Platform Digital sebagai Penggerak Pembelajaran Inklusif di Indonesia
Perkembangan teknologi beberapa tahun terakhir benar-benar mengubah cara sekolah dan siswa belajar di Indonesia. Kalau dulu pembelajaran itu identik dengan kelas fisik, papan tulis, dan tatap muka, sekarang banyak sekolah mulai mengandalkan platform digital sebagai bagian dari proses belajar. Yang menarik buat saya adalah bagaimana teknologi ini ternyata tidak hanya mempermudah guru atau membuat pembelajaran lebih modern, tetapi juga benar-benar membuka ruang inklusi yang lebih luas untuk berbagai jenis siswa. Inklusi bukan lagi sekadar konsep yang ditulis dalam dokumen kurikulum, tapi sudah mulai terlihat dalam praktik sehari-hari. Lewat platform digital, akses belajar jadi lebih fleksibel: siswa bisa belajar dari rumah, mengulang materi, atau menyesuaikan tempo belajar sesuai kemampuan masing-masing.
Fenomena ini terlihat jelas dari kebijakan pendidikan beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi. Banyak sekolah memakai aplikasi seperti Merdeka Mengajar, Rumah Belajar, Google Classroom, atau bahkan LMS yang dibuat sendiri oleh sekolah. Yang awalnya terpaksa digital, lama-lama justru jadi kebiasaan baru. Dari sini muncul dampak inklusifnya: misalnya siswa yang punya hambatan belajar bisa menonton ulang video materi tanpa harus malu bertanya berkali
kali. Ada juga fitur teks otomatis yang membantu siswa dengan kesulitan membaca, serta video interaktif yang membuat siswa ADHD lebih mudah fokus. Hal-hal seperti ini sebelumnya hampir mustahil dilakukan kalau hanya mengandalkan metode belajar konvensional.
Yang juga menarik buat saya adalah bagaimana teknologi ini membantu siswa di wilayah 3T. Banyak berita pendidikan di 2024 hingga 2025 menyoroti bagaimana guru-guru di daerah terpencil mulai dilatih untuk menggunakan platform digital agar siswa yang tinggal jauh dari sekolah tetap bisa mengikuti pembelajaran. Misalnya, di beberapa daerah di NTT dan Papua, guru
membuat kelas daring sederhana supaya siswa yang tak bisa hadir setiap hari tetap terhubung dengan materi. Walau sederhana, langkah seperti ini sangat penting untuk mengurangi kesenjangan pendidikan. Dengan teknologi, jarak tidak lagi jadi penghalang besar seperti dulu.
Tapi tentu saja, semuanya tidak berjalan semulus itu. Realitanya, kesiapan sekolah di Indonesia masih sangat berbeda-beda. Ada sekolah yang sudah punya LMS rapi, internet cepat, dan perangkat lengkap. Di sisi lain, banyak sekolah masih berjuang dengan sinyal yang tidak stabil, minimnya perangkat, atau guru yang belum terbiasa dengan teknologi digital. Ini membuat kita sadar bahwa teknologi sendiri tidak otomatis membuat pendidikan lebih inklusif. Harus ada kesiapan guru, dukungan perangkat, dan kebijakan yang benar-benar berpihak supaya pemanfaatan platform digital bisa merata. Kalau tidak, teknologi malah bisa memperlebar gap antara sekolah yang maju dan sekolah yang tertinggal.
Meski begitu, saya pribadi cukup optimis bahwa arah pendidikan Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar. Platform digital memberi peluang besar untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tidak semua siswa punya cara belajar yang sama, dan teknologi memberi ruang bagi perbedaan itu. Ketika siswa bisa belajar dari berbagai format, mengatur ritme belajar sendiri, atau tetap terhubung meskipun jauh secara geografis, di situlah inklusi benar-benar terasa. Tantangannya memang masih banyak, tapi selama pemerintah, sekolah, dan guru terus beradaptasi, teknologi bisa menjadi salah satu kunci penting untuk mewujudkan pendidikan yang lebih setara bagi semua.
https://www.detik.com/edu/edutainment/d-8017218/bakti-komdigi-beri-pelatihan-tik-untuk ribuan-penyandang-disabilitas
https://bbgtkdiy.kemendikdasmen.go.id/berita/2025/11/18/percepat-transformasi-pendidikan presiden-luncurkan-digitalisasi-pembelajaran-untuk-288-ribu-sekolah
https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13863-semangat-baru-siswa-slb-negeri-tritura-karena belajar-menggu
Argya Arkananta Kamari - 25010024034