Petualangan Mitha di Negeri Tertawa Abadi
Pada suatu pagi yang cerah di kampus Nusantara Raya, Mitha, seorang mahasiswi semester akhir jurusan Filsafat Kehidupan, sedang stres berat karena tugas akhir yang tak kunjung selesai. Di layar laptopnya tertulis: “Tulislah karya fiksi tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern.” Mitha menghela napas panjang.
“Hidup aja belum kelar, gimana mau nulis nilai kehidupan?” gerutunya.
Karena kelelahan, ia merebahkan kepala di meja perpustakaan kampus dan tertidur. Tiba-tiba “duar!” sebuah tawa keras menggema di sekitar ruangannya. Saat membuka mata, Mitha mendapati dirinya berada di tempat yang luar biasa aneh. Langit berwarna kuning cerah, pepohonan terbuat dari permen kapas, dan semua orang tertawa tanpa henti. Di pintu gerbang bertuliskan kalimat dengan tulisan besar “Selamat Datang di Negeri Tertawa Abadi, Tempat Duka Dilarang Masuk!”
Awalnya Mitha senang. Semua orang ramah, makanan gratis, dan setiap kali ia menjatuhkan sesuatu, warga akan menertawakannya sambil bersorak,
“Lucunya kamu!”
Namun lama-kelamaan, Mitha mulai curiga. Di negeri itu, tidak ada yang mau mendengar masalah orang lain. Saat seorang anak kecil menangis karena kehilangan boneka, warga justru menertawakannya. Saat seorang nenek jatuh, mereka bilang,
“Lucu banget gaya jatuhnya!” sambil tertawa.
Mitha yang mulai kesal bertanya pada Raja Kocak, seorang pria berperut bundar dengan
mahkota berbentuk badut yang saat itu mengantar mitha untuk melihat suasana di negeri ini.
“Kenapa semua orang di sini Cuma tertawa tanpa ada rasa peduli?”
Raja menjawab sambil tergelak, “Karena tawa menyatukan kami! Tidak ada air mata, tidak ada masalah, hanya bahagia selamanya!”
Namun di balik senyum Raja, Mitha melihat mata yang lelah mata orang yang menutupi luka dengan tawa. Setelah itu, Mitha pun bertekad untuk mencari tahu kebenaran di balik negeri Tertawa Abadi. Ia dibantu dua makhluk lucu yang diperintah oleh Raja untuk menemani Mitha selama berada di negeri ini, yaitu “Pipit”, burung kecil yang cerewet dan gemar komentar, dan “Romo Gigi”, peri gundul yang giginya bersinar seperti lampu.
Di tengah perjalanan mereka dalam mencari kebenaran di negeri Tertawa Abadi, Mitha menemukan tempat tersembunyi yang bernama “Lembah Sunyi”, di mana semua suara tawa berhenti. Di sana tinggal para orang tanpa senyum, mereka yang dibuang karena berani menangis dan menolak berpura-pura bahagia. Karena rasa penasaran yang sangat besar, Mitha mulai bertanya kepada satu orang di antara mereka,
“Kenapa kalian semua tinggal di sini? Bukankah di luar sana semua orang hidup bahagia dan tertawa setiap hari?”
Orang itu, seorang lelaki tua berjanggut putih dengan mata sendu, menjawab pelan,
“Nak, mereka tidak benar-benar bahagia. Mereka hanya takut dianggap lemah kalau menangis. Kami di sini memilih jujur pada perasaan kami, walau harus dibuang.”
Mitha menatap sekeliling. Orang-orang di Lembah Sunyi tampak damai meski wajah mereka tak tersenyum. Ada anak kecil yang sedang menulis di tanah, seorang ibu yang memeluk bayinya dengan lembut, dan kakek-kakek yang duduk berdoa sambil menatap langit. Lelaki tua itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai “Tuan Sendu”. Ia berkatalirih,
“Dulu kami hidup di tengah mereka. Tapi setelah Raja kehilangan putrinya karena badai
besar, ia bersumpah tak ingin melihat kesedihan lagi. Maka sejak saat itu, siapa pun yang menangis, akan dibuang ke sini.”
Mitha terdiam. Ia mulai memahami bahwa tawa yang tak pernah berhenti ternyata lahir dari takut menghadapi kesedihan.
“Jadi... mereka tertawa bukan karena bahagia, tapi karena tak berani sedih?” tanya Mitha pelan.
“Benar sekali,” jawab Tuan Sendu.
“Dan selama itu berlangsung, mereka lupa bagaimana rasanya peduli.”
Lalu Mitha mengepalkan tangan. “Kalau begitu, aku harus mengembalikan perasaan mereka! Negeri ini tidak akan benar-benar damai tanpa hati yang jujur.”
Pipit si burung cerewet langsung berkicau, “Gila! Kamu mau melawan Raja Kocak? Itu
sama aja kayak menertawakan tawa!”
Romo Gigi menimpali sambil mengusap giginya yang berkilau, “Tapi aku rasa Mitha
benar. Kadang tawa tanpa makna itu lebih berbahaya daripada tangis yang menggebu gebu.”
Mitha tersenyum. “Kalau begitu, kita harus buat mereka ingat apa artinya empati.”
Akhirnya, dengan bantuan Tuan Sendu, mereka merancang rencana besar, yaitu Mitha akan menampilkan pertunjukan tawa dan tangis di istana Raja saat nanti malam pada acara penyambutan tamu. Ia ingin memperlihatkan bahwa manusia tidak bisa hidup hanya dengan satu sisi perasaan saja. Malam pun tiba. Di balairung istana, seluruh warga berkumpul, tertawa tanpa henti.
Raja duduk di singgasana, menggenggam tongkat badutnya sambil tersenyum lebar.
“Rakyatku!” serunya.
“Hari ini kita akan menyambut tamu dari dunia lain, si gadis bernama Mitha yang katanya akan membawa hiburan baru! Hahaha!”
Rakyatnya pun menyambutnya dengan tertawa juga “Hahahahaha” Lalu, Mitha melangkah ke depan panggung. Ia mulai menampilkan hiburannya, tertawa bersama mereka, tawa yang lama-kelamaan berubah menjadi tangis. Air matanya jatuh, dan ia berkata lantang di hadapan semua orang
“Kalian menertawakan duka, tapi pernahkah kalian mencoba mendengarkannya? Tawa tanpa hati hanyalah topeng. Sedih bukanlah kutukan, tapi tanda bahwa kita manusia.”
Raja Kocak terdiam. Rakyat pun bingung, beberapa mulai berhenti tertawa. Langit yang tadinya kuning berubah kelabu. Awan menggulung di atas istana. Raja ketakutan,
“Itu Kutukan Kesedihan Abadi! Kalau tawa hilang, negeri ini lenyap!”
Lalu, Mitha maju ke depan, menatap langit dan berkata dengan lantang
“Tidak, bukan tawa yang hilang. Tapi hati yang terluka butuh didengar!”
Dari kejauhan, suara lembah bergema “Biarkan mereka menangis!”
Tiba-tiba, ratusan bunga pelangi bermekaran di tanah istana. Setiap bunga muncul dari air mata warga yang menetes. Tawa berubah menjadi haru, tangis berubah menjadi kelegaan. Kutukan pun sirna. Raja Kocak pun menunduk, suaranya bergetar,
“Aku... aku lupa rasanya menangis sejak putriku pergi. Terima kasih, Mitha. Kau telah mengingatkanku bagaimanamenjadi manusia.”
Awan kelabu sirna, langit kembali bercahaya. Negeri Tertawa Abadi berganti nama menjadi Negeri Harmoni, tempat tawa dan tangis hidup berdampingan. Sebelum kembali ke dunia nyata, Pipit dan Romo Gigi memberikan Mitha kalung berbentuk senyum setengah lengkung, setengah tawa, setengah air mata sebagai simbol keseimbangan perasaan manusia. Dan saat Mitha hendak berpamitan, Raja berkata,
“Bawa pulang pelajaran dari negeri kami. Bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mau memahami duka.”
Ketika Mitha terbangun, ia sudah kembali di meja perpustakaan kampusnya. Laptopnya masih menyala, dan lembar tugasnya masih seperti semula. Tapi kini, ide mengalir deras. Ia langsung menulis:
“Kemanusiaan bukan hanya tentang tertawa bersama, tapi juga menangis bersama. Persatuan bukan berarti semua harus sama, tapi saling memahami perbedaan rasa. Musyawarah bukan hanya mendengar yang lucu, tapi juga yang menyakitkan. Dan keadilan sosial berarti setiap emosi berhak diaku, baik itu tawa maupun air mata.”
Kalimat itu menjadi pembuka karya fiksinya, dan mungkin juga, pembuka bab baru dalam hidupnya, lebih bermakna. Ia tersenyum puas, lalu bergumam,
“Ide sudah dapat. Dan mungkin, hidup pun sedikit”
Setelah itu, Mitha menatap layar laptopnya yang kini penuh dengan kata-kata yang mengalir begitu tulus. Ia menutup laptop pelan, lalu memandangi jendela perpustakaan yang diterpa cahaya sore. Di luar sana, mahasiswa lain tampak sibuk, ada yang tertawa, ada pula yang tampak murung. Namun kali ini, Mitha tak lagi memandang tawa dan air mata dengan cara yang sama. Ia tersenyum kecil dan berkata dalam hati,
“Mungkin dunia ini memang tidak selalu bahagia, tapi justru karena itu... kita bisa saling memahami.”
Ia berjalan keluar dari perpustakaan dan pulang ke kosnya dengan membawa rasa damai yang sulit dijelaskan. Kalung setengah senyum dan setengah air mata yang tadi hanya ada di mimpi, kini tergantung nyata di lehernya, berkilau lembut seolah menjadi pengingat bahwa pengalaman itu bukan sekadar bunga tidur. Langkah Mitha terasa ringan. Ia sadar, tugas akhirnya bukan hanya tentang menulis nilai kemanusiaan, tetapi juga menemukan perasaan dalam dirinya sendiri. Malam itu, sebelum tidur, ia menatap cermin di kamar kosnya. Di sana, bayangan Pipit dan Romo Gigi muncul sekilas, tersenyum sambil berbisik lembut,
“Tertawalah, tapi jangan lupa jadi manusia.”
Air mata haru menetes di pipi Mitha. Ia tersenyum sambil berbisik balik,
“Terima kasih... sudah mengajarkan aku cara tertawa dengan hati.”
Dan di antara hening malam, seolah dari kejauhan terdengar suara tawa kecil yang hangat, bukan tawa kosong, melainkan tawa yang lahir dari jiwa yang telah belajar berdamai untuk memahami luka dan cinta sekaligus.
Nilai Pancasila yang tercermin:
➢ Sila ke-2 (Kemanusiaan): Mitha mengajarkan pentingnya empati dan memahami
perasaan sesama.
➢ Sila ke-3 (Persatuan): Warga Negeri Tertawa Abadi belajar bersatu dalam kebahagiaan dan kesedihan, bukan menolak perbedaan.
➢ Sila ke-4 (Kerakyatan): Musyawarah dan keberanian Mitha berdialog dengan Raja
menunjukkan semangat demokrasi.
➢ Sila ke-5 (Keadilan Sosial): Semua warga akhirnya diperlakukan sama, boleh tertawa
dan menangis tanpa dilarang.
Pesan Moral:
Kebahagiaan sejati tidak lahir dari tawa yang dipaksakan, tetapi dari hati yang tulus menerima setiap rasa (baik suka maupun duka). Persatuan tidak berarti semua harus sama, tetapi saling memahami perbedaan perasaan dan pandangan. Selain itu, keadilan sejati hadir ketika setiap orang diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, ruang untuk tertawa, menangis, dan merasa tanpa dihakimi. Dan pada akhirnya, dari setiap pengalaman, sekecil apa pun, kita bisa belajarmenjadi manusia yang lebih bijak dan berperasaan.
Miftahul Jannah - 25080694188