Pendidikan Inklusif
Pagi itu, cahaya matahari baru saja menembus sela-sela jendela kelas VIII B ketika Bu Mira datang lebih awal dari biasanya. Di tangan kanannya ada setumpuk kertas, sementara tangan kirinya menarik kursi baru yang kemudian diletakkannya di pojok dekat jendela. Kami, para siswa yang mulai berdatangan, saling berpandangan. Kursi itu tampak mencolok—bersih, rapi, dan terasa seperti menyimpan sebuah cerita baru.
“Anak-anak, nanti kita kedatangan teman baru,” kata Bu Mira setelah bel sekolah berbunyi. “Namanya Raka. Ia akan bergabung mulai hari ini. Kalian sambut ya.”
Beberapa siswa berbisik penasaran. Tak lama kemudian, pintu kelas diketuk. Seorang anak laki-laki berperawakan kurus masuk perlahan. Ia membawa tas ransel hitam dan sebuah buku catatan kecil yang selalu digenggam kuat. Rambutnya yang hitam dipotong rapi, matanya tajam namun penuh kehati-hatian. Raka tidak langsung duduk. Ia berdiri di samping Bu Mira, tersenyum tipis sambil menyapu ruangan dengan pandangannya.
“Raka adalah penyandang tunarungu,” jelas Bu Mira lembut. “Ia membaca gerak bibir dan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Bu Mira harap kalian semua bisa membantunya beradaptasi.”
Suasana kelas berubah senyap. Baru kali ini kami memiliki teman dengan kebutuhan khusus. Sebagian merasa ragu, sebagian lain terlihat ingin membantu namun tidak tahu harus mulai dari mana. Raka akhirnya duduk di bangku pojok itu—bangku yang dari tadi tampak seperti menunggu kedatangannya.
Aku duduk satu bangku di belakangnya. Dari posisiku, terlihat jelas bahwa Raka berhati-hati dalam setiap gerakannya. Ia membuka buku catatan, mencatat sesuatu, lalu sesekali menoleh ke papan tulis dengan fokus yang jauh lebih besar dari kami yang lain.
Saat istirahat pertama, aku memperhatikan teman-teman masih canggung. Tidak ada yang mendekat. Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri berjalan ke arahnya.
“Halo… aku Nisa,” ucapku pelan sambil menunjuk diriku sendiri agar gerak bibirku mudah dibaca.
Raka menatapku sebentar, lalu tersenyum lebar. Ia membuka buku catatannya, menuliskan sesuatu dengan cepat, dan menunjukkan kepadaku: “Hai. Terima kasih sudah menyapa.”
Jawaban sederhana itu membuatku hangat. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjadi orang pertama yang mencoba memahami dunianya.
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Kini aku tidak lagi hanya belajar pelajaran sekolah, tapi juga belajar bahasa isyarat. Dimulai dari kata-kata sederhana seperti “halo”, “terima kasih”, “teman”, dan “baik”. Raka tampak bahagia setiap kali aku berhasil menirukan isyaratnya dengan benar. Kadang-kadang ia menepuk meja pelan sebagai tanda “ya, benar”.
Lama-lama teman-teman lain juga ikut tertarik. Pada jam istirahat, beberapa anak mulai mengelilingi Raka sambil bertanya isyarat tertentu. “Bagaimana isyarat untuk ‘makan’?” “Kalau ‘main’ bagaimana?” Raka menjawab semuanya dengan telaten, dan kelas kami perlahan berubah menjadi ruang kecil yang penuh tangan bergerak dan tawa yang tidak lagi canggung.
Suatu hari, Bu Mira memberikan tugas presentasi kelompok. Awalnya, aku khawatir Raka tidak nyaman tampil di depan kelas. Namun saat aku mengusulkan agar ia membantu membuat poster saja, Raka menuliskan: “Aku mau coba jelaskan. Kamu bisa bantu suarakan?”
Aku tersenyum dan mengangguk. Ketika hari presentasi tiba, kami membawa poster besar berwarna biru. Di depan kelas, Raka berdiri tegak. Ia mulai menjelaskan menggunakan bahasa isyarat—gerakannya lembut namun penuh keyakinan. Aku menarasikan setiap kalimat yang disampaikan.
Yang mengejutkan, teman-teman tidak hanya mendengarkan, tapi benar-benar memperhatikan. Bahkan saat aku berhenti sejenak, mereka menunggu Raka selesai memberi isyarat agar aku dapat melanjutkan. Setelah presentasi, tepuk tangan bergema lebih lama dari biasanya. Raka tampak bahagia, pipinya memerah menahan senyum.
Namun pengalaman paling berkesan terjadi sepekan kemudian. Hari itu, sekolah mengadakan latihan evakuasi gempa. Tanpa peringatan, alarm mendadak berbunyi keras. Sirine memekakkan telinga, dan suasana kelas berubah kacau. Siswa-siswa panik berlari ke arah pintu.
Aku segera menoleh ke bangku Raka. Ia tampak terkejut—tidak karena suara alarm, tetapi karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya melihat teman-teman berhamburan keluar. Raut wajahnya berubah tegang.
Tanpa pikir panjang, aku berlari dan menggenggam tangannya. Ia menatapku dengan bingung.
“Gempa!” ucapku jelas sambil membuat isyarat yang pernah dipelajari di kelas PKn. “Ikut aku!”
Raka mengikuti langkahku. Dalam perjalanan menuju lapangan, beberapa teman lain juga membantu mengarahkan dan memberi isyarat sederhana. Kami keluar kelas bersama sama, membentuk lingkaran kecil di dekat titik berkumpul.
Ketika latihan selesai, Bu Mira menghampiri kami. Ia mengusap bahu Raka dengan penuh bangga.
“Kalian hebat,” katanya kepada kami semua. “Inilah artinya inklusi—saling mendukung, bukan karena kasihan, tapi karena semua orang berhak merasa aman dan dihargai.”
Kata-kata itu melekat dalam pikiranku sepanjang hari.
Seiring waktu berjalan, sekolah semakin berusaha menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan Raka. Guru-guru mulai berbicara lebih pelan dan menghadap ke kelas agar Raka dapat membaca gerak bibir dengan jelas. Papan informasi visual ditempel di beberapa ruang kelas. Teman-teman pun semakin terbiasa menyertakan Raka dalam percakapan, permainan, bahkan bercanda—meski kadang perlu waktu lebih lama baginya untuk memahami alurnya.
Suatu sore, saat kami menunggu dijemput, Raka mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan sesuatu:
“Waktu pertama ke sini, aku takut tidak punya teman. Terima kasih sudah membuatku merasa diterima.”
Aku terdiam sejenak, lalu menulis balasan di bawah kalimatnya: “Terima kasih juga sudah membuat kami belajar banyak. Kamu bukan hanya bagian dari kelas ini. Kamu bagian dari kami.”
Raka membaca kalimat itu, kemudian menatapku sambil tersenyum—senyum yang rasanya lebih jujur dan hangat daripada sebelumnya.
Hari-hari berikutnya terus mengajarkan aku makna inklusi yang sesungguhnya. Bukan sekadar aturan sekolah atau slogan di dinding, tetapi pengalaman nyata: berbagi ruang, berbagi perhatian, dan berbagai pengertian. Semua itu tumbuh secara alami ketika seseorang tidak hanya diterima, tetapi juga dipahami.
Kini, bangku di pojok kelas itu bukan lagi bangku baru yang kosong. Ia menjadi simbol perubahan kecil yang bermakna. Di situ, seorang anak bernama Raka duduk dan menunjukkan kepada kami bahwa setiap manusia, dengan segala keunikannya, selalu memiliki tempat untuk tumbuh bersama—asal ada yang mau membuka hati dan memberi ruang.
Dan di kelas VIII B, kami belajar bahwa inklusif bukan tentang siapa yang paling cepat, paling pintar, atau paling sempurna. Inklusif adalah tentang bersama. Tentang tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang sendirian, dan semua memiliki kesempatan yang sama untuk bersinar.
Handha Lutfi Valerino - 25010024046