantikan ayah.”
Baruna menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, aku hanya memberikan rencana. Pemimpin sebenarnya adalah Raka, dia yang memimpin jalannya pertarungan.”
“Tidak, kau yang memberikan aku rencana, aku hanya pelaksana mengerti?” “Kau yang…”
Pertengkaran kecil, yang membuat para penghuni hutan melihat dan ikut tertawa. Tak ada yang mau mengalah.
“Berhenti kalian!! Kita akan mengambil Keputusan bersama. Tiga hari lagi, aku akan mengumpulkan penduduk, mereka yang akan memutuskan,” ucap Loka tegas.
Tepat tiga hari setelah pertempuran kecil, para penduduk dikumpulkan di lapangan untuk membahas siapa yang akan menjadi pemimpin Hutan Rimba Raya. Tak ada yang mau melewatkan kesempatan ini.
“Bagi yang memilih Baruna, silahkan bergerak ke sebelah kiri saya. Begitu pula sebaliknya,” para hewan mengikuti instruksi, dan tampak jumlah yang seimbang di kedua sisi.
Loka merasa pusing, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga sebuah suara terdengar, “Bagaimana jika mereka yang menjadi pemimpin?”
Suara hewan langsung bersorak setuju. “Benar, sebenarnya ini Adalah Keputusan sulit bagi kami untuk memilih antara mereka. Mereka sangat berjasa untuk kami. Tak mungkin untuk memilih salah satu saja dari mereka,” ucapan Meri langsung disetujui oleh para penduduk.
“Jika kalian mengizinkan adanya dua pemimpin dalam hutan ini, mari kita lakukan,” jelas Loka.
Tanpa pikir Panjang, setelah berdiskusi semua penduduk setuju untuk memilih keduanya, yakni Raka dan Baruna sebagai pemimpin baru Hutan Rimba Raya.
Kedua pemimpin itu berdiri berdampingan, dengan sinar lembut yang menyinari dan angin sepoi seakan ikut memberikan restu untuk mereka berdua. Hal ini juga kembali diiringi sorakan banagga para penduduk.
Dengan pemimpin baru, Hutan Rimba Raya membuka lembaran baru. Lembaran baru yang dipenuhi harapan, persatuan, dan semangat untuk menjaga kedamaian di setiap sudut hutan.
Nabila Aulia Aisyah - 25080694116