Perkembangan dalam Sunyi Resonansi Warna Risa
Risa mengenal dunia sebagai getaran, bukan suara. Sejak lahir, ia didiagnosis tuli total. Lingkungan di sekitarnya bergerak dalam bisikan yang tak pernah ia dengar, dalam tawa yang tak pernah ia saksikan. Bagi Risa kecil, dunia adalah film bisu dengan palet warna yang luar biasa intens.
Di Sekolah Dasar, Risa adalah anomali. Ia duduk di bangku paling depan, mencoba keras membaca gerak bibir guru yang terasa seperti teater yang rumit dan melelahkan. Ia sering tertinggal, ia sering dikira tidak fokus. Anak-anak lain, tanpa maksud jahat, menjauh karena mereka tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengannya. Risa merasa dunianya terbuat dari kaca; ia bisa melihat semuanya, tetapi ada penghalang tak terlihat yang memisahkannya dari interaksi sejati. Satu-satunya tempat Risa merasa utuh adalah dihadapan kertas.
Saat berusia sepuluh tahun, orang tuanya memberikannya satu set cat air yang bagus. Sejak saat itu, kamar kecilnya berubah menjadi studio sunyi. Di sana, Risa melukis perasaannya. Jika ia merasa frustasi karena tidak dapat memahami suatu pelajaran, kuasnya menari liar
menciptakan pusaran merah dan hitam. Jika ia merasa damai saat duduk di bawah pohon mangga, warna hijau zamrud dan biru langit muncul dengan gradasi yang lembut.
Lukisan Risa tidak mengikuti aturan perspektif atau realisme. Mereka adalah emosi yang dimanifestasikan dalam warna. Guru seni di sekolahnya, Bu Ratna, sering tertegun. Karya Risa terasa mentah, jujur, dan memiliki energi yang hampir bisa didengar sebuah ironi yang menyentuh.
Bu Ratna pernah menulis di buku catatannya, menunjuk lukisan Risa yang berupa guratan tebal abu-abu dan ungu gelap. Risa hanya tersenyum, mengangguk. Ya, itu adalah guntur yang ia rasakan melalui getaran tanah, sebuah sensasi yang jauh lebih menakutkan dan nyata daripada yang dibayangkan orang lain.
Memasuki masa SMP, penolakan sosial terasa semakin tajam. Remaja mencari koneksi, dan tanpa komunikasi lisan yang lancar, Risa terisolasi. Orang tuanya, yang mencintainya tanpa
batas, bersikeras pada terapi bicara dan alat bantu dengar, berharap Risa ‘sembuh’ dan dapat beradaptasi dengan dunia pendengaran. Mereka melihat ketulian Risa sebagai kekurangan yang harus diperbaiki.
Perkembangan sejati Risa dimulai pada usia lima belas, berkat seorang guru seni baru, Pak Dika. Pak Dika adalah seorang pelukis lanskap yang tenang dan, yang paling penting, berpikiran terbuka.
Pada pertemuan pertama, alih-alih mencoba berbicara dengannya, Pak Dika mengeluarkan kertas dan pena. Ia menulis: “Aku tidak tahu bahasamu. Tapi aku tahu bahasamu adalah warna. Bisakah kau mengajariku caramu melihat dunia?”
Risa terpana. Untuk pertama kalinya, seseorang tidak mencoba memperbaikinya; seseorang ingin belajar darinya. Pak Dika kemudian mulai belajar Bahasa Isyarat Indonesia BISINDO secara otodidak. Awalnya kaku dan canggung, tetapi ia gigih. Perlahan, Pak Dika menjadi jembatan Risa ke dunia luar.
Melalui BISINDO, Pak Dika mengajarkan Risa bukan hanya teknik seni, tetapi filosofi. Ia menunjukkan karya seniman bisu yang hebat, membahas bagaimana ketidakmampuan mendengar telah mempertajam indra visual mereka hingga ke tingkat yang tidak terbayangkan.
Risa, Pak Dika mengisyaratkan suatu sore di studio, tangannya bergerak anggun seperti burung, “Kau tidak tuli, kau hanya memiliki perspektif yang berbeda. Duniamu adalah keheningan, dan dalam keheningan itu, detail visual menjadi resonansi.”
Pak Dika mendorongnya untuk melukis konsep yang tak terlukiskan: sensasi sentuhan, rasa sakit yang membosankan, atau kehangatan kasih sayang. Ini adalah titik balik besar dalam perkembangan Risa. Ia mulai menyadari bahwa ketuliannya bukanlah cacat, tetapi lensa unik yang diberikan kepadanya untuk memandang realitas. Ia berhenti mencoba menjadi 'normal' dan mulai menjadi Risa.
Pada usia 19 tahun, Risa diterima di Institut Seni ternama. Tantangan di tingkat ini jauh lebih berat. Jika di sekolah menengah ia dapat mengandalkan kebaikan Pak Dika, di sini ia harus berjuang untuk mendapatkan akomodasi yang layak.
Kuliah umum yang wajib dihadiri, kritik kelompok yang cepat, dan diskusi teori yang intens menjadi medan pertempuran harian. Pemerintah memberikan satu penerjemah BISINDO,
tetapi jadwalnya sering kali berbenturan, membuat Risa harus mengandalkan teman sekelas yang baik hati untuk menuliskan ringkasan di tengah-tengah.
Kecemasan dan rasa lelahnya mencapai puncak menjelang tugas akhir semester. Profesornya, seorang puritan seni yang sangat akademis, meragukan apakah Risa dapat menyampaikan visi artistiknya tanpa kemampuan presentasi lisan yang memadai.
“Seni harus berbicara, Risa. Bagaimana karyamu bisa berbicara tanpa suara?” tanya Profesor Bramantyo dalam sesi konsultasi, melalui pesan tertulis yang dingin.
Risa menanggapi keraguan itu dengan kemarahan visual. Ia menciptakan seri tiga kanvas besar, masing-masing setinggi dua meter, berjudul “Wadah Sunyi”.
Saat presentasi, Risa berdiri di depan karyanya. Ia tidak berbicara, ia juga tidak menggunakan penerjemah. Ia hanya menampilkan tiga lukisan itu. Kemudian, ia membalik papan tulis kecil di sampingnya. Di sana, ia menulis “Profesor, Anda bertanya bagaimana seni saya bisa berbicara tanpa suara. Saya tunjukkan. Suara adalah getaran. Diskriminasi adalah getaran yang merusak. Koneksi adalah getaran yang membangun. Saya melukis apa yang saya rasakan, bukan apa yang Anda dengar. Inilah resonansi saya.”
Seluruh ruangan hening. Profesor Bramantyo, yang biasanya sinis, hanya bisa mengangguk pelan. Dia tidak hanya melihat seni dia merasakan seni. Risa tidak hanya lulus ujian, ia mendefinisikan ulang apa arti berkomunikasi dalam seni.
Setelah insiden presentasi itu, Risa menjadi sosok yang menarik. Namun, perkembangan terpentingnya bukan datang dari pengakuan akademis, melainkan dari komunitas.
Melalui organisasi disabilitas, Risa terhubung dengan komunitas Tuli di kotanya. Di sanalah ia menemukan identitas kolektif. Ia bukan lagi Risa ‘yang tuli di sekolah pendengaran,’ tetapi Risa, bagian dari budaya Tuli yang kaya dengan bahasa, humor, dan sejarahnya sendiri. Ia melihat para penyandang disabilitas lain yang bekerja sebagai pengacara, guru, dan pengusaha mereka yang tidak mencoba menjadi ‘normal’ tetapi berhasil mendefinisikan kembali apa itu normal.
Pameran itu sensasional. Risa menampilkan lukisan yang terinspirasi oleh gerakan tangan dalam BISINDO, memvisualisasikan ritme percakapan yang tak bersuara. Ia juga memasang lantai yang dapat menyampaikan getaran kejut bass dari musik, sehingga pengunjung yang memiliki keterbatasan pendengaran dapat merasakan musik seperti yang ia rasakan.
Pada pidato pembukaan, Risa menggunakan penerjemah. Ia tidak berbicara tentang perjuangan, tetapi tentang perspektif “Dulu, saya pikir perkembangan berarti saya harus menjadi pendengar. Saya pikir saya harus mengobati ketulian saya. Hari ini saya tahu, perkembangan sejati adalah ketika saya menerima bahwa ketulian saya adalah cara unik saya untuk memahami keindahan. Kita tidak perlu disembuhkan, kita hanya perlu didengar dengan mata.”
Pameran tersebut bukan hanya sukses artistik; itu adalah pernyataan sosial. Piring-piring kue di jamuan pembukaan tidak hanya memajang makanan, tetapi juga berisi kartu-kartu kecil yang mengajarkan isyarat dasar BISINDO, sebuah inisiatif dari Risa sendiri.
Lima tahun berlalu. Risa, kini 25 tahun, adalah seorang seniman yang dihormati dan juga seorang konsultan komunikasi visual untuk aksesibilitas.
Perkembangan karirnya telah membawanya melampaui kanvas. Ia bekerja sama dengan museum dan galeri untuk mendesain pameran yang lebih inklusif, memastikan setiap instalasi dilengkapi dengan panduan visual yang kaya dan deskripsi yang disajikan dalam video isyarat. Ia berjuang untuk mewujudkan ‘Desain Universal’ dalam dunia seni bahwa keindahan harus dapat diakses oleh semua orang, terlepas dari kemampuan mereka.
Karya terakhir Risa yang paling signifikan adalah sebuah mural komunitas raksasa di dinding Balai Kota. Mural itu menampilkan latar belakang abstrak yang tenang, dan di atasnya, puluhan tangan dari berbagai etnis dan usia diukir. Beberapa tangan mengisyaratkan Cinta, yang lain Koneksi, dan beberapa lagi Mimpi.
Risa tidak pernah bisa mendengar. Ia tidak pernah bisa mengobrol santai seperti yang dilakukan teman-teman pendengar lainnya di telepon. Namun, ia kini memiliki ribuan orang yang ingin melihat dan memahami apa yang ia katakan, bukan karena kasihan, tetapi karena karyanya memberikan perspektif yang dibutuhkan dunia.
Perkembangan Risa bukanlah cerita tentang kesembuhan ajaib. Itu adalah cerita tentang metamorfosis bagaimana ia mengubah apa yang dianggap oleh dunia sebagai penghalang menjadi sumber kekuatan, bagaimana ia mengambil keheningan dan mengubahnya menjadi resonansi warna yang paling jelas dan lantang yang pernah ada. Ia tidak lagi mencari suara; ia adalah suara bagi banyak orang.
ANNISA FARAH SALSABILA - 25010024043