Raizan di Tempat yang Tepat
Raizan, anak ceria yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia suka bermain balok sejak kecil. Dia merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya yang bernama Ihram dan Kia. Mereka hidup dengan harmonis di Desa Mawar. Tepat pada tanggal 19 Juli 2022, Raizan naik kelas ke TK B. Pada saat TK B ada suatu perbedaan yang muncul dalam dirinya.
Di kelas, teman-teman Raizan sudah mulai bisa membaca huruf. Bahkan Ada Yang sudah bisa membaca. Ketika gurunya memberikan soal tanya jawab huruf, teman-temannya langsung angkat tangan dan menjawab pertanyaan dari gurunya. Namun Raizan hanya terdiam di bangkunya sambil menatap papan tulis. Gurunya Yang melihat hal itu langsung menghampiri Raizan.
“Raizan kenapa? Raizan sakit?,” tanya gurunya.
“Tidak Bu,” jawab Raizan.
“Ibu jelaskan pelan-pelan lagi ya,” ujar guru Raizan.
Raizan hanya mengangguk. Akhirnya guru Raizan menjelaskan ulang secara pelan-pelan. Namun Raizan tetap bingung dan wajahnya seperti kesulitan untuk memahami huruf abjad.
Beberapa minggu berlalu, ternyata kesulitan itu semakin terlihat. Raizan Bukan tidak mau belajar, dia hanya perlu waktu lebih lama dibanding teman-temannya untuk memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Dia juga sering terlihat kebingungan saat mengerjakan tugas yang berkaitan dengan huruf atau angka. Melihat hal itu, wali kelas Raizan memutuskan untuk memanggil orang tuanya ke sekolah agar dapat membicarakan hal tersebut dengan lancar.
Keesokan harinya, orang tua Raizan datang ke sekolah dan menemui wali kelas Raizan.
"Pak, Bu... sepertinya Raizan perlu dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut mengenai kondisinya. Saya khawatir ada suatu hal yang membuatnya sulit belajar,"ujar wali kelasnya.
Mendengar ujaran tersebut, orang tua Raizan kaget, tidak mengira bahwa perasaan mereka kepada Raizan selama ini ternyata benar. Dari kecil, orangtua Raizan sudah merasakan bahwa anaknya memiliki perbedaan dari anak kecil umumnya, tetapi mereka belum tau apa yang membuat Raizan berbeda. Mau tidak mau, mereka harus membawa Raizan ke dokter spesialis agar tumbuh kembangRaizan tidak terhambat apapun dan bisa berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa kali pemeriksaan dan observasi, dokter menjelaskan bahwa Raizan mengalami slow learner. Perkembangannya sedikit terlambat dibanding teman-temannya sehingga Raizan memerlukan waktu yang lebih lama dan membutuhkan cara belajar yang berbeda. Orang tua Raizan sedih ketika mengetahui hasil pemeriksaannya. Mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan pahit itu. Mereka berdiskusi tentang kehidupan Raizan setelahnya.
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memindahkan Raizan ke SLB Tirta Persada demi kemajuan putranya, Raizan. Di sana, Raizan dapat berkumpul dengan teman-teman yang sepertinya. Raizan juga dapat belajar sesuai kemampuan dan kebutuhannya sehingga tidak takut untuk ketinggalan materi. Berbeda dengan sekolah umum, di SLB tidak ada tuntutan bahwa Raizan Harus cepat memahami atau memiliki kemampuan yang setara dengan teman temannya.
Hari pertama Raizan masuk SLB, dia tampak canggung karena disana dia bertemu dengan teman-teman ABK atau penyandang disabilitas yang lain. Suasana Ruang kelasnya berbeda seperti di sekolah umum. Ruang kelas di SLB Tirta Persada Tampak lebih kecil dibandingkan dengan sekolah Raizan sebelumnya. Jumlah murid di setiap kelasnya juga lebih sedikit dan mereka juga dikelompokkan agar dapat belajar sesuai dengan kemampu dan kebutuhan masing-masing. Meskipun awalnya Raizan merasa canggung, lama kelamaan dia mulai merasa nyaman. Rasa nyaman itu
timbul karena gurunya yang memiliki sifat sabar dan tidak tergesa-gesa saat menyampaikan materi.
Hari demi hari berlalu, perubahan dari Raizan sedikit demi sedikit mulai terlihat. Raizan mulai mengenali huruf abjad dan membaca kata sederhana seperti "buku", "dadu", "kaki", dan sebagainya. Setiap dia berhasil membaca dengan benar, dia tampak senang. Gurunya terus memberikan laporan mengenai perkembangan Raizan selama di SLB. Mendengar Raizan yang sudah bisa membaca, orang tuanya merasa terharu dan senang. Pilihan mereka untuk memindahkan Raizan di SLB adalah pilihan yang tepat. Jika Raizan tidak dipindahkan maka dia akan tetap kesulitan untuk memahami semuanya.
Di rumah, Raizan juga belajar dengan orang tuanya. Terkadang, orang tua Raizan memberikan apresiasi berupa mainan atau buku membaca setelah dia berhasil mencapai target pembelajaran. Hal itu juga menumbuhkan semangat bagi Raizan Untuk terus belajar dengan rajin. Tidak hanya bisa membaca, dia juga sudah bisa menulis kata sederhana.
Orang tua Raizan menyadari suatu hal bahwa setiap anak memiliki tahap perkembangannya masing-masing. Tidak bisa dibanding-bandingkan dengan yang lain. Bagi mereka, yang paling penting adalah tempat atau lingkungan yang nyaman untuk Raizan berkembang.
Oleh: Anabel Aurelia Silvani_25010024048