Persahabatan Beruang
Di suatu tempat, hiduplah tiga ekor beruang madu. Mereka adalah Momo, Tio, dan Rara. Ketiganya sudah bersahabat sejak kecil. Di masa kecil, mereka tinggal di hutan. Setelah besar, mereka hidup terpisah. Momo menetap di hutan. Tio pergi berkelana dan Rara tinggal bersama orang tuanya di pinggiran kota.
Dirumahnya yang mungil, Momo suka membuat kue madu. Ia sering membagikan kue madu buatannya kepada hewan lain yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Pada sutu hari Tio berkunjung kerumah Momo. “Hai, Momo!” sapa Tio gembira. “Hai, Tio! Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Momo riang. “Sangat baik, Mo. Kabar kamu bagaimana?”. “Aku juga baik, Yo” jawab Momo. “Kebetulan hariini aku membuat kue madu. Makanlah kue ini”, kata Momo kepada Tio. “Wah senangnya! Terima kasih banyak, Mo”, jawab Tio.
Kue madu buatan Momo memang enak. Mereka bercerita sambil memakan kue. “Aku ingin minta tolong kepadamu, Tio”, pinta Momo. “Apa yang harus aku tolong, Mo?” tanya Tio. “Besok kamu akan pergi ke pinggiran kota, kan?” Tanya Momo. “Iya, Mo. Rencananya begitu” sahut Tio. “Maukah kamu mengantrakan kue ini kepada Rara dan keluarganya?”, tanya Momo lagi. “Oh iya, Rara kan tinggal di sana ya?”, jawab Tio senang. “Baiklah, Mo, Aku akan mengantrakannya. Aku juga sudah kangen pada Rara dan kedua orang tuanya”, lanjut Tio. Momo memasukkan kue untuk Rara ke dalam keranjang. Momo juga memberi beberapa kue untuk bekal Tio.
Keranjang kue untuk Rara ternyata berat. Keluarga Rara memang cukup banyak. Ia memiliki empat adik. Tante dan pamannya juga ikut tinggal di rumah Rara. Keranjang kue yang berat memperlambat jalan Tio. Tangan Tio terasa pegal. Ia harus sering berhenti untuk istirahat. Bekal kue yang diberikan Momo pun habis. “Aduh, kue ini berat dan merepotkan,” gerutu Tio. “Aku akan memakannya sedikit. Keluarga Rara tidak akan tahu”, pikir Tio.
Ia meletakkan keranjang. Lalu, tangannya membuka tutup keranjang itu. Tiba-tiba Tio teringat pesan Momo. Ia harus memberikan kue ini pada Rara. Keluarga Rara hidup pas-
pasan dipinggiran kota. Mereka pasti akan sangat senang menerima kiriman kue dari Momo. Karena kue itu dapat mencukupi kebutuhan makan mereka untuk beberapa hari. “kasihan mereka kalau aku makan kue ini”, pikir Tio. “Aku tidak boleh memakan kue ini. Nanti tentunya kue ini tidak cukup untuk mereka.” Tangan Tio menutup keranjang kue. Dengan tertatih-tatih Tio melanjutkan perjalanan. Ia sangat Lelah dan kelaparan. Akhirnya, Tio sampai di rumah Rara. Tio mengucapkan salam.
Ibu Rara membuka pintu. Ibu Rara terkejut sekaligus senang akan kedatangan Tio. “Yaampun Tio, sudah lama sekali kita tidak berjumpa, Nak”, sambut Ibu Rara haru. “Apa kabar, Bu?” sahut Tio. “Kabar baik, Tio” jawab Ibu. “Mari masuk, Ayah dan Rara ada didalam”, lanjut Ibu Rara. Ayah dan Rara datang dari arah dalam. Mereka sangat gembira dengan kedatangan Tio.
“Sudah lama sekali, Tio. Aku kangen sekali”, kata Rara. “Aku juga”, sahut Tio terharu. Mereka berbincang riang tentang banyak hal. Tentang petualangan Tio, tentang keluarga Rara, dan juga tentang Momo.
“Terima kasih, Tio. Kamu sudah mengantarkan kue ini untuk kami”, kata Ibu Rara. Tio merasa lega. Rupanya, jumlah kue titipan Momo pun pas untuk keluarga Rara. Saat Tio ingin pulang. Rara pergi ke kamar dan kembali dengan membawa sesuatu untuknya. “Tio, ini hadiah unntukmu”, Rara memberikan sepeda kayu buatannya kepada Tio. “Sepeda kayu ini bisa mempercepat perjalananmu”, ujar Rara. “ Wah, terima kasih banyak, Rara, Aku akan menggunakannya dengan baik”, sahut Tio senang. Lalu, Tio pamit dan pergi dengan gembira. Sepeda kayu membuat perjalanan Tio menjadi lebih cepat. Ia pun jadi tidak mudah lelah. Tio akan membawa sepeda kayu itu untuk menemaninya berkelana.
Nilai-nilai pancasila yang terdapat pada kisah tersebut yaitu sila kedua, tampak sikap Tio yang berperikemanusiaan dan peduli terhadap keluarga Rara. Ia jujur dan bertanggung jawab dengan tidak memakan kue titipan Momo meskipun lapar, karena ia tahu kue itu penting untuk keluarga Rara. Sila ketiga terlihat dari persahabatan mereka yang tetap terjaga meskipun tinggal berjauhan. Mereka saling membantu dan menghargai satu sama lain, menunjukkan semangat persatuan. Sementara sila kelima tampak dari kebaikan hati Momo yang suka berbagi kue madu kepada teman-temannya secara adil tanpa membeda-bedakan. Cerita ini mengajarkan pentingnya kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kepedulian, serta tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari.
Na’ila Alya Zhafira - 25080694044