PERKEMBANGAN DISABILITAS
Rintik hujan masih menempel di kaca jendela ketika Lino mengamati halaman belakang rumahnya. Di sana, rumput tumbuh subur, namun jejak-jejak roda kursi yang sering digunakan tampak samar di antara tanah basah. Dulu ia berlarian di sana, mengejar layang layang yang tak pernah berhasil ia kendalikan. Kini, meski badannya tak lagi bebas bergerak seperti dahulu, ia tetap merasa bahwa sesuatu didunia ini masih menunggu untuk dikejar.
Kecelakaan yang menimpanya setahun lalu merubah seluruh hidupnya. Kakinya lumpuh, tubuhnya kehilangan sebagian kebebasan yang dulu ia anggap biasa. Hari-hari awal menjadi berat, ibunya selalu tampak cemas, dan ayahnya sibuk mencari cara agar rumah dapat disesuaikan dengan kebutuhan baru Lino. Meski mereka berusaha, ada saat-saat ketika Lino merasa semua itu tidak cukup menolong perasaan kosong yang tinggal di dadanya.
Perubahan datang ketika sekolahnya memulai program pengembangan mandiri untuk siswa disabilitas. Ruang kelas direnovasi dengan jalur khusus, alat bantu pembelajaran mulai digunakan, dan para guru diberi pelatihan untuk menghadapi keberagaman murid. Lino sempat ragu apakah ia sanggup kembali ke sekolah, namun keputusan itu akhirnya ia ambil, dengan perasaan was was yang sulit ia sembunyikan.
Hari pertama kembali ke sekolah terasa seperti membuka pintu ke dunia yang ingin ia tinggalkan. Namun seketika itu pula ia melihat sesuatu yang berbeda. Lorong panjang yang biasanya terasa menakutkan kini dilengkapi pegangan dan jalur landai. Beberapa temannya menyukainya, meski canggung, namun tetap dengan tulus. Raut wajah mereka tidak lagi menaruh kasihan berlebihan.
Dalam kelas, Bu Karima memperkenalkan berbagai alat baru tablet pembelajaran, papan digital, dan kursi ergonomis khusus. Lino dipersilakan memilih posisi belajar yang membuatnya nyaman. Guru itu tidak berbicara tentang keterbatasan Lino ia justru menekankan bahwa setiap murid memiliki cara belajar masing-masing. Sikap itu membuat hati Lino terasa lebih ringan, seolah-olah ia tidak sedang memasuki dunia baru yang menuntut banyak penyesuaian, melainkan pulang ke tempat yang masih menerimanya.
Di sekolah, Lino menemukan pelajaran yang membuatnya kembali antusias: kelas rekayasa sederhana. Di kelas itu, mereka belajar membangun alat dari bahan-bahan murah. Guru mereka, Pak Reja, seorang lelaki yang penuh ide, sering mengatakan bahwa teknologi tak harus besar dan rumit untuk berdampak bagi seseorang. Kalimat itu tertanam dalam kepala Lino.
Suatu siang, Pak Reja memberi tugas membuat alat yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Murid-murid bebas memilih apapun selama alat tersebut memungkinkan untuk dibuat. Lino tertegun cukup lama. Ia memikirkan hal-hal kecil yang masih membuat hidupnya sulit. Yang paling mengganggunya adalah kenyataan bahwa barang-barang kecil sering terjatuh, dan ia sulit meraihnya tanpa bantuan.
Dari situ muncul gagasan sebuah tongkat penjepit otomatis yang dapat dikontrol hanya dengan gerakan tangan. Tidak memerlukan banyak tenaga, tidak rumit cara kerjanya, tetapi sangat berguna bagi orang-orang sepertinya.
Ia mengungkapkan idenya kepada kelompoknya. Teman-temannya Ari, Salsa, dan Rafi menyambut dengan semangat. Mereka mulai mengumpulkan bahan, merancang mekanisme sederhana, dan mencoba membuat alat itu agar ringan dan mudah digunakan. Ruang praktik dipenuhi suara bor mini, lem tembak, dan tawa kecil yang timbul setiap kali percobaan mereka berakhir gagal namun lucu.
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Sensor yang mereka pakai sering tidak merespons, penjepit membuka dan menutup tanpa sebab, dan tongkatnya terlalu berat sehingga sulit diangkat. Namun Lino justru merasakan gairah baru. Setiap kegagalan membuatnya ingin tahu apa yang salah. Setiap malam ia menggambar ulang desain, memikirkan ulang mekanisme, dan menuliskan catatan-catatan kecil yang memenuhi meja belajarnya.
Di kamar, lampu tidur sering menyala hingga larut. Ibunya beberapa kali menegur, tetapi ketika melihat matanya berbinar memandang rangkaian kecil itu, ia membiarkan Lino menyelesaikan prosesnya. Ada sesuatu yang pulih dalam diri anak itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan dengan kata-kata.
Sebulan berlalu, dan akhirnya alat itu bisa bekerja dengan stabil. Tongkatnya ringan, penjepitnya kuat, dan sensor gerak kecil di gagangnya mampu membaca gerakan tangan Lino. Ia merasa sedang memegang bukan hanya alat, tetapi juga kembali memegang kendali atas hidupnya sendiri.
Hari pameran proyek tiba. Aula sekolah ramai oleh karya murid-murid lampu otomatis, miniatur lengan hidrolik, dan bahkan alat musik otomatis buatan salah satu kelompok. Namun begitu Lino dan teman-temannya memperkenalkan alat mereka, banyak orang
berhenti untuk melihat. Lino mendemonstrasikan cara kerja tongkat itu. Ia mengarahkan tangan ke sensor, penjepit membuka. Ia mendekatkan tongkat ke sebuah bola kecil di lantai, penjepit menutup dan mengangkatnya perlahan. Beberapa guru tampak terkejut, beberapa teman bertepuk tangan sambil kagum. Bahkan Bu Karima tampak tak kuasa menyembunyikan senyumnya.
Di sudut aula, ayah dan ibu Lino berdiri memperhatikan, saling melempar pandang penuh kelegaan. Ayah mengangguk perlahan, seolah ingin mengatakan bahwa keberhasilan itu bukan sekadar kerja tangan, tetapi kerja hati. Lino merasa dadanya hangat. Ia tahu bahwa meski alat itu sederhana dan tidak sempurna, ia telah menunjukkan bahwa ia masih mampu menciptakan sesuatu yang berarti bagi dirinya, dan mungkin bagi orang lain.
Beberapa minggu setelah pameran, kabar menggembirakan datang. Proyek kelompok Lino dipilih untuk dipresentasikan di Festival Inovasi Pemuda Kabupaten. Sekolah membantu menyiapkan segala keperluan, dan Lino diberi waktu untuk menyempurnakan alatnya. Ia menambahkan tombol darurat, memperbaiki penjepit agar lebih kuat, dan mengecat gagangnya agar terlihat lebih rapi.
Pada malam sebelum lomba, Lino duduk di teras belakang. Langit dipenuhi awan tipis, dan suara jangkrik meramaikan malam. Melihat tongkat penjepit otomatis itu tergeletak di pangkuannya, ia berpikir betapa jauhnya ia telah melangkah sejak hari ketika ia tak berani melihat dirinya di cermin. Perasaan getir dan putus asa dulu memang besar, namun tidak lebih besar daripada kemampuannya untuk beradaptasi. “Apakah ini yang disebut berkembang?” gumamnya lirih. Ia bukan bertanya untuk mencari jawaban, melainkan untuk menandai sejauh mana hatinya telah berubah.
Pagi itu, festival berlangsung meriah. Aula besar dipenuhi ratusan murid dari berbagai daerah. Ada tawa, ada ketegangan, namun ada juga semangat untuk saling belajar. Saat giliran Lino tiba, ia maju dengan kursi rodanya, memegang alat yang telah ia sempurnakan. Presentasinya berjalan lancar. Juri menguji alat tersebut, mencoba membuka dan menutup penjepit, dan menanyakan mekanisme sensor gerak. Lino menjelaskan semua dengan tenang. Ia tidak lagi gugup perjalanan panjang selama berbulan-bulan telah membentuk keberanian baru dalam dirinya.
Ketika hasil diumumkan, alat buatan Lino meraih Juara Harapan, bukan juara utama. Namun bagi Lino, penghargaan itu terasa jauh lebih besar daripada sekadar peringkat. Ia berhasil membawa gagasan kecil yang lahir dari keterbatasan menjadi sesuatu yang dihargai oleh banyak orang.
Dalam perjalanan pulang, ayah menepuk pundaknya perlahan dan berkata, “Kamu sudah membuka langitmu sendiri, Nak. Lebih luas daripada yang bisa Ayah bayangkan.” Lino hanya tersenyum. Ia tahu, kehidupan dengan disabilitas bukan jalan yang mudah. Tetapi perkembangan bukan berarti menghapus keterbatasan melainkan menemukan cahaya baru dalam batas yang ada. Dan saat itu, ia yakin bahwa langkahnya baru saja dimulai.
DESHINTA DYAH KINANTI - 25010024045