Rapat di Balik Warung Kopi
Di pojok kampung Cempaka, ada sebuah warung kopi kecil milik Pak Bowo. Meja kayunya tua, tapi justru di sanalah segala urusan kampung diselesaikan, mulai dari gosip sampai keputusan penting. Hari itu, suasana agak berbeda. Beberapa warga berkumpul di warung. Di tengah mereka, ada tumpukan kertas rencana pembangunan pos ronda baru.
“Kalau mau bikin pos ronda, harus di tanah lapang dekat jalan utama,” kata Rizal, pemuda yang baru pulang kuliah.
“Biar gampang diawasi.”
“Tapi itu kan tanahnya Bu Lela,” timpal Pak Darto, petani tua.
“Dia nggak mau kalau lahannya dipakai.”
Suasana jadi makin panas. Beberapa orang mulai saling potong bicara, dan suara yang tadinya pelan berubah jadi riuh. Sendok yang beradu dengan gelas terdengar lebih keras dari biasanya. Bau kopi hitam bercampur dengan asap rokok yang mulai menebal di udara, membuat ruang sempit itu terasa sesak.
“Tapi, Pak, kalau kita terus nunggu izin, kapan kampung ini maju?” kata Rizal sambil menepuk meja.
“Maju bukan berarti semaunya sendiri!” balas Pak Darto dengan nada tinggi.
“Kita ini hidup bareng, bukan di kota tempat kamu belajar ngomong aturan!”
Beberapa warga ikut bersuara. Ada yang membela Rizal, ada juga yang setuju dengan Pak Darto. Di tengah keramaian itu, ada yang tertawa canggung, ada yang cuma diam menatap meja, tak berani ikut bicara. Suasana warung yang biasanya hangat berubah jadi seperti tempat debat kecil. Pak Bowo yang sedari tadi sibuk menyeduh kopi akhirnya menaruh cangkirnya dan bicara pelan tapi tegas.
“Dulu, waktu kita bangun mushola, juga ribut begini. Tapi waktu itu kita duduk dulu, minum, denger satu-satu. Hasilnya semua senang.”
Ia lalu menatap Rizal.
“Kamu muda, idemu bagus. Tapi dengarkan juga yang tua-tua. Yang tua mungkin lambat, tapi mereka tahu kenapa kampung ini bisa rukun sampai sekarang.”
Kata-kata itu menurunkan tensi seketika. Suara hujan kecil di luar mulai terdengar, menambah dingin suasana. Rizal memalingkan wajah, sementara Pak Darto hanya menarik napas Panjang pelan-pelan. Semua sadar, bukan rencana pos ronda yang bikin suasana panas, tapi kepala mereka sendiri. Akhirnya, mereka sepakat memanggil Bu Lela untuk diajak bicara langsung. Tak lama, Bu Lela datang. Ia sempat ragu, tapi setelah mendengar bahwa tanahnya hanya akan dipakai sebagian dan akan dijaga bersama, ia tersenyum.
“Kalau untuk keamanan kampung, ya silakan. Asal jangan buang sampah sembarangan di sekitar situ,” katanya.
Semua tertawa lega. Pak Bowo menuangkan kopi ke tiap gelas, lalu berkata,
“Begini enaknya kalau urusan diselesaikan pakai kepala dingin, bukan pakai suara keras.”
Sore itu, rencana pos ronda disetujui, bukan lewat voting atau debat panjang, tapi lewat obrolan sederhana di warung tua, dengan kopi dan niat baik yang menenangkan.
Nilai yang Terkandung:
Cerita ini mencerminkan sila keempat Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Nilainya tergambar dari bagaimana warga kampung menyelesaikan perbedaan pendapat lewat musyawarah yang menghargai pendapat muda dan tua, tanpa emosi dan tanpa paksaan. Musyawarah yang dilakukan di warung kopi menunjukkan bentuk demokrasi rakyat yang sebenarnya sederhana dan terbuka, sertaberlandaskan rasa saling menghormati.
Fathekha Suci Tania W - 25080694302